Disetrika dan Hendak Diperkosa, 80 PMI Berhasil Dipulangkan

Ilustrasi Pekerja Migran Indonesia

RADARCIANJUR.com – Sebanyak 80 pekerja migran Indonesia (PMI) bermasalah berhasil dipulangkan Forum Perlindungan Migran Indonesia (FPMI) DPD Cianjur. Dominasi permasalahan rata-rata tak bisa pulang dengan gaji belum dibayar, sakit, mengalami kekerasan fisik maupun psikis dan hilang kontak.

Ketua FPMI DPD Kabupaten Cianjur, Dhani Rahmad mengatakan, 80 penanganan kasus dimaksud telah selesai dilakukan sejak 2018 sampai dengan 2019.

“Kami berdiri 8 Agustus 2018 untuk penanganan PMI, sudah 80 orang yang diselesaikan permasalahannya. Kasus yang berat diantaranya adalah tak ada kabar tujuh sampai 10 tahun,” kata Dhani ditemui di kantor DPD FPMI Kabupaten Cianjur di Puri Limbangan, Desa Cikaroya, Kecamatan Warungkondang, Kamis (11/7).

Ia mengatakan, dari 80 PMI yang bermasalah tersebut, sebanyak 70 persen berasal dari Cianjur. Sisanya dari Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat, Garut dan Purwakarta. “Kami berusaha tangani jika mengadu ke sini,” katanya.

Menurutnya, FPMI Cianjur memulangkan TKI yang bermasalah secara mandiri. Mulai dari negosiasi sampai dengan penjemputan. “Sebagian memang berangkat ilegal, sebagian resmi atau sudah terlalu lama menunggu,” ujarnya.

Dhani menjelaskan, rata-rata 70 persen PMI yang bermasalah tersebut berada di kawasan Timur Tengah yang sudah dimoratorium. “Kasus kekerasan yang kami tangani sempat ada yang disetrika atau patah kaki akibat meloncat karena mau diperkosa majikannya,” kata Dhani.

Setelah memulangkan PMI bermasalah, sambungnya, pihaknya akan melakukan pembinaan demi berkurangnya tindak pidana TPPO.

“Arah pembinaannya kami akan lebih kepada kesejahteraan, jangan sampai terjerat berangkat menjadi PMI ilegal, masih banyak yang berangkat secara ilegal ke Timur Tengah, kami adakan sosial kontrol untuk perlindungan migran bekerja sama dengan Disnakertrans,” katanya.

Dhani mengungkap, kebanyakan alasan warga berangkat menjadi PMI ilegal karena terbentur masalah ekonomi hingga menempuh jalan pintas. Baru-baru ini, pihaknya juga berhasil memulangkan PMI atas nama Entin Tina (38), asal Kampung Pasirputih RT 03/02, Desa Margaluyu, Kecamatan Campaka.

Entin merupakan TKI yang bekerja di Yordania dan tidak bisa pulang karena ditahan sang majikan hingga 10 tahun. “Sebelumnya keluarga Entin ini datang ke kantor FPMI minta tolong bahwa Entin ini mau pulang tapi ditahan oleh majikannya di Yordania,” kata Dhani.

Mendapat aduan tersebut, pihaknya lantas berupaya menghubungi konsulat di Yordania. Setelah melalui proses panjang, akhirnya Entin pun bisa pulang dan kembali tinggal bersama keluarganya di Campaka.

Pihaknya sempat kesulitan melacak Entin katena PPTKIS yang memberangkatkannya sudah tutup. “Meskipun demikian, kami terus berupaya berkoordinasi dengan KBRI Yordania dan pada akhirnya Entin pun bisa pulang,” katanya.

Suami Entin, Suparman (40) mengatakan, pihaknya beserta keluarga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan semua pihak yang telah membantu kepulangan istrinya.

“Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada FPMI,” katanya.

(dil)