Kembangkan Pariwisata dan Kabudayaan

Menelisik Sosok Adelia Septa Maharani

RADARCIANJUR.com– ADELIA Septa Maharani merupakan putri asli daerah Cianjur yang besar dan menimba ilmu di Cianjur, tepatnya di SMAN 1 Cianjur. Diamana saat ini Ia berkesempatan mengikuti ajang bergengsi mojang dan jajaka (MOKA) mewakili Kabupaten Cianjur ke tingkat Jawa Barat.

GADIS kelahiran Tahun 1998 ini sudah mengikuti moka pada Tahun 2013 dan baru terpilih mewakili Jawa Barat pada tahun sekarang.

“Pasti senang sekali karena mengikuti ajang seperti ini banyak sekali tantangannya,” tuturnya.

Motivasi dirinya mengikuti ajang MOKA adalah ingin memahami dan mendalam pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Cianjur, serta ingin menjadi roll model bagi pemuda-pemudi di Cianjur maupun Jawa Barat.

“Saya ingin mengembangkan pariwisata dan kebudayaan Provinsi Jawa Barat yang bagus dan banyak dikembangkan. Karena siapa lagi kalau bukan kita sebagai generasi penerus bangsa yang akan mengembangkannya,” terangnya.

Pariwisata dan kebudayaan di Kabupaten Cianjur sangat bagus dengan adanya tujuh pilar kebudayaan dan tiga diantaranya adalah ngaos, maos dan maenpo yang menggambarkan orang-orang cianjur, misalkan ngaos ramah tamah, someah, maos menggambarkan orang-orang cianjur memiliki kesenian yang kuat, dan maenpo menggambarkan orang-orang Cianjur yang berani.

Dara alumni SMAN 1 Cianjur ini memaparkan, untuk penyeleksian sendiri cukup ketat. Pasalnya, ada sepuluh pasang mojang dan jajaka kemudian akan dipilih yang terbaik, dimana pada ajang bergengsi ini akan dilihat dari segi prestasi dan lainnya.

“Kebetulan saya ikut moka tahun 2013 dan baru terpilih mewakili Jawa Barat tahun sekarang. Untuk penyeleksian sendiri terbagi dua macam yakni moka untuk tingkat anak-anak dan moka untuk tingkat dewasa. Nah, saya yang dewasanya,” paparnya.

Adel menambahkan, program kinerja dirinya jika terpilih dalam ajang tersebut diantaranya ingin membantu lansia khususnya pengemis dengan memberikan bantuan modal usaha. “Alhamdulillah, saya tergabung dengan komunitas sosial ketimbang mengemis Bandung dan Komunitas One Day One Car,” pungkasnya.

(riz)