Musim Kemarau, Harga Cabai Naik Hingga 200 Persen

SERBA MAHAL: Sepakan pasca lebaran, harga sejumlah sayuran tetap mahal khususnya bawang putih dan cabai. FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Memasuki musim kemarau, sejumlah harga komoditas sayuran seperti sawi daging, wortel, dan beberapa sayuran lainnya mengalami harga yang cukup tinggi. Kini, kenaikan harga juga dialami cabai, seperti cabai merah dan cabai rawit.

Salah seorang petani cabe dan sayuran di Cipanas, Cep Busyol mengatakan, kenaikan harga tersebut sudah terjadi beberapa waktu usai masuknya musim kemarau di sejumlah daerah. Pasalnya, kemarau membuat pasokan air menjadi berkurang. Akibatnya, kualitas sayuran dan cabe mengalami penurunan.

Salah satunya adalah cabe merah. Dari semula seharga Rp10.000 per kilogram, kini sudah menginjak angka Rp30.000 per kilogram. Artinya, kenaikan harga mencapai 200 persen.

Sedangkan untuk wortel, semula dihargai Rp2000 per kilogram, kini sudah menjadi Rp7000 per kilogram. “Itu baru harga di petani ke tengkulak. Belum nanti harga di pasar tradisional. Biasanya dua kali lipat dari harga di petani,” kata Busyrol.

Sayangnya, kendati harga dari petani mengalami kenaikan, harga tersebut belum cukup menguntungkan. Sebab, jika dihitung-hitung, pendapatan dari penjualan sebanding dengan pengeluaran petani untuk membeli bibit dan pupur serta biaya operasional dan perawatan setiap harinya.

“Iya kalau dihitung-hitung sama saja antara pendapatan dengan pengeluaran. Jadi tidak begitu berdampak juga,” ungkapnya.

Ia berharap, baik pemerintah daerah dan dinas terkait, bisa lebih membantu menanggulangi terhadap harga bibit dan pupuk serta obat-obatan bagi sayuran. Pasalnya, selama ini program yang dicanangkan pemerintah pusat seperti ‘Kartu Tani’, belum bisa dipergunakan bahkan belum ia dapat.

“Jika dibandingkan dengan biaya operasional, para petani masih mengeluh. Bahkan kebanyakan petani di Cipanas, sekarang lebih memilih menjadi kuli bangunan atau kerja yang lain, daripada memilih jadi petani,” tukasnya.

Terpisah, Hadi (40), salah seorang pedagang sayuran di Pasar Cipanas mengatakan, harga sayuran pada beberapa minggu saat ini memang sedang naik. Kanaikan harga itu dipicu karena faktor kurangnya ketersediaan komoditi tersebut di beberapa agen atau tengkulak.

“Mungkin karena sekarang sedang kurangnya pasokan air di lahan petani, menjadi beberapa komoditi seperti cabe-cabean jadi tak diproduksi,” kata Hadi.

Harga yang ia jual saat ini, khususnya cabe-cabean cukup tinggi. Dari semula Rp18.000 per kilogram, kini bisa mencapai Rp55.000 mhingga Rp60.000 per kilogram. Ditambah cabe rawit hijau dari harga Rp20.000 per kilogram, kini dijualnya dengan harga Rp60.000 per kilogram.

“Kenaikannya memang gak secara langsung, tapi bertahap. Mulai naik sepuluh ribu, hingga Rp15.000 tiap minggunya,” jelas Hadi.

Menurutnya, harga yang terjadi juga cukup berdampak kepada daya beli masyarakat. Terlebih, kepada para pembeli seperti tukang bakso, rumah makan, tukang seblak, dan para pedagang lain yang jelas-jelas menggunakan bahan baku cabe.

“Karena kan mereka (pembeli, red) yang setiap hari menggunakan cabe-cabean, pastinya cukup mengeluh. Apalagi untuk pedagang rumah makan, yang otomatis menyediaan sambel secara gratis,” kata Hadi.

Ia berharap, pemerintah dan dinas terkait, bisa lebih memperhatikan harga jual saat ini. Apalagi bagi para petani, karena memang bukan menjadi untung, bahkan menjadi rugi bagi para pembeli cabe-cabean.

“Kasian juga lah kang, karena cabe itu, sangat dibutuhkan sekali di setiap pembeli baik ibu rumah tangga, maupun pedagang,” pungkasnya.

(dan)