25 Hektar Sawah di Kadupandak Gagal Panen

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Tak kurang dari 2 hektare lahan sawah milik petani di Kecamatan Kadupandak mengalami puso atau gagal panen yang diakibatkan kemarau. Akibatnya, para petani mengalami kurugian cukup besar.

Keringnya lahan sawah tersebut tersebar di tiga kampung, yakni Kampung Tipar, Kampung Pojok dan Kampung Cisarua, Desa Sukaraharja, Kecamatan Kadupandak.

Hal itu dibenarkan Samsudin (40), salah seorang petani setempat yang mengaku sawahnya mengalami kekeringan akibat tak adanya pasokan air. Bahkan, kekeringan pun membuat tanah sawah menjadi pecah-pecah dan padi tak bisa dipanen.

“Umur padi rata-rata masih sekitar satu bulanan. Jadi sudah tidak bisa dipanen,” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Samsudin menuturkan, dari tiga kampung tersebut, total lahan sawah yang kekeringan mencapai 25 hektare. Rinciannya, 18 hektare di Kampung Tipar, lima hektare di Kampung Pojok, dan sekitar dua hektare di Kampung Cisarua.

“Total dari tiga kampung itu sawah yang kekeringan berjumlah 25 hektare,” katanya.

Dihubungi terpisah, Kabid Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Henny Iriani menuturkan, berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, gagal panen yang dialami para petani di wilayah dimaksud terjado lantaran faktor alam.

“Ada baiknya, sebelum memulai menanam padi, lebih baik petani berkonsultasi dulu dengan petugas terkait perkembangan terbaru cuaca dan perkiraan musim,” tuturnya.

Berdasarkan catatan dari Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), diperkirakan puncak musim kemarau tahun ini ada pada bulan Agustus. “Kalau dari prakiraan ya seperti itu,” lanjutnya.

Untuk meminimalisir kerugian akibat gagal panen, pihaknya menyarankan agar petani ikut menjadi peserta Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Pasalnya, jika mengalami gagal panen, petani bisa mendapat klaim asuransi sampai dengan Rp6 juta per hektare.

“Bisa daftar ke Jasindo dengan kewajiban pembayawan asuransi yang hanya Rp36.000 per hektare,” saran dia.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Muhamad Nano menyatakan, kekeringan akibat musim kemarau sejatinya tidak hanya dialami di Kabupaten Cianjur saja, melainkan juga di berbagai wilayah di Jawa Barat.

“Sudah ada informasi, seperti data dampak kekeringan lahan sawah di Jawa Barat, itu sumber dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jawa Barat,” katanya.

Terkait kekeringan yang melanda sawah, terangnya, jika memang masih ada sumber air yang cukup, masih dimungkinkan dilakukan pompanisasi sebagai tindakan penyelamatan tanaman padi.

Akan tetapi, jika memang sudah tidak memungkinkan untuk menanam padi, petani juga jangan memaksakan diri. Ada baiknya, petani beralih menanam jenis tanaman lainnya.

“Sementara bisa tanam dengan palawija atau sayuran lahan kering,” jelasnya.

(mat)