Ada Perpeloncoan Segera Lapor!

BERDIRI TEGAP: Puluhan siswa atau peserta didik bari di SMP 1 Haurwangi mengenakan topi kerucut bak petani berbaris mendengarkan arahan dari dewan guru. FOTO: RISMA/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Senin (15/7) setiap peserta didik baru sudah masuk ke sekolah dalam rangka mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Di hari pertama, tak sedikit orang tua dan buah hatinya yang sudah datang sejak pagi hari pukul 06:00 WIB mendahului dewan guru.

Hari pertama masuk sekolah ini digelar secara serentak di Indonesia. Tak terkecuali di Kabupaten Cianjur, orang tua siswa diimbau untuk mengantarkan anaknya kesekolah serta bersalaman kepada guru barunya meskipun sehari dalam satu tahun. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Oting Zainal Muttaqin mengajak orang tua siswa untuk mengantarkan anaknya ke sekolah pagi.

Pasalnya, agar untuk bersalaman dengan guru barunya di sekolah dan berkenalan dengan guru barunya tersebut. Menurutnya, hari pertama anak masuk ke sekolah merupakan momentum yang sangat berharga bagi anak. “Biasanya anak di hari pertama masuk sekolah suka malu-malu dan diam karena baru mengenal lingkungan barunya itu. Sehingga orang tua harus bisa menemani anaknya di sekolah dengan tujuan agar anak tersebut memiliki rasa semangat untuk sekolah,” katanya.

Pantauan Radar Cianjur di SDN Nagrak, sejak pukul 06:00, sekolah sudah dipenuhi orang tua wali siswa. Kendati demikian, Kepala SDN Nagrak, Heryani menuturkan, bahwa tidak ada orang tua siswa yang mengantarkan anaknya datang ke sekolah subuh. Mereka mengantarkan anaknya datang kesekolah pagi sekitar pukul 06.00 WIB. “Di sini tidak ada yang datangnya subuh. Orang tua maupun siswa baru datangnya pagi sekitar pukul 06.00 WIB karena yang bersekolah di sini untuk lokasi pada dekat, seperti di daerah Cageundang, Cikukulu dan Perumahan BTN Pesona Cianjur Indah,” tuturnya.

Sedangkan untuk jumlah Peserta Didik Baru tahun pelajaran 2019/2020 adalah sebanyak 70 orang dengan jumlah rombongan belajar (rombel) dua kelas dan setiap kelas diisi dengan 35 orang siswa per kelas. ” Alhamdulillah kami juga di tahun ajaran baru ini kedatangan guru baru mutasi sekitar dua orang dan kami pun masih kekurangan guru yakni sebanyak dua orang guru. Sehingga menunggu guru baru untuk mengajar siswa nanti,” ujarnya.

Ketua PGRI Kecamatan Haurwangi, Sutarko menambahkan, pihaknya beserta rekan guru yang tergabung ke dalam pengurus cabang PGRI Haurwangi sangat menyambut baik kedatangan siswa baru yang ada di wilayah Kecamatan Haurwangi.

Dewan guru diharapkan semuanya dapat bersikap baik dan juga dapat menyambut dengan baik siswa baru. Mereka adalah calon generasi baru yang harus diberikan didikan yang baik. “Alhamdulillah sejauh ini berdasarkan pantauan tidak ada sama sekali dan semuanya berjalan dengan kondusif. Hanya saja saja dalam MOS di SMP ada yang unik yakni siswa memakai topi kerucut terbuat dari kertas atau koran dan tasnya terbuat dari karung dan kantong kresek,” pungkasnya.

Sementara itu, di hari pertama masuk sekolah, Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman menyempatkan diri mengantar salah satu murid dari warganya ke sekolah dengan berjalan kaki.

Adalah Fauzan Gozali siswa Kelas 6B SDN Ibu Dewi 6 Cianjur yang diantar ke sekolah langsung oleh orang nomor 1 di Cianjur ini. Fauzan adalah anak yatim, putra dari pasangan almarhum Tosin Gozali dengan Ida Royani warga Kampung Joglo RT03/RW05 Kelurahan Sawahgede, Kecamatan Cianjur.

Dalam kesempatan itu, Bupati berpesan kepada para siswa dan siswi untuk manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab dengan belajar yang baik akan mendapatkan prestasi yang baik pula sehingga apa yang dicita-citakan mudah tercapai.

Kegiatan Ngabring ka Sakola (Ngabaso) pada hari pertama anak sekolah diharapkan dapat menjalin komunikasi yang lebih baik antara orang tua, guru dan anak. “Jadilah anak kebanggaan keluarga dan lingkungan masyarakat. Jangan lupa selalu hormat pada orang tua dan guru serta sayang sama teman,” pesan Bupati di hadapan para murid, orang tua dan dewan guru di SDN Ibu Dewi 6 ini.

MPLS atau Masa Orientasi Siswa (MOS) yang akrab didengar masyarakat tidak boleh dilaksanakan dengan kekerasan fisik terhadap murid baru atau peserta MPLS. Demikian dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy saat memantau MPLS di beberapa sekolah di Kabupaten Tangerang, Senin, (15/7).

Muhajir mengatakan MPLS penting bagi para peserta didik baru. Pasalnya, MPLS tidak hanya pengenalan siswa baru terhadap lingkungan sekolahnya saja, di momen MPLS ini para siswa akan bertemu dengan teman baru, kakak kelas dan para guru. “Jadi MPLS jangan dikait-kaitan dengan seolah-olah penyiksaan fisik yang di luar batas, dan jangan sampai kejadian yang lalu-lalu terulang kembali,” katanya.

Menurut Muhajir, di MPLS ini juga perlunya peran orang tua dalam mengantarkan anaknya ke sekolah. Karena, dihari pertama ini sangat berpengaruh sekali kepada mental sang anak.
“Saya berpesan kepada para orang tua murid agar mengantarkan anaknya di hari pertama masuk sekolah ini, karena itu juga merupakan salah satu pengenalan lingkungan sekolah juga. Jadi biar mental anaknya juga kuat dan kerasan di sekolahnya yang baru,” imbau Muhajir.

Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Jawa Barat Wilayah XI melarang SMA dan SMK melakukan perpeloncoan dalam MPLS kepada siswa baru.

Kepala KCD Pendidikan Jawa Barat Wilayah XI, Asep Sudarsono, mengatakan, petunjuk teknis MPLS sudah disosialisasikan ke semua sekolah. Bila ditemukan ada sekolah yang masih mengadakan aksi perpeloncoan kepada siswa baru, maka akan diberikan sanksi.

“Beritahu kami kalau masih ada (sekolah) yang kasih tugas tak realistis. Nanti akan kami beri tindakan,” ujarnya usai memantau MPLS di SMKN 1 Garut, Jalan Cimanuk, Kabupaten Garut, Senin (15/7).

Menurut Asep, tugas yang tak realistis tersebut seperti memberi tugas menggunakan kaso kaki berbeda warna, mengumpulkan beberapa butir beras atau kacang dan yang lainnya. “Itu semua sudah dilarang. Apalagi sampai pakai pita yang banyak atau tali rapia untuk sabuk. Kaos kaki sebelah-sebelah, kiri merah, kanan putih. Kalau masih ada yang begitu lapor ke kami,” ucapnya.

Asep menyebut, tujuan MPLS untuk membuat siswa beradaptasi dan mengenal lingkungan sekolah, jangan dijadikan ajang balas dendam. Karena itu pihaknya akan memberikan teguran ke pimpinan sekolah jika masih ada perpeloncoan. “MPLS itu biar anaknya nyaman saat pertama sekolah. Maka itu, tidak boleh lagi ada aksi perpeloncoan,” paparnya.

(riz)