Derita Siswa SMP PGRI 2 Cibeber Tak Miliki Gedung Sekolah

SEADANYA: Sejumlah siswi PGRI 2 Cibeber setiap hari terpaksa bersekolah tanpa meja dan kursi di ruang kelas yang menumpang di SDN 2 Cimanggu. FOTO FADILAH MUNAJAT/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Bersekolah lazimnya berada di deretan bangunan dengan ruang-ruang kelas yang dilengkapi meja-kursi, papan tulis dan berbagai fasilitas kelengkapan proses belajar-mengajar lainnya. Namun hal itu tak siswa-siswi SMP PGRI 2, Cibeber. Pasalnya, sekolah mereka tak memiliki gedung sendiri dan terpaksa menumpang di gedung milik SDN 2 Cimanggu. Kondisi makin rumit setelah Dinas Pendidikan Cianjur melalui surat edarannya melarang sekolah swasta menggunakan fasilitas milik sekolah negeri. Alhasil, siswa-siswi sempat dipaksa belajar di rumah-rumah warga dan aula desa.

Laporan: Fadil Munajat, CIBEBER

Siang itu, seorang guru berdiri di depan puluhan siswa-siswinya yang duduk di lantai. Sang guru yang tengah menyampaikan materi pelajara itu, sesekali menyelipinya dengan melontarkan candaan yang memicu para siswanya untuk tertawa kecil.

Meja pun hanya terdapat dua buah dengan beberapa kursi yang sudah rusak dan usang dan tergeletak begitu saja di sisi ruangan dengan cat yang sebagaian besar sudah mengelupas itu.

Itu adalah kondisi yang terpaksa didapat 47 siswa SMP PGRI 2 Cibeber klas 8 saban hari mereka menuntut ilmu. Sedangkan 63 siswa klas 9 yang berjumlah 63, terpaksa harus duduk berdesakan di ruangan kelas lain.

Lebih miris lagi, ratusan siswa itu masih menumpang di gedung SDN Cimanggu 2 karena belum memiliki bangunan sekolah. Tak hanya itu, para siswa juga terancam setelah Dinas Pendidikan Cianjur memberikan surat edaran yang menyebutkan bahwa sekolah swasta tak diperbolehkan menggunakan fasilitas sekolah negeri.

Elsa Ramadani, salah seorang siswi klas 9 mengatakan, bersekolah dengan menumpang di gedung milik sekolah lain dan tanpa kursi memang terkadang membuat kegiatan belajarnya tak nyaman di sekolah.

“Kami ingin sekali bangunan baru lengkap dengan kursi dan meja, tapi kondisi seperti ini juga kami masih bersyukur bisa belajar di sekolah yang dekat dengan rumah,” ujar Elsa, ditemui di SDN Cimanggu 2, Rabu (17/7).

Elsa mengatakan, meski sebentar lagi lulus, namun ia berharap adik kelasnya nanti bisa menikmati proses belajar selayaknya pelajar di SMP lainnya yang memiliki kursi, meja, dan papan tulis.

Hal senada dikatakan Rizki Ramadani, siswa klas 9 lainnya. Menurutnya, ia sudah lama berharap ada ruang kelas yang memadai untuk kegiatan belajar.

“Saya harap ada yang melihat kondisi kami di sini. Meski terkadang teman-teman tak mengeluh, tapi rasanya sudah lama sekali kami belajar duduk di lantai,” ungkap Rizki.

Sementara Ridwan (26), salah seorang guru honorer di SMP PGRI 2 mengaku, terpacu semangatnya untuk mengajar meski dalam kondisi menumpang di SDN Cimanggu 2 dengan ruangan kelas yang tanpa dilengkapi kursi dan meja dan papan tulis.

Ridwan yang merupakan putra daerah tersebut, sudah empat tahun mengajar dan dibayar Rp1,2 juta per tiga sampai empat bulan sekali.

“Tapi saya tak melihat itu, saya melihat semangat adik-adik ini untuk belajar, saya ingin memajukan daerah saya sendiri, menyemangati mereka yang ingin belajar agar tak putus sekolah,” kata Ridwan.

Kepala Sekolah SMP PGRI 2, Ece Zaenal Abidin menyadari kondisi sulit yang dialami siswa-siswinya itu. Ditambah dengan keluarnya surat edaran dari Disdik Cianjur tentang larangan menggunakan fasilitas sekolah negeri, seolah-olah para siswa diusir kendati para siswa masuk siang setelah siswa SD bubar.

“Sepengetahuan saya tidak ada Undang-undang yang melarang sekolah swasta untuk menempati SD sementara. Malahan saya lihat di Permendikbud 2014, apabila sekolah belum memiliki bangunan bisa menempati gedung pemerintah, dengan catatan paling lama 10 tahun,” ujarnya.

Ia mengatakan, karena keluarnya surat edaran Disdik pada Mei lalu itu, alhasil siswa terpaksa belajar di rumah warga, terkadang di madrasah, dan aula desa.

“Kondisi ini sangat membingungkan kami di tengah kami sedang berjuang untuk mengajukan pembangunan sekolah baru,” kata Ece.

Namun setelah berembuk dengan komite sekolah, kegiatan belajar mengajar disepakati kembali ke SDN Cimanggu 2, di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber.

“Menumpang di bangunan sekolah juga kami bayar setiap tahunnya, sesuai dengan yang disepakati kepala SDN Cimanggu 2 yang terdahulu,” kata Ece.

Ece bersyukur ada wakil rakyat terpilih yang menjamin agar kegiatan belajar ratusan siswa diteruskan mengingat semangat para siswa agar jangan sampai putus sekolah.

“Sempat ada siswa yang putus asa dan ingin berhenti sekolah karena suasana ini, tapi alhamdulilah ada penjamin kami,” kata Ece.(**)