Raisya Tak Bisa Sekolah, Ini Kata Disdikbud Cianjur

PERLENGKAPAN BARU TAK TERPAKAI: Raisya Nur Apriliani (7) hanya punya satu keinginan saat ini yaitu bisa masuk sekolah SD. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Peristiwa Raisya yang terancam tak mengemban pendidikan selama satu tahun ini mengundang perhatian dari segenap pihak. Seiya sekata, baik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Cianjur hingga Pengamat Pendidikan dan Dewan Pendidikan sepakat akan mengusahakan Raisya untuk masuk sekolah tahun ini.

Kabid SD Disdikbud Kabupaten Cianjur, Agus Supiandi mengungkapkan, bagaimanapun caranya, Raisya wajib diterima untuk sekolah. Menurutnya, jika hanya karena keterlambatan, bersekolah masih bisa diusahakan. “Wajib itu diterima pihak sekolah, bagaimanapun caranya,” tegasnya.

Beberapa langkah pun akan ditempuh untuk membantu Raisya. Pihaknya berencana akan menyambangi kediaman Raisya. Tak hanya itu, sekolah yang menjadi tujuan anak yang kini berusia tujuh tahun tersebut tak luput dari target Kabid SD ini.

Bahkan jika memang ada permasalahan ekonomi di pihak keluarga ia akan mencoba untuk membantu. Namun dirinya akan melihat terlebih dahulu data yang ada di kecamatan dan desa setempat. “Akan dibantu, saya besok (hari ini, red) akan ke sekolah tujuan dan kecamatan maupun desa,” jelasnya.

Pengamat Pendidikan Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Munawar menjelaskan, aturan yang sudah ditetapkan harus dipatuhi oleh semua pihak. Namun, jika demikian adanya, harus diberikan solusi dan diarahkan agar Raisya tidak putus sekolah. “Jangan ditunda (sekolah, red), harus diarahkan. Jika tidak bisa ke sekolah negeri, kan masih ada sekolah swasta,” ungkap Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsur ini.

Lanjutnya, Disdikbud Kabupaten Cianjur pun harus memberikan solusi dan turut membantu. Aturan yang ada memang harus ditegakan, namun ada solusi yang terbaik di antara aturan tersebut. Baginya, jika dibiarkan, akan menjadi berbahaya dan berdampak trauma terhadap anak-anak. “Jangan didiamkan saja, ini berbahaya dan akan berdampak trauma,” paparnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Sapturo menambahkan, untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya akan mencoba memfasilitasi anak dengan sekolah tertentu agar bisa menerima anak tersebut sekolah. “Dewan akan mencoba berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait untuk memasukan anak tersebut agar diterima di sekolah yang diinginkannya,” pungkasnya.

Dewan Pendidikan Kabupaten Cianjur pun angkat bicara. Sistem zonasi itu tidak baik untuk pemerataan dan pengakomodiran warga setempat terhadap sekolah favorit maupun sekolah tidak favorit. Hal itu diungkapkan oleh, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Cianjur, Ujang Awaludin.

Menurutnya sistem zonasi memiliki kelemahan di antaranya adalah menghambat minat anak yang ingin sekolah karena kendala zonasi, memupus harapan anak untuk sekolah disekolah yang diinginkan karena sistem zonasi, timbul praktek yang tidak wajar dalam penerimaan anak didik akibat zonasi.

“Memperlemah semangat kompetisi antar sekolah dalam hal kualitas, menyebabkan penumpukan siswa di satu sekolah karena sekolah berada di tempat pemukiman padat penduduk. Sedangkan sekolah yang lainnya kurang peserta didik dan mengikis karakter sekolah berkualitas karena siswa berasal dari semua segmen,” jelas Awal.

Awal menegaskan, zonasi tidak perlu diterapkan seutuhnya kepada seluruh sekolah. Pasalnya, kondisi sekolah tidak sama satu sama lain. Kendati diterapkan khusus hanya untuk mengurai penumpukan calon peserta didik di sekolah-sekolah tertentu saja.

“Bagi sekolah yang tidak padat penduduk dan jauh dari jangkauan masyarakat tidak perlu diterapkan. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak boleh memaksakan zonasi. Sebab akan menghambat terhadap percepatan peningkatan IPM di suatu daerah,” tegas dia.

(kim/ris)