Telat Verifikasi, Raisya Tak Bisa Sekolah

PERLENGKAPAN BARU TAK TERPAKAI: Raisya Nur Apriliani (7) hanya punya satu keinginan saat ini yaitu bisa masuk sekolah SD. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Tas, seragam SD, buku tulis dan sepatu baru batal ia kenakan. Semua perlengkapan untuk masuk sekolah itu tak jadi dikenakan Raisya Nur Apriliani (7). Anak keempat dari lima bersaudara yang tinggal di Kampung Ciharashas Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku ini tak banyak bicara.

Ia terancam putus sekolah hingga setahun ke depan karena orang tuanya telat memberikan formulir pendaftaran dalam proses verifikasi ke SDN Kebon Jeruk, Cilaku pada Senin (15/7) lalu.

Duduk beralas ubin semen, Raisya lebih memilih untuk banyak berdiam. Pertanyaan yang diajukan pun hanya dijawab seadanya. Sesekali ia pun mengangguk. ‘Raisya mau apa?’ Ia menjawab, hanya ingin sekolah.

Tak banyak keinginannya kemarin. ‘Raisya sekarang mau apa?’. Ia pun tertunduk lagi. ‘Mau sekolah?’. Raisya pun mengangguk. Keinginan sederhana itu nampaknya sulit untuk diwujudkan.

Putri keempat dari pasangan Bubun (45) dan Enung (42) ini hanya bisa bermain dengan teman-teman tetangga seusia selama tiga hari terakhir. Seharusnya, selama tiga hari terakhir Raisya sudah mampu menikmati ajang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah yang menjadi sasaran pendaftarannya.

Namun, karena keterlambatan formulir yang diberikan membuat pihak sekolah terpaksa mengeluarkan keputusan untuk bersekolah tahun depan. “Ini tidak sekolah karena formulir yang diberikan kata pihak sekolah telat. Jadi tidak bisa (sekolah, red),” ujar kakak Raisya, Rani (22).

Pihak keluarga pun menyayangkan tidak adanya kebijaksanaan dari pihak sekolah. Keluarga berharap, apapun langkah yang harus dilakukan
agar Raisya bisa sekolah akan ditempuh.

Bukan hanya itu, uang untuk membeli perlengkapan sekolah saja merupakan hasil meminjam dari tetangga. Pasalnya, ayah Raisya hanya seorang buruh material yang pendapatannya sehari Rp40 ribu.

Hasil jerih payah sang ayah hanya bisa untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Sementara untuk mengganti uang yang dipinjam mengandalkan uang dari PKH. “Kalau nunggu dari PKH kan lama, jadi kita minjem dulu ke tetangga kurang lebih Rp300 ribu untuk perlengkapan sekolah,” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Melihat kondisi Raisya sekarang, keluarga pun berharap pihak sekolah bisa memberikan keringanan serta kesempatan untuk menuntut ilmu.
“Namanya anak kecil kan kasihan, keliatannya kepikiran sampe kurang sehat kayak sekarang,” tuturnya.

(kim)