Sulit Air Bersih, Warga Cibeber MCK Pakai Air Campur Sampah

RADARCIANJUR.com – Robohnya irigasi air di Kecamatan Cibeber beberapa waktu lalu mengakibatkan sembilan desa harus kesulitan air bersih. Sembilan desa tersebut yakni Desa Cikondang, Haur, Cisalak, Mayak, Sukaraharja, Sukamaju, Cibaregbeg, Karang Nunggal dan Peteuy Condong.

Air yang kotor dan keruh yang ada di aliran irigasi dengan ukuran lebar sekitar tiga meter dan kedalaman dua meter ini pun tetap digunakan warga. Memang tak berbau. Namun kondisinya yang penuh sampah dan kotoran serta tak layak, tetap diandalkan warga menjadi alternatif untuk mencuci pakaian, peralatan rumah tangga dan mandi.

Terpaksa, warga Kampung Cisalak Hilir, Desa Cisalak, Kecamatan Cibeber, sejak tiga bulan terakhir, menggunakan air kotor yang menggenang di aliran tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Beberapa warga pun mencoba mengakalinya dengan melakukan penyaringan air. Dari penyaringan tersebut, air lalu ditampung di beberapa kolam seperti kolam masjid.

“Ya mau air dari mana lagi kita cari. Sumur sudah kering dan sumurnya kan dari resapan bendungan irigasi,” ujar Muhamad Rian Faisal (23), warga setempat.

Kondisi tersebut diperparah dengan menumpuknya sampah yang sengaja dibuang warga ke sepanjang aliran irigasi. Tentu membawa dampak yang parah. Air keruh dan kotor, ditambah dengan sampah yang bertebaran.

Memang tak bau. Tapi menjadikan kualitas air semakin buruk, bahkan mengancam kesehatan. Bukan hanya manusia, beberapa ikan yang hidup di aliran irigasi tersebut pun terlihat ada yang mati.

“Padahal kan disini sudah ada penampungan sampah, tapi warga masih membuang ke aliran sungai. Tadi (kemarin, red) bersama-sama warga bahu-membahu bersih-bersih sampah dan dibakar. Tapi masih ada saja sampah yang dibuang lagi kesini,” ungkapnya.

Beberapa warga pun ada yang sampai nekat melakukan pencurian air ke toren (penampungan air). Namun hal tersebut tidak ditegur, akan tetapi sama-sama memberikan pengertian karena sulitnya air bersih saat ini.

Sementara itu, Camat Cibeber, Ali Akbar mengatakan, pihaknya sudah menempuh beberapa langkah. Seperti melakukan pembuatan saluran sementara dan normalisasi air Sungai Pasir Tuan agar bisa kembali mengalir ke aliran irigasi.

“Kita juga berkoordinasi dengan SDA Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Wilayah Sungai dan BPBD untuk mengalirkan air Cikondang dengan bronjong,” terangnya.

Bahkan alat berat sedianya akan diturunkan untuk menangani krisis tersebut. Bahkan rencananya hari ini, Kecamatan Cibeber akan melayangkan surat kepada Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kabupaten Cianjur dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mukti Kabupaten Cianjur untuk membantu menyalurkan air bersih.

Selain itu, mengenai sampah yang dibuang ke aliran irigasi, akan ada pengerukan sampah dan mengarahkan setiap desa-desa untuk menggunakan dana desa yang ada sebagai pengadaan gerobak sampah.

“Ini memang butuh waktu yang panjang, tapi insyaallah kita akan selesaikan dan ditangani dengan serius,” tuturnya.

Pemerhati Lingkungan, Yadi mengungkapkan, dirinya akan mengambil peran untuk permasalahan sampah yang terjadi di Kecamatan Cibeber. Pasalnya, kondisi seperti ini memang hampir sama di setiap daerah dan harus ditangani.

Menurutnya, kondisi krisi air bersih di Cianjur ini seperti sapu lidi yang tercecer dan sulit menyelesaikannya. Tapi ada lima aspek yang bisa menjadi solusi dan ditempuh.

“Lima aspek tersebut yakni peraturan, kelembagaan, pendanaan, sosial serta budaya dan teknologi,” ungkap dia.

Karena itu, pihaknya akan langsung meninjau lokasi dan mengadvokasi Kabupaten Cianjur agar menegakan regulasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.

Di sisi lain, dari informasi yang didapat Radar Cianjur, Bendungan yang roboh tersebut bukanlah hasil pembangunan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur. Namun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

Dengan demikian, pembangunan kembali yang akan dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur terganjal dengan kewenangan Pemprov Jabar.

“Itu kan yang membangun Pemprov Jabar, jadi kita mau bangun ulang terganjal dengan kewenangan,” terang Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Cianjur, Wiguno Prihantono.

Wiguno khawatir, jika pihaknya memaksakan untuk memperbaiki dan membangun bendungan tersebut, malah akan memicu masalah dengan Pemprov Jabar.

“Jika dipaksakan nanti malah jadi masalah. Jadi sementara ini kita bangun bendungan sementara menggunakan bronjong,” jelasnya.

Wiguno menjelaskan, kewenangan Pemkab Cianjur hanya penanganan darurat saja. Namun pihaknya tidak diam saja dengan jebolnya bendungan tersebut. Semua kerusakan, data bendungan serta berbagai laporan sudah disampaikan ke Pemprov Jabar.

“Sudah mengetahui soal itu (bendungan, red),” katanya.

Di sisi lain, permalasahan kekeringan di Kabupaten Cianjur ternyata sudah dibahas pada rapat bersama BPBD Provinsi dengan Pemprov Jabar di Kuningan pada hari Rabu (17/7). Dari Kabupaten Cianjur turut dihadiri oleh Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur.

Pembahasan yang dilakukan mengenai langkah penanganan yang akan diambil dan penanggulangannya.

“Besok (hari ini, red) rencananya akan menindaklanjuti hasil dari rapat di provinsi yang akan dibahas bersama dengan opd-opd terkait masalah kekeringan ini,” ujar Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno.

Kekeringan yang terjadi, ternyata tidak hanya dialami oleh Kecamatan Cibeber saja. Namun ada beberapa kecamatan dan desa lainnya yang mengalami hal serupa. Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Cianjur, terdapat 13 kecamatan dan 79 desa yang melaporkan kekeringan sampai dengan pekan lalu.

Jenis terdampak dari kekeringan terbagi dua. Yakni kekurangan air bersih untuk kebutuhan warga sehari-hari dan air untuk pengairan lahan pertanian.

“Kekurangan air bersih dialami oleh 5.322 Kepala Keluarga (KK) dari 16.755 jiwa. Untuk lahan pertanian sebesar 3.068,5 hektar,” beber Sugeng.

Penanganan yang akan dilakukan BPBD Kabupaten Cianjur yakni menggandeng dengan dinas yang turut terlibat dalam kemarau ini. Namun sementara itu, BPBD Kabupaten Cianjur pun sudah menyiapkan truk tanki dengan kapasitas muatan air yakni 5.000 liter.

(kim)