Awas! Ada Rentenir Kedok Koperasi

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Keberadaan koperasi tentunya sangat membantu masyarakat ketika kesulitan dalam kebutuhan ekonomi. Namun, apa jadinya jika koperasi tersebut hanya sebuah kamuflase saja? Yang ternyata didalam sistem manajemennya sama seperti rentenir.

Untuk mencegah tumbuhnya rentenir berkedok koperasi simpan pinjam tersebut, Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian (Diskoperdagin) Kabupaten Cianjur bakal mengoptimalkan fungsi satgas. Di samping itu, koperasi yang sudah terdaftar juga bakal dibina agar aktif kembali.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Diskoperdagin Kabupaten Cianjur, Judi Adi Nugroho mengatakan, saat ini ada 1.400 koperasi di Kabupaten Cianjur. 30 persen di antaranya menjalankan bidang usaha simpan pinjam.

Namun menurutnya, aktivitas simpan pinjam tersebut sudah seharusnya hanya untuk para anggota dengan sistem yang tidak memberatkan dengan hasil keuntungan yang dikembalikan untuk kesejahteraan anggota.

“Tapi tidak menutup kemungkinan ada juga koperasi nakal yang menjadikan koperasi sebagai kedok, padahal rentenir yang malah memberatkan masyarakat,” ujarnya.

Rentenir yang berkedok koperasi simpan pinjam itupun harus dilihat badan hukumnya. Dirinya khawatir, koperasi tersebut tidak berbadan hukum dan terdaftar di dinas. “Makanya perlu didalami dulu kaitan rentenir itu,” jelasnya.

Satgas dimaksud, terang Judi, memiliki tugas untuk mengevaluasi serta memeriksa kegiatan koperasi yang sudah ada. Jika ditemukan kejanggalan, maka tindakan mulai dari peringatan sampai tindakan tegas lainnya akan diberlakukan.

Namun, dirinya mengaku saat ini belum ada laporan terkait koperasi yang bermasalah ataupun memberatkan anggotanya. Sementara itu untuk temuan langsung dari satgas sudah pernah ada, meskipun tindakannya baru sebatas tahap awal atau teguran.

“Kami berahap kalau memang ada koperasi bermasalah segera laporkan ke Satgas, supaya ada dasar yang kuat dalam menindak. Kalau perlu hingga tindakan tegas. Tapi kami juga berharap warga Cianjur tidak tergiur dengan dana pinjaman dari rentenir, meskipun persayratan mudah namun akan memberatkan nantinya,” harapnya.

Pengalaman sangat tidak mengenakkan pernah diungkap Nenek Epoy (59), warga Kampung Neglasari RT 01/11, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Wanita paruh baya itu terpaksa berhutang kepada rentenir yang oleh warga biasa dikenal kosipa (koperasi simpang pinjam).

Nenek Epoy terpaksa berhutang kepada kosipa lantaran terdesak kebutuhan untuk berobat cucunya. Di sisi lain, penghasilannya sebagai buruh serabutan tak mampu menutup biaya pengobatan cucunya itu.

“Awalnya cuma pinjam Rp4 juta, dengan bunga Rp800 ribu,” ujarnya kepada Radar Cianjur pada 8 April 2019 lalu.

Dengan uang hutang dari rentenir itu, cucunya akhirnya sembuh. Tapi, beban hutang rentenir yang ada di pundaknya kian membesar. Sementara, penghasilan tak menentu tak bisa membayar cicilan hutangnya.

“Tidak sanggup untuk bayar per bulannya makanya jadi nambah bunganya,” tuturnya.

Hutang itupun terus menumpuk. Dari semula yang hanya Rp4 juta, bertambah menjadi hampir dua kali lipat besarnya. “Sudah dua tahun lebih dan sekarang hutangnya menjadi Rp7,5 juta. Jangankan segitu, yang Rp4 juta aja kami susah bayarnya,” ujar Epoy.

Epoy juga tak mampu bicara banyak ketika sang rentenir atau orang suruhannya datang ke rumahnya yang reot dan hampir roboh. Sampai suatu ketika, rentenir datang dengan membawa selembar kertas.

Di kertas itu, Epoy dipaksa untuk membubuhkan tandatangan di atas materai. Isinya, adalah surat perjanjian penyerahan rumahnya yang jauh dari kata layak sebagai jaminan.

“Orangnya ngasi surat, saya disuruh tandatangan di atas materai. Bilangnya bukan surat perjanjian, tapi saya tahu itu surat perjanjian. Makanya saya tidak mau tandatangan, tapi terus dipaksa,” ungkapnya.

Di sisi lain, si rentenir tak kalah garang memaksa Epoy, ditambah dengan kalimat-kalimat bernada ancaman yang membuatnya ketakutan. Merasa tertekan dan tak bisa berbuat apapapun, Epoy akhirnya membubuhkan tandatangannya.

“Ya mau gimana lagi, sudah bingung dan takut saya. Akhirnya ya tandatangan juga,” lanjutnya.

Dalam surat perjanjian tersebut, beber Epoy, selain menyerahkan rumahnya sebagai jaminan. Epoy juga dipaksa untuk ‘mengontrak’ di rumahnya sendiri. Yakni dengan biaya ngontrak sebesar Rp250 ribu per bulan.

“Masih ditambah dengan cicilan Rp200 ribu. Jadi per bulan harus bayar Rp400 ribu sama bayar cicilan hutang,” jelasnya.

Kendati hutang pokok sudah dituntaskannya, akan tetapi biaya mengontrak rumah sendiri itu tak kalah membebaninya. Epoy yang tinggal bersama satu anak dan cucunya itu, kerap kelimpungan saat tiba waktunya membayar cicilan dan kontrakan rumah.

Beruntung, derita Nenek Epoy itu diketahui Sekolah Relawan di Depok yang bersedia menutup dan melepaskan Epoy dari jeratan hutang rentenir. Kendati masih tinggal di rumahnya yang reyot, setidaknya kini tak ada lagi beban hutang dari rentenir yang ditanggungnya.

(kim/dil)