Bahaya di Balik #AgeChallenge FaceApp

RADARCIANJUR.com – Aplikasi FaceApp kini tengah digandrungi. Tak sedikit orang dari berbagai kalangan status sosial dan usia mengikuti tren yang muncul dadakan di minggu kedua bulan Juli 2019 ini. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti menggunakan aplikasi yang dapat diunduh dengan mudah melalui telepon genggam pengguna iOS atau android ini karena FaceApp dituding menjadi sebagai salah satu
peranti spionase yang diluncurkan Rusia.

Pengamat Keamanan Siber, Alfons Tanujaya menanggapi polemik yang ditimbulkan aplikasi FaceApp. Menurutnya, masyarakat tidak begitu memahami berapa besar potensi bahaya dari pengumpulan data wajah pengguna ini.

Padahal menurutnya, data wajah di era Big Data ini sangat signifikan. Apalagi jika makin banyak aplikasi yang menggunakan wajah sebagai metode autentikasi. “Dalam era Big Data ini, kita tidak tahu sejauh apa potensi bahaya data yang menurut kita simple (sederhana) saja seperti data wajah. Seberapa berharga data wajah kita. Istilahnya sidik wajah. Karena sekarang sudah banyak aplikasi yang mampu menggunakan wajah sebagai metode autentikasi,” kata Alfons.

Sebelumnya sejumlah negara menyerukan agar aplikasi pengeditan wajah buatan Rusia, FaceApp, diselidiki. Penyelidikan ini terkait kecurigaan kalau aplikasi ini melanggar privasi dan bisa mengganggu keamanan nasional di negara itu.

Pasalnya aplikasi ini dianggap kurang bertanggung jawab dengan data foto pengguna yang diunggah ke aplikasi itu. Dalam perjanjian akhir pengguna (EULA) di aplikasi tersebut, tertulis perusahaan memiliki hak untuk mengatur atas apa pun yang dibuat pengguna.
“Jika kita memberikan hak menggunakan wajah kita kepada aplikasi mungkin kita perlu mempertimbangkan resiko di masa depan sehubungan dengan sidik wajah ini. Misalnya wajah kita di gabungkan atau digunakan untuk membuat identitas palsu itu bisa membuat kita dalam masalah,” jelasnya.

Selain itu, ia menyebut masyarakat perlu menaruh perhatian pada End User License Agreement (EULA) sebelum menginstal aplikasi. EULA sendiri merupakan sebuah perjanjian antara pembuat aplikasi perangkat lunak dan pengguna aplikasi.

“Untuk aplikasi FaceApp pada prinsipnya adalah aplikasi yang menjalankan fungsi memanipulasi gambar dengan metode gambar dengan metode tertentu sehingga menjadi menarik. Yang perlu diperhatikan setiap kali menginstal aplikasi adalah EULA (end user license agreement) dan bonafiditas perusahaan pembuat aplikasinya,” tambahnya.

Namun perjanjian EULA menurut dia juga menjadi masalah karena meggunakan bahasa hukum dan berbahasa Inggris. “Yang jadi masalah EULA itu panjang, ribet, menggunakan bahasa hukum dan parahnya lagi dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia saja sulit dan jarang dibaca perjanjian legal, apalagi ini dalam bahasa Inggris,” jelas Alfons.

Oleh sebab itu, Alfons menegaskan pengguna harus lebih hati-hati ketika acap kali menggunakan aplikasi baru. Sebab, menurut dia, pemilik aplikasi terkadang memiliki motif terselubung yang dapat merugikan penggunanya.

Alfons pun sempat mencontohkan kasus penyedia layanan pinjaman online di dalam perjanjian EULA bakal mengakses kontak pengguna. Jika pengguna terlambat membayar cicilan maka salah satu kontak akan dihubungi bahkan bisa dipermalukan. “Salah satu contoh ekstrim adalah penggunaan data kontak user untuk mempermalukan pengguna pinjol (pinjaman online) yang menunggak. Di mana jika terlambat membayar cicilan maka teman kontak di hp akan dihubungi dan mempermalukan pengguna pinjaman,” tuturnya.

Sebelumnya, Kaspersky Lab menyebut pihaknya menemukan sejumlah aplikasi FaceApp palsu. Aplikasi ini didapat dari toko aplikasi pihak ketiga dan sudah diinfeksi adware MobiDash. Setelah aplikasi diunduh, MobiDash akan masuk ke perangkat pengguna secara diam-diam dan menampilkan iklan yang mengganggu.

“Iklan yang ditampilkan oleh Adware berbeda-beda, ada yang bersifat sangat mengganggu seperti munculnya pop-up di desktop atau iklan yang muncul di browser dengan menampilkan mesin pencari khusus,” pungkasnya.

Adware merupakan sejenis perangkat lunak yang mempunyai kemampuan untuk menginstalasi dirinya sendiri pada komputer atau ponsel tanpa diketahui oleh pengguna. Perangkat lunak ini akan menampilkan iklan disaat pengguna mencari informasi di internet.

Sementara itu, Pengamat Komunikasi dan Informatika Universitas Putra Indonesia (UNPI) Cianjur, Astri D Andriani mengatakan, sebetulnya aplikasi tersebut mengganggu privasi dan tidak hanya FaceApp saja.

Dewasa ini. Beragam aplikasi mudah sekali untuk diunduh diponsel atau gawai. Dari mulai game hingga aplikasi berkirim pesan. Namun, nampaknya masyarakat perlu lebih jeli dan teliliti sebelum menggunakan aplikasi yang diunduh. Seperti saat ini yang sedang ramai digunakan oleh banyak masyarakat.

Akan tetapi, meskipun hanya sebagai media sebagai keseruan. Namun ada hal yang harus diperhatikan masyarakat. Ada bahaya yang mengintai pengguna perubah wajah ini, akan mengumpulkan informasi berupa lokasi dan riwayat penelusuran browser (browser history) yang ada di smartphone pengguna, baik Android maupun iPhone. “Itu mengganggu privasi, semua aplikasi seperti itu. Terlebih bagi pengguna yang memiliki data pribadi dan tentunya sangat berbahaya,” ujarnya.

Pengguna aplikasi pun harus dipikir dulu sebelum menggunakan. Pasalnya, beberapa aplikasi meminta izin untuk mengakses ke dalam data ponsel. Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi ini pun mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada dan berhati-hati untuk menggunakan beragam aplikasi. “Harus dipikir terlebih dahulu, bisa jadi jika kita tidak pintar-pintar menjaga data kita. Itu bisa diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab terlebih sampai dihack serta alangkah baiknya jika akan menggunakan maupun memposting sesuatu hal baik secara visual maupun tulisan lebih hati-hati,” imbaunya.

Semua orang ingin mencobanya sambil membayangkan dirinya 20-30 tahun ke depan. Dengan kondisi kita saat ini, tentu saja dengan aplikasi seperti itu jadi terlihat gagah dan cantik saat menjadi tua dengan tidak membayangkan sejumlah penyakit berat yang dibawanya.

Melalui tantangan Agechallenge, aplikasi FaceApp ini kemudian menjadi viral di Indonesia, karena banyak orang berusaha untuk mencobanya dan memamerkan di aplikasi sosial media yang kita miliki untuk memberitahu seandainya kita menjadi tua dengan wajah seperti itu.

Namun, di balik kesenangan tersebut ada harga yang harus dibayar dengan teknologi yang dibuatnya, yaitu menyerahkan data nama dan wajah kita melalui foto tersebut sehingga pihak pemilik program bisa menggunakan apa saja dari data tersebut untuk kepentingannya. Ketika berusaha untuk menggugat atas privasi yang dimiliki, kita tidak bisa melakukannya, karena kita telah melakukan tanda setuju (agree), yang jarang sekali dibaca secara seksama. Padahal aturan dan ketentuannya tersebut sangat mengikat.

(kim)