Sedih, Begini Curhatan Ibunda Meli Alumni Cantik IPB yang Tewas di Sukabumi

Foto Amelia Ulfah Supandi semasa hidup. Facebook

RADARCIANJUR.com – Orang tua almarhumah Amelia Ulfah Supandi (22) berusaha tetap tegar saat jenazah buah hatinya akan diturunkan ke liang lahat di tempat pemakaman umum yang berlokasi tidak jauh dari rumah orang tuanya, kemarin siang.

Meski sudah ikhlas, namun ayahanda Endang Supandi (52) dan Imas Masriah (40) tetap tak menyangka bahwa anak pertama dari mereka harus pergi selama-lamanya dengan kondisi yang tidak wajar.

Sejak Senin (22/7) malam, jenazah Amel sudah dibawa ke kediamannya di Jalan Profesor Mohamad Yamin RT02/RW09, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. Sejak saat itulah tiap kenangan menjadi lebih sering terbesit dalam benak mereka. Bagaimana mungkin, anak yang dikenal solehah dan baik hati ini menjadi korban pelaku kejahatan? Jauh sebelum hari ini, Amel yang diketahui sangat menyukai anime Jepang ini dikenal sebagai anak yang pandai saat menempuh bangku pendidikan.

Mulai dari SD, dara kelahiran 3 Januari 1997 ini selalu berhasil meraih rangking satu dari kelas satu hingga kelas enam. Kepintarannya itu pun berlanjut saat Amel melanjutkan pendidikan di tingkat SMP. “Dia (Amel, red) adalah anak yang giat dan berprestasi. Dari SD selalu ranking satu sampai kelas enam. Waktu SMP pernah ranking dua dan tiga, juga waktu SMA,” ujar ibunda Imas.

BACA JUGA: Terkuak! Ini Penyebab Kematian Alumni Cantik IPB di Sukabumi

Prestasi semasa sekolah itulah yang mampu mengantarkannya untuk memuluskan cita-citanya mengambil kuliah di bidang agroteknologi. Lulus dari MAN Cianjur, Amel dengan mudah masuk ke Insititut Pertanian Bogor (IPB) tanpa proses tes atau melalui jalur undangan. ”Dia ambil jurusan pertanian, tapi lebih ke Teknologi Industri Benih (TIB). Itu sudah jadi pilihannya sejak kelas 3 di MAN Cianjur,” tuturnya mengingat-ingat masa itu.

Tak hanya pandai, almarhumah dikenal aktif di pengajian dan karang taruna tempat tinggal. ”Dia itu tidak pernah menyakiti orang tua. Tidak pernah melawan sama orang tua. Mudah-mudahan segala amal ibadah anak kami diterima oleh Allah,” tutur Imas diamini suaminya, Endang.

Rencana besar Amel memang sudah dinyatakan kepada kedua orang tuanya jauh-jauh hari. Setelah lulus kuliah D3 di IPB, Amel bekerja di PT Pou Yuen Indonesia (PYI). Amel pun kala itu sempat bertanya mengenai pekerjaannya di PYI jika hendak meneruskan pendidikannya. Namun ambisi anak pertama dari dua bersaudara ini sudah bulat meneruskan jenjang pendidikannya meski harus keluar dari pekerjaannya.

Imas menjelaskan, sebelum kejadian anaknya berangkat ke Bogor kuliah ke IPB. Anaknya itu sangat menginginkan kuliah jurusan pertanian, walau sebelumnya disuruh untuk mengambil jurusan keguruan.

BACA JUGA: Misteri Pembunuhan Meli Alumni Cantik IPB, Sempat Bilang ‘Takut’ Naik Mobil Kosong

Amel meminta izin ke Bogor hendak menyelesaikan persyaratan pendaftaran. ”Kalau enggak salah yang terakhir untuk menyelesaikan konversi nilai, ada diplomanya, ada transkrip nilai. Dia titipin sama temannya. Dia rencananya mau ngambil itu, sambil ketemuan sama teman-temannya,” timpal ayahanda, Endang Supandi.

Selepas D3, Amelia berencana melanjutkan kuliah S1 di Universitas Djuanda Bogor dengan jurusan yang sama. ”Saya enggak nyangka. Kan dia sudah biasa pulang seperti itu malam, tiga tahun di Bogor seperti itu. Paling kalau kemalaman dia minta dijemput,” paparnya.

Teman-temannya sempat mengingatkan juga, kalau sudah malam karena sudah tida ada angkutan lagi ke Cianjur.

”Mending nginap aja lagi. Tapi, dia bilang tetap akan pulang karena Seninnya kerja. Jadi waktu mau pulang itu dianterin oleh temannya yang dua tadi, orang Padang dan satu orang Papua. Dulu bareng kuliahnya, sahabatnya sejak lama,” ungkapnya.

TERPUKUL: Kerabat serta tetangga Amelia Nurul Supandi (22) berdatangan di rumah almarhumah kemarin sore. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

Amel juga dikenal sebagai anak yang sayang terhadap keluarga. Sebelum pergi pada Sabtu (21/7), putri cantiknya itu sempat memasak makan siang berupa telur dadar dan sambal karena saat itu ibunya sedang ke Cibeber.

Lanjutnya, dirinya pun menyarankan Meli untuk melaksanakan salat ashar terlebih dahulu sebelum pergi. Tapi Amel lebih memilih untuk salat di Masjid Akbar, jalan Abdullah Bin Nuh Cianjur tak jauh dari bundaran Tugu Lampu Gentur.

Sementara itu, Ketua RW 09 Kelurahan Sayang, Adang Rohni mengatakan, almarhumah merupakan orang yang sangat baik. Ia juga dikenal sangat ramah, juga seorang guru ngaji di kampungnya. “Almarhum orang baik, aktif di pengajian, di Karang Taruna. Warga sangat kaget dan kehilangan,” tuturnya.

Di mata keluarga, Amel merupakan anak yang baik, saleh, taat, dan terbuka terhadap orang tuanya. Setiap bepergian, dia juga selalu memberi kabar sehingga keluarga tidak cemas.

(yaz)