Waduh… Tiga Bocah SD di Cugenang Kepergok Asyik ‘Ngelem’ di Kebun

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Tiga bocah yang masih berstatus pelajar salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Cugenang, tertangkap basah sedang asyik menggelar pesta lem. Ketiganya didapati tengah menghisap lem di kebun milik salah seorang warga.

Kejadian tersebut bermula saat sebelumnya Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa Desa Benjot, Kecamatan Cugenang, mendapati laporan dari sejumlah warga perihal adanya anak di bawah umur yang kerap berkumpul mengisap lem. Setelah ditelusuri, ternyata benar ada sejumlah bocah sedang nge-lem.

Berdasarkan laporan yang diterima, Bripka Azmal dan Sertu Dadang pertama kali langsung melakukan giat ‘Door to Door’ atau mengecek satu per satu rumah di Kampung Awilarangan RT 03 RW 04, Desa Benjot, Kecamatan Cugenang, sekitar pukul 09.00 WIB Minggu (21/7). Dengan berbagai upaya yang dilakukan, akhirnya ditemukanlah bocah penghisap lem tersebut.

“Ada tiga bocah penghisap tersebut, yakni bocah berinisial AS, FR dan UN. Masing-masing masih duduk di bangku SD,” kata Bhabinsa Desa Benjot, Sertu Dadang.

Setelah itu, upaya yang dilakukan Bhabinmas dan Bhabinsa yakni membawa bocah-bocah tersebut ke rumah orangtua masing-masing, yang kemudian dilakukan pembinaan. Selain itu, juga disarankan kepada orangtua anak supaya lebih memperhatikan pergaulan anaknya.

“Supaya bisa memberikan efek jera. Makanya kami bawa langsung ke orangtuanya masing-masing,” jelas Dadang.

Bripka Azmal, Bhabinkamtibmas Desa Benjot menambahkan, karena anak-anak ini masih dibawah umur, pihaknya hanya melaporkan kepada para orangtua dan memberikan imbauan supaya lebih ekstra dalam memperhatikan anak-anak.

“Tujuan kami adalah agar orangtua selalu membimbing dan mengarahkan anaknya ke hal-hal positif seperti sekolah agama. Jangan sampai mereka (anak-anak, red) mengkonsumsi atau menghisap lem lagi. Karena perbuatan itu akan membuat ketergantungan atau kecanduan,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Azmal, bila ternyata hal tersebut terulang, pihak kepolisian dan TNI akan bertindak lebih tegas. Karena hal tersebut, akan berdampak buruk bagi bocah itu sendiri dan anak-anak yang lainnya.

Ia menambahkan, luputnya pengawasan orang tua, pada saat anak-anak menjelang remaja bisa membuat anak salah bergaul.

“Diharapkan kepada orangtua, lebih intens dalam mengawasi anak dalam pergaulannya. Selain itu, kedekatan secara emosional harus lebih ditingkatkan, agar si anak tidak sungkan untuk bercerita atau curhat tentang segala hal yang ditemui di masanya,” saran Azmal.

Menurutnya, untuk di lingkungan juga seharusnya orangtua sudah dapat menilai atau membaca situasi kondisi. Artinya, kepedulian terhadap anak harus lebih ditingkatkan jangan karena anak sendiri tidak terlibat, maka dilakukan pembiaran. Padahal, lambat laun jika tanpa diawasi anak bisa terkontaminasi oleh pergaulannya.

Selain itu, Azmal juga mengimbau, untuk warung (penjual) harus selektif dan memiliki kecurigaan apabila ada anak yang membeli barang yang belum pada masanya. Artinya, menurut logika yang tidak masuk akal, jangan di layani. Bila perlu laporkan saja kepada orangtuanya atau ke aparat setempat untuk di tindak lanjuti.

“Kita mesti sama-sama bisa menyelamatkan generasi bangsa agar negara ini lestari dan tetap ada,” pesannya.

(dan)