Bejat! 7 Bocah jadi Korban Pedofil Calon Pemuka Agama di Cianjur

RADARCIANJUR.com – Setidaknya tujuh anak di bawah umur menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oknum calon pendeta dari sebuah gereja di kawasan Cipanas. Tindakan bejat itu dilakukan pelaku selama kurun waktu dari 2014 sampai dengan 2019.

Terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur itu terungkap setelah salah seorang orangtua korban melapor ke Polda Jawa Barat pada tanggal 4 Maret 2019 lalu. Disebutkan, pelaku berinisial TLS itu melalukan pelecehan seksual terhadap anak-anak jemaah gereja.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Cianjur, Eko Joko Purwanto menjelaskan, kasus tersebut merupakan limpahan dari Kejati Jawa Barat yang diterima pihaknya pada 18 Juli 2019 lalu.

“Karena ini melibatkan anak di bawah umur, persidangannya dilakukan secara tertutup. Demikian pula dengan materi persidangan yang tidak bisa kami ungkapkan disini,” terang Eko di kantor Kejari Cianjur, Jalan Dr Muwardi (Bypass), Selasa (23/7).

Kasi Pidum Kejari Cianjur, Eko Joko Purwanto saat melakasnakan jumpa pers. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

Eko menjelaskan, berdasarkan berkas pemeriksaan dan penyelidikan, diketahui ternyata korban TLS ternyata tidak hanya satu anak di bawah umur saja. Total, ada tujuh korban.

“Ternyata korbannya tidak hanya satu orang, tapi ada tujuh. Enam masih di bawah umur, sedangkan satu korban sudah dewasa,” jelasnya.

Eko juga membenarkan bahwa dalam melakukan aksinya, pelaku kerap kali menggunakan motivasi dan dalil-dalil agama agar korban-korbannya tidak melawan atau melapor kepada orangtuanya. “Pelaku ini jadi semacam motivator gereja. Jadi dia istilahnya masih calon pendeta,” terang Eko.

Eko menambahkan, dari ketujuh korban, masing-masing diketahui tidak hanya sekali menjadi korban pelaku, tapi bervariasi. “Ada yang empat kali, tujuh kali, sampai ada yang 10 kali disodomi,” lanjutnya.

Aksi bejat calon pendeta itu, sambung Eko, dilakukan di satu lokasi, yakni di sebuah villa di Cipanas, Puncak Cianjur. “Di villa, bukan gerejanya,” tegasnya.

Hasil penyidikan pihak Kejati Jawa Barat, pelaku telah melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur dengan cara mempertontonkan video porno. Setelah itu, korban disuruh membuka celana. Pelaku kemudian menciumi dan mengoral alat kelamin korban. Selain dioral, alat kelamin korban juga dionani oleh pelaku.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 81 atau Pasal 82 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Pelaku saat ini sudah ditahan di Lapas klas II B Cianjur, jadi tahanan titipan Kejari Cianjur,” kata Eko.

Ditambahkannya, saat ini, berkas kasus tersebut tengah dalam tahap pemeriksaan oleh jaksa Kejari Cianjur. Rencananya, dalam waktu dekat akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Cianjur.

“Secepatnya kita kirim, mungkin minggu ini. Tapi paling lambat minggu depan,” tutup Eko.

(dil)