Warga Desak Penuntasan Pencemaran Sumur di Ciherang

Puluhan masa dan Himpunan Masiswa melakukan aksi demo di halaman pendopo Cianjur. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Puluhan warga dan massa dan mahasiswa menggelar aksi di depan SPBU di Jalan Raya Ciherang Kecamatan Pacet, yang dilanjutkan ke kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cianjur, dan kemudian beralih ke pendopo Bupati Cianjur, Selasa (23/7) kemarin.

Aksi tersebut dilakukan untuk menuntut penuntasan dan penanganan kasus dugaan pencemaran sumur warga di RT 06 RW 01, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet yang sudah hampir tiga bulan tak ada kejelasan.

Dalam aksi tersebut, selain berorasi, warga juga membentangkan sejumlah poster bertuliskan tuntutan mereka. Diantaranya ‘Bongkar mafia migas Pertamina, jangan jadikan kami korban’; ‘Jangan dzolimi kami, tegakkan keadilan’; ‘Usut tuntas, jangan gantung kami’; ‘Stop pencemaran air warga’; ‘Seret pelaku pencemaran ke pengadilan’ dan lain-lain.

Salah seorang warga Kampung Panyaweuyan, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Deri (38) mengatakan, dirinya ikut serta dalma aksi tersebut lantaran kesal karena sampai kini sumur miliknya menjadi kotor dan belum ada penangan secara serius dari pemerintah.

“Kalau warga inginya air disumur kembali bersih seperti dulu. Kalau memang ada unsur pencemaran, harus diusut sampai tuntas,” tegasnya.

Menurutnya, akibat dari pencemaran tersebut, air sumur milik warga tidak lagi dapat dikonsumsi. “Air sumur milik warga kotor, seperti ada campuran minyak,”katanya.

Ia mengakatan, untuk kebutuhan sehari-hari warga hanya dapat mengandalkan suplay air bantuan dan itupun sangat terbatas. “Untuk kebutuhan kami hanya mengandalkan air dari bantuan dan bagi kami itu bukan solusi,” ungkapnya.

Sementara, koordinator aksi, Ludi Burdah Muslim menilai, sampai saat ini belum ada upaya penanganan serius dari pihak Pemda Kabupaten Cianjur mengenai kasus ini. Pihaknya juga menilai Dinas Lingkungan Hidup terkesan cuci tangan. Akibatnya, nasib warga digantung karena hasil uji laboratorium juga tidak jelas.

“Kami mendesak pihak terkait segera turun dan menurunkan tim ahli dari universitas yang konsentrasi dalam bidang pencemaran minyak bumi atau BBM,” ujarnya.

Pada saat peyampaian hasil uji lab beberapa waktu lalu di aula Desa Ciherang, lanjut Ludi, warga menilai hasil uji labolatorium yang di sampaikan DLH Cianjur, analisa dan diagnosisnya salah kaprah alias tidak nyambung.

“Karena seharusnya diagnosis atau analisa pengujian yang kemarin di paparkan DLH, parameter air harus sinkron dengan kasus yang sedang dihadapi oleh warga yaitu mengenai dugaan limbah BBM. Sementara pihak DLH hanya menguji parameter yang tidak perlu sehingga kesimpulannya pun tidak jelas dan bias,” tutur Ludi.

Ludi mengatakan, berdasarkan hasil dari penelitian bahwa kandungan senyawa yang terdapat dalam bahan bakar minyak sangat komplek dan beragam.

Salah satunya lanjut Ludi, yakni sejenis senyawa hidrokarbon aromatik yang mudah menguap, mudah terbakar, mudah berpindah tempat di lingkungan, dan tergolong bahan berbahaya beracun (B3) dan bersifat karsinogetik.

“Selain itu senyawa hidrocarbon akan berdampak terhadap kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pencemaran Pengendali Kerusakan Lingkungan (PPKL) DLH Cianjur, Dedi Junaidi saat di konfirmasi melalui saluran aplikasi WhatsApp maupun sambungan telepon tidak memberikan jawaban perihal kasus tersebut.

Sementara, terkait tuntutan warga yang ingin agar SPBU tersebut ditutup, Sekretaris Badan Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Didin Rosidin mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti permasalahan tersebut, dengan catatan harus ada surat pernyataan tertulis dari warga yang menjadi korban pencemaran.

“Dalam minggu ini surat pernyataan dari warga akan kami koordinasikan dengan para pejabat di Pemkab Cianjur,” katanya.

Menurutnya, sumur milik warga tidak boleh ada yang tercemar, karena jelas bisa berpengaruh pada kesehatan warga jika air sumur yang tercemar itu dikonsumsi.

“Disini saya bicara normatif, kita harus mengetahui dulu apa penyebab dari pencemaran itu, dan itu harus hasil kajian para ahli. Jika memang benar hasil kajian menyimpulkan pencemaran itu dampak dari SPBU, itu gampang tinggal tutup aja SPBU-nya,” pungkasnya.

(dan/dil)