Rekrutmen Karyawan RSUD Sayang Dinilai Tidak Transparan

RADARCIANJUR.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang melakukan penerimaan karyawan tanpa mempertimbangkan kualifikasi serta kompetensi karyawannya. Informasi dihimpun ada sekitar 1.400 karyawan bekerja di rumah sakit plat merah tersebut.

Selain itu, penerimaan karyawan pun tak ada transparansi. Bukan hanya penerimaan karyawan saja, namun beberapa keterlambatan hak karyawan pun turut menjadi hal yang perlu dibenahi.

Yakni keterlambatan pengurusan Kenaikan Gaji Berkala (KGB), tidak naiknya pangkat golongan pada karyawan dan pengelolaan diklat yang tidak pernah realtime. Akibatnya, selalu terjadi keterlambatan pembayaran.

Kasubag Kepegawaian RSUD Sayang, Lisna saat akan dikonfirmasi oleh Radar Cianjur. Dirinya sama sekali tidak menampakan diri untuk bertemu dan menjelaskan apa yang terjadi. Bahkan, salah satu staf Subbag Kepegawaian beralasan sedang rapat. Namun, Kasubag Kepegawaian RSUD Sayang sedang berada di ruang Tata Usaha.

BACA JUGA: Turun Kasta, Plt Bupati Cianjur Tegur Jajaran RSUD Sayang

Sementara itu, Humas RSUD Sayang, Raya, tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut. Pasalnya dirinya sedang tidak ditempat.

“Kalau itu saya harus konfirmasi terlebih dahulu ke kepegawaian, karena kalau sekarang saya sedang cuti kang,” ujarnya.

Salah satu karyawan yang enggan disebutkan namanya membenarkan mengenai penerimaan karyawan yang tidak transparan dan tanpa dilakukan tes terlebih dahulu. Bahkan, tunjangan yang dirasakan saat ini terlambat.

“Penerimaan karyawan yang tanpa melakukan tes dan diterima begitu saja, menjadikan karyawan disini overload. Selain itu penempatan karyawan tidak sesuai dengan kompetensinya, tentu kami merasa keberatan,” jelasnya.

Terkait penurunan nilai pelayanan RSUD Cianjur dari B menjadi C anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Zulfa Indrawati mengatakan, RSUD Cianjur sudah layak mendapatkan nilai B. Pasalnya, sudah memenuhi kriteria tipe B yakni minimal ada dua orang dokter sub spesialis.

“Sebetulnya sudah layak mendapatkan nilai seperti itu, karena dilihat dari segi kriteria, misalkan RSUD Cianjur ini sudah memiliki dua sub dokter spesialis. Bahkan sudah memiliki tiga sub dokter spesialis. Itu kan sudah memenuhi penilaian,” kata Zulfa.

Menurutnya, penurunan nilai pelayanan rumah sakit dari semula yakni B kemudian menjadi C. Hal itu disebabkan karena memiliki pasien yang banyak.

“Kejadian seperti ini bukan hanya di Kabupaten Cianjur saja melainkan diseluruh Indonesia,” bebernya.

Ditanya soal setuju ataukah tidak jika Ratu dilengserkan dari jabatannya yakni sebagai Direktur Utama RSUD Cianjur karena kinerjanya kepada masyarakat kurang memuaskan dan banyak sekali keluhan. Pihaknya, tidak dapat memberikan banyak komentar.

“Ya, tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Tetapi dilengserkan ataukah tidak hal itu tergantung dari kewenangan pemerintah daerah yakni Plt Bupati Cianjur karena segala kebijakan ada ditangan beliau,” ujarnya.

(kim/riz)