Kereta Api Ciranjang-Sukabumi Beroperasi 30 Juli, Segini Hanya Tiketnya

JALUR BARU: PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 2 Bandung akan membuka kereta api jalur Cianjur-Ciranjang dalam waktu dekat. Foto:Hakim/Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Masyarakat yang ingin menuju Ciranjang atau dari Ciranjang menuju Sukabumi kini akan menjadi lebih mudah dalam moda transportasi. PT KAI secara resmi akan memberlakukan rute Ciranjang-Sukabumi pada 30 Juli 2019. Harga tiketnya pun masih sama yaitu hanya Rp3.000 saja.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 2 Bandung sudah menghidupkan kembali jalur kereta menuju Ciranjang. Hal itu terbukti dari beberapa kali dilakukan pemeriksaan jalur menuju Stasiun Ciranjang. Pembukaan kembali jalur kereta tersebut dinilai sangat membantu masyarakat dalam menggunakan moda transportasi dengan ongkos murah dan tanpa hambatan lalu lintas alias macet.

Kepala Stasiun Cianjur, Narizal mengatakan, rencananya pembukaan kembali jalur kereta menuju Ciranjang akan dilakukan pada akhir bulan Juli. “Nanti pengoprasiannya akhir bulan ini (Juli, red) lebih tepatnya tanggal 30 dan masyarakat bisa menggunakannya nanti,” ujarnya.

Untuk ongkosnya sendiri, pihaknya memberikan harga Rp3.000 untuk sekali jalan. Harga yang relatif terjangkau itu diberlakukan untuk keberangkatan Ciranjang menuju Sukabumi maupun sebaliknya. Padahal, sebelumnya harga tiket KA Siliwangi dari Cianjur menuju Sukabumi Rp3.000. “Jadi, harga Rp3.000 itu bisa untuk sekali jalan. Tidak ada penambahan bayar tiket lagi ketika sampai di Stasiun Cianjur apabila dari Sukabumi,” tuturnya.

Sterilisasi jalur pun sudah dilakukan. Imbauan kepada masyarakat hingga pemantauan palang perlintasan di sepanjang 23 kilometer perlintasan kereta terus dilakukan menjelang beraksinya KA Siliwangi. “Kita sudah dua kali melakukan pengecekan dan juga beberapa waktu lalu memberikan imbauan kepada warga untuk tidak melakukan aktivitas di sepanjang rel karena rel sudah aktif kembali,” terangnya.

Dalam pantauannya, beberapa anak sekolah dasar (SD) kerap ditemukan tengah bermain di rel. Tak hanya bermain di sekitar rel, namun mereka kerap kali menyimpan paku hingga terkadang melempar batu yang ada di bantalan rel.

Anak-anak tersebut pun akhirnya diarahkan untuk kembali ke sekolah dan tidak kembali bermain di sekitar rel kereta. “Tentunya pembukaan kembali jalur rel kereta ini nantinya akan lebih membantu masyarakat dalam menggunakan transportasi, selain cepat juga pastinya tidak mengalami kemacetan,” harapnya.

Sepanjang perlintasan Cianjur-Ciranjang, terdapat dua stasiun yakni Selajambe dan Maleber namun tidak diaktifkan kembali. Sehingga, ketika sudah berjalan maka kereta tidak akan berhenti, melainkan langsung menuju Ciranjang.

Selain itu, terdapat dua palang pintu resmi yaitu di Bomero dan Warungjambe. Palang pintu tak resmi hanya ada satu, yakni Selajambe yang sebelumnya hanya jadi perlintasan kecil, kini bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.

Untuk jadwal pemberangkatan kereta api, pihaknya belum bisa mengumumkan. Pasalnya, jadwal tersebut masih dalam pembahasan rapat di PT KAI Daop 2 Bandung. Namun, besar kemungkinan, keberangkatan rute dari atau menuju Ciranjang masih menggunakan jadwal yang lama pada siang hari.

Sementara itu, Manager Humas Daop 2 Bandung, Noxy Citrea menjelaskan, untuk daerah yang tak memiliki palang pintu merupakan tanggungjawab pemerintah daerah setempat. Hal itu bukan tanggungjawab dari PT KAI. “Palang pintu bukan tanggungjawab PT KAI, tapi pemda setempat yang bertanggungjawab,” jelasnya.

Lanjutnya, untuk prosedur pengadaan palang pintu harus melalui beberapa tahapan. Secara teknis, prosedur dimulai dari pihak kecamatan yang mengajukan ke bupati atau walikota, lalu diajukan ke gubernur. Hingga akhirnya diterima oleh Kementrian Perhubungan Dirjen Perkereta Apian.

Birokrasi tersebut memang dianggap sangat panjang. Namun, bagi masyarakat yang memang ingin menjaga keselamatan bisa dilakukan secara swadaya. “Kalau swadaya dari masyarakat tidak apa-apa. Tapi biasanya dari desa setempat dan ke kecamatan yang nantinya untuk pengajuan palang pintu,” tuturnya.

(kim)