Tembak Polisi, Brigadir Rangga Terancam Dipecat Hingga Hukuman Mati

Brigadir Rangga Tianto (kiri) dan Bripka Rachmat Effendi (kanan).

RADARCIANJUR.com – Kadiv Propam Irjen Pol Sigit Listyo angkat suara terkait insiden penembakan yang dilakukan oleh Brigadir Rangga Tianto kepada Bripka Rachmat Effendy. Ia mengatakan kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali. Dia juga telah membentuk tim guna menelusuri kejadian ini.

“Saat ini telah diturunkan tim untuk memproses oknum anggota tersebut,” ujar Sigit saat dihubungi wartawan, Jumat (26/7).

Sigit menerangkan, saat ini Brigadir Rangga telah diamankan oleh petugas. Perbuatannya masuk dalam kategori pidana umum. Oleh karena itu, proses hukum akan sesuai dengan ketentuan pidana. “Dan juga proses kode etik dengan hukuman PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat),” tambanya.

Tim Propam juga akan mendalami penerbitan izin senjata api apakah pelaku sudah memenuhi syarat atau tidak. Tak lupa Sigit juga menghimbaupara komandan pasukan agar memperhatikan perilaku anggotanya yang memegang senjata api.

“Bagi yang memiliki kecenderungan emosional lebih baik dicabut. Penggunaan senpi sudah ada SOP nya dan harus betul-betul ditaati, pelanggaran terhadap hal tersebut harus diberikan sanksi,” tukasnya.

Sementara itu, Kabagpenum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan, senjata yang digunakan Brigadir Rangga merupakan organik yang memang pegangan yang bersangkutan. Dengan demikian dia sudah layak memegang senjata api. Mengingat sebelum diberi senjata ada rangkaian tes ketat padanya. Mulai dari psikotes, hingga rekam jejak.

“Kalau memang dia sudah memegang (senjata api), secara organik berarti dia dinyatakan layak,” kata Asep.

Meski begitu, pihaknya akan tetap melakukan tes psikologi ulang kepada pelaku. “Termasuk kita akan cek urin lagi nanti, apakah ada latar belakang penyalahgunaan kewenangan ini, ada persoalan-persoalan lain dibelakangnya,” pungkasnya.

Sedangkan Kabaharkam Mabes Polri Irjen Zulkarnain menjelaskan, RT bisa terancam hukuman seumur hidup atau hukuman mati karena menghilangkan nyawa orang lain. Selain itu, RT juga terancam dipecat dari profesinya.

“Sanksi untuk pidana umum kan menghilangkan nyawa orang lain bisa seumur hidup atau bahkan hukuman mati,” kata Zulkarnain.

Sebelumnya, Brigadir Rangga Tianto (RT) tega menembak Bripka Rachmat Effendi (RE) yang merupakan anggota samsat Polda Metro Jaya. Sebanyak 7 dari 9 peluru yang ada di dalam magazin senjata api jenis HS9 bersarang di beberapa bagian tubuh Bripka RE.

Tujuh peluru itu bersarang di bagian perit, paha, leher dan dada Bripka RE. Akibatnya korban langsung meninggal ditempat. “Peristiwa berawal ketika Bripka RE mengamankan seorang pelaku tawuran inisial FZ beserta barang bukti berupa clurit ke Polsek Cimanggis,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono.

Dugaan sementara, pelaku tega menghabisi rekannya sendiri karena terpancing emosi. Sebab, Bripka Rachmat menolak permintaan pelaku dengan ucapan bernada tinggi. Permintaan itu berupa mengembalikan pelaku tawuran yang diamankan kepada bimbingan orang tua.

(jwp)