Turun Kasta, RSUD Sayang Pilih ‘Diam’

RADARCIANJUR.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang nampaknya masih enggan untuk memberikan keterangan lebih lanjut perihal kabar akan turunnya peringkat dari kelas B menjadi kelas C.

Terlebih mengenai penerimaan karyawan yang tak dilakukan secara transparan, tanpa adanya kompetensi yang dilakukan melalui tahap tes.

Hingga sampai saat ini, pihak RSUD Sayang pun lebih memilih diam. Bahkan, Kasubag Kepegawaian RSUD Sayang, Lisna menghindar tanpa bisa ditemui.

Melalui Staf Tata Usaha RSUD Sayang, Putri menjelaskan, jika Kasubag Kepegawaian RSUD Sayang sedang menjalani rapat dan tidak bisa dipastikan waktu selesainya.

“Saat ini bu kasubag sedang rapat, untuk waktunya sendiri tidak tau kapan selesainya,” ujarnya.

Tak hanya satu kali saja, beberapa kali Radar Cianjur mendatangi untuk mengkonfirmasi, namun tetap tidak bisa untuk ditemui.

Pihak RSUD Sayang pun terkesan lebih memilih menghindar dan tak banyak bicara. Dirinya pun mengalihkan ke pihak Humas RSUD Sayang. Namun, Bagian Humas RSUD Sayang pun seakan sulit untuk dihubungi bahkan ditemui.

Sementara itu, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ampuh, Ustad Yana Nurzaman mengatakan, hasil Pemeriksaan & verifikasi faktual yang telah dilaksakan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) terhadap seluruh Rumah Sakit yang ada di wilayah hukum Kabupaten Cianjur, salah satunya RSUD Sayang milik Pemkab Cianjur.

Kemudian dalam rekomendasi hasil pemeriksaan KARS ini merekomendasikan RSUD Sayang turun menjadi RS Kelas C. Hal ini menjadi jawaban atas berbagai kekecewaan yang dilontarkan oleh warga masyarakat atas buruknya pelayanan publik yang diberikan oleh pihak RSUD Cianjur, terutama pelayanan terhadap pasien warga pra sejahtera.

“Gelombang masalah terus bermunculan dan tidak pernah terselesaikan, mulai dari rekruitment pegawai yang beraroma KKN dan pungli, keterlambatan pembayaran insentif karyawan yang sampai dua hingga tiga bulan tertunggak adalah contoh persoalan-persoalan yang belum terselesaikan sampai saat ini.

Belum lagi persoalan habisnya stok obat, ke semua ini menjadi bukti buruknya tata kelola anggaran RSUD Sayang dibawah kepemimpinan dr Ratu Tri Yulia, selain permasalahan buruknya SDM yang ada,” paparnya.

Politik mercusuar yang dilakukan jajaran direksi dan manajemen RSUD Sayang, masih menurut Ustad Yana, ternyata tak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang membelit Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) milik Pemkab Cianjur ini. Politik mercusuar Sang Direktur hanya menghasilkan ketimpangan gaya hidup yang sangat jauh antara pimpinan dan karyawannya.

Lanjutnya, tuntutan agar Pemkab Cianjur segera melakukan evaluasi dan revitalisasi guna meningkatkan kinerja pelayanan RSUD Cianjur seakan-akan tak pernah digubris oleh Pimpinan Daerah (Bupati), sampai kemudian muncul istilah “the untouchable woman” untuk direktur RSUD Sayang ini.

“Isu penyalahgunaan anggaran kerap kali disuarakan oleh kawan-kawan pegiat anti korupsi tapi sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh para penegak hukum,” ungkapnya.

Dirinya pun berharap, semoga rekomendasi KARS ini benar-benar menjadi perhatian Pemkab Cianjur untuk segera melakukan langkah-langkah progresif dan terpadu guna menyelesaikan semua permasalan yang menyelimuti RSUD Sayang.

“Jangan mewah gedungnya tapi buruk pelayanannya, karena RSUD itu adalah wajahnya pemkab, etalasenya Pemkab Cianjur dan tidak cukup dengan mempertontonkan kegeraman dan kekesalan, sebagai pimpinan daerah dan decision maker harus berani mengambil langkah-langkah yang strategis untuk memperbaiki kondisi RSUD Sayang ini. Ketika pelayanan RSUD buruk, maka buruk pula Pemkab sebagai pemiliknya,” tegasnya.

(kim)