Penyebar Agama Islam Pertama di Cibeber, Tak Banyak Tau, Memiliki Banyak Karomah

MAKAM ULAMA: Tersembunyi dan tak banyak orang mengetahui penyebar agama Islam. FOTO:Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Sunyi, angin berhembus seakan menyapa kedatangan wartawan koran ini. Jauh dari keramaian berada di pinggiran pemukiman warga, pesawahan yang luas dan pepohonan menjadi halaman pemakaman yang menurut cerita sebagai penyebar agama Islam pertama di Cibeber pada abad ke 16.

LAPORAN: ABDUL AZIZ N HAKIM, CIBEBER

MAMA Mpuh, begitu warga Kampung Cisalak Hilir RT 01 RW 07 Kecamatan Cibeber menyebutnya. Sudah begitu lama makam ulama penyebar agama Islam pertama di Kecamatan Cibeber tersebut bersemayam.

Tak banyak orang mengetahui secara pasti sejarah mengenai makam tersebut.

Hanya saja. Cerita turun temurun menjadi salah satu catatan sejarah yang dimiliki warga. Mama Syahri. Ya, beliau merupakan santri utusan Mataram Yogyakarta yang akan melakukan perjalanan Batavia (sebutan Jakarta masa kolonial belanda, red). Namun, perjalanan Mama Mpuh terhenti di Kabupaten Cianjur tepatnya di Kampung Cisalak Hilir Kecamatan Cibeber yang kala itu belum mengenal agama Islam.

Abah Jaji Januji (63) menceritakan secara detil mengenai sejarah makam Mama Mpuh. Abah Jaji yang secara turun temurun yang mendapatkan cerita tersebut dari keturunan sebelumnya.

“Dulu sebelum Islam masuk kesini (Cisalak Hilir, red) beliau dianggap pengacau keyakinan, namun secara perlahan-lahan memberikan syiar mengenai agama Islam,” tuturnya bercerita.

Kalangan tertentu saja yang mengetahui keberadaan makam Mama Mpuh. Terkadang ada yang datang karena diberitahu melalui mimpi dan ada yang memang sudah mengetahui serta mencari keberadaannya.

Lanjut Abah Jaji. Bahkan dahulu semasa hidupnya Mama Gentur dan Mama Gelar, para ulama Cianjur tersebut pernah berziarah.

“Pernah waktu Mama Gentur dan Mama Gelar masih ada ziarah kesini,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit sejarah itu terhapuskan oleh waktu. Demi menghidupkan kembali dan mengharumkan kembali sang pembawa syiar Islam tersebut.

Perlahan demi perlahan pun para peziarah mulai berdatangan. Bahkan setiap malam jumat, sering diadakan ziarah kubur dengan jumlah peziarah hingga 400 orang.

Masyarakat sekitar pun tak segan untuk memberikan informasi keberadaan makam bagi siapapun yang ingin berziarah.(*)