Sekda Dahulu, Siapa Kemudian? KPK Telusuri Aliran Suap Meikarta

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat (Jabar), Iwa Karniwa

RADARCIANJUR.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang tancap gas. Dua tersangka baru kasus dugaan suap perizinan Meikarta sudah diamankan. Tak tinggal diam, kini lembaga anti rasuah itu tengah menelusuri kemana dana miliaran rupiah itu mengalir.

Sebelas tersangka telah diproses. KPK meyakini masih ada aliran duit suap lain ke berbagai pihak di luar sebelas tersangka yang sudah ada sejauh ini. “KPK sedang terus menelusuri aliran dana selain yang mengalir pada para tersangka yang sudah diproses saat ini,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Selasa (30/7).

Febri menjelaskan, saat ini pihaknya masih mencermati peranan berbagai pihak dalam kasus dugaan suap perizinan Meikarta. Menurut Febri, ada beberapa cabang aliran dana untuk memuluskan perizinan Meikarta. “Kami masih terus mencermati peran pihak-pihak lain dalam kasus ini. Karena jika kita membaca tentang arus uang di kasus ini, diduga ada beberapa cabang atau kepentingan yang diurus untuk memuluskan pembangunan Meikarta tersebut,” ujarnya.

Namun, dia belum menyebut berapa lagi dugaan duit suap yang masih belum terungkap. “Tentu semua itu bergantung pada kecukupan bukti yang terus akan kami lihat dalam proses berjalan,” tutur Febri.

Dua tersangka baru terkait kasus dugaan suap perizinan Meikarta itu adalah eks Presiden Direktur Lippo Cikarang Bartholomeus Toto dan Sekda Jawa Barat Iwa Karniwa. Keduanya dijerat dalam dua perkara berbeda.

Toto dijerat KPK sebagai tersangka karena diduga memberi suap kepada eks Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin. KPK menduga Toto merestui pemberian duit Rp10,5 miliar kepada Neneng untuk memuluskan perizinan Meikarta.

Sementara itu, Iwa ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menerima suap Rp900 juta. Duit itu diduga terkait pengurusan Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi. Penetapan dua orang ini merupakan pengembangan dari kasus suap Meikarta yang telah diproses sebelumnya. Pada kasus sebelumnya, ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Neneng Hasan yang kini sudah divonis bersalah semuanya.

(dtk)