Bomero City Walk Makin Amburadul

Bomero City Walk

RADARCIANJUR.com – Kawasan Bomero City Walk yang sebelumnya menjadi kawasan tertib dan bebas pedagang kaki lima, kini makin amburadul dan terkesan tak tertata seperti saat awal diresmikan dulu. Kawasan yang digadang-gadang menjadi pendukung keberadaan Alun-alun Cianjur itu juga tak jelas statusnya.

Pengamatan di lapangan, kawasan tersebut kini lebih didominasi pedagang kaki lima (PKL). Jika sebelumnya hanya berada di sejumlah titik di depan rumah atau toko tertentu, tak jarang kini mereka sudah mulai menempati badan jalan. Apalagi jika di hari libur, jumlahnya lebih banyak lagi.

Amburadulnya Bomero City Walk itu makin menjadi saat kawasan tersebut juga menjadi jalan tembusan kendaraan bermotor. Padahal awalnya, kendaraan bermotor dilarang melintasi di kawasan tersebut. Bahkan, di jalan akses masuk kawasan itu, dipasang palang besi yang tak memungkinkan kendaraan bermotor melintas.

Banyak dan semrawutnya PKL ditambah kendaraan bermotor yang lalu lalang itu, jelas merusak estetika kawasan tersebut, yang katanya sebelumnya menjadi salah satu kebanggaan warga Cianjur itu.

“Ya kalau ada turis atau ada pengunjung dari luar daerah, nantinya bisa jadi ada ucapan miring,” kata Detyani, pengunjung asal Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur.

Di sisi lain, keberadaan PKL juga tak kalah membikin kawasan itu makin amburadul. “Mungkin pedagang juga butuh tempat strategis, karena mereka berdagang di sini kan karena ramai dikunjungi,” lanjutnya.

Para pedagang kaki lima berjualan di Bomero. Foto Fadilah Munajat Radar Cianjur

Sama halnya dengan Syahrul Fazri (16) pelajar asal Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur. Ia mengatakan, pada siang hingga sore, PKL di Bomero City Walk akan lebih banyak lagi karena lenggang dari pengawasan.

“Ya, meski begitu mereka tetap santai saja berjualan. Padahal sudah jelas ada papan plang larangan berdagang di daerah itu. Pedagang bisa saja tertib kalau diberi tempat berdagang yang strategis,” ujarnya.

Terpisah, Kasi PPNS Satpol PP Cianjur, Heru Haerul Hakim mengakui bahwa memang benar bahwa sejatinya PKL dilarang berdagang di kawasan Bomero City Walk atau area pertamanan. Bahkan, papan tanda larangan berjualan pun sudah dipasang sejak awal di sejumlah titik.

Sayangnya, papan larangan berdagang itu sama sekali diindahkan para pedagang. “Sudah pasti tidak diperbolehkan (berdagang). PKL juga kan ada PKL musiman, ada PKL yang menetap,” katanya, Rabu (3/7).

Ia mengatakan, PKL di Bomero City Walk itu banyak berdalih bahwa mereka mengantongi izin. Pihaknya pun tidak bisa melakukan eksekusi lantaran status Bomero City Walk sebagai pedestrian sampai saat ini baru sekadar wacana.

“Belum ada penetapan,” katanya.

Sementara, terkait lalu-lalangnya kendaraan bermotor yang melintasi Bomero City Walk, pihaknya pun tak bisa berbuat banyak. Alasannya, jika kawasan tersebut benar-benar ditutup total dari kendaraan bermotor, tentu akan membuat warga kesulitan dalam beraktifitas. Terlebih jika dalam keadaan darurat.

“Karena Bomero City Walk itu kan pemukiman warga, punya sertifikat. Kalau ditutup, nanti sulit. Kalau ada yang melahirkan nanti bagaimana?” ujarnya.

Heru menegaskan, selama status Bomero City Walk masih belum ditetapkan sebagai pedestrian, selama itu juga pihaknya tidak bisa berbuat banyak, apalagi sampai melakukan eksekusi kepada para PKL tersebut.

“Kecuali sudah jadi perda, kami bisa langsung turun dan eksekusi,” jelasnya.

Heru lantas mencontohkan penegakan aturan dan perda untuk alun-alun dan trotoar yang memang menjadi tempat ‘haram’ bagi PKL untuk berdagang. “Kami hanya melakukan eksekusi jika memang sudah melanggar Perda, jika untuk teguran itu ada PU. Kalau sosialisasi, kami selalu melakukannya di lapangan” pungkasnya.

(dil)