Puluhan Tahun Jembatan Pasir Cariu Rusak, Siswa Sekolah Terpaksa Digendong

JEMBATAN BAMBU: Warga Kampung Puncak Jeruk Walahir Leles Cisel, tengah membangun jembatan bambu penghubung sekolah anak mereka.

RADARCIANJUR.com – Sudah berpuluh tahun siswa SD dan SMP, mengandalkan Jembatan Pasir Cariu untuk menunju ke sekolahnya. Sayangnya, kondisi jembatan itu sejatinya tak layak pakai. Bahkan sudah rusak sejak berapa tahun ke belakang. Jembatan itu juga menjadi satu-satunya akses warga Kampung Pasir Cariu RT 04/02, dan Kampung Puncak Cijeruk, Desa Walahir, Kecamatan Leles, untuk aktivitas sehari-hari, termasuk membawa hasil bumi untuk di jual ke daerah lain.

Laporan: Jajang A Sugiarto, LELES

Jembatan itu memiliki panjang sekitar 20 meter dan lebar 1,5 meter. Sudah sejak beberapa tahun ke belakang, kayu yang terbuat dari kayu dan bambu itu dinilai sudah tak cukup layak untuk digunakan.

Padahal, jembatan itu setiap harinya digunakan pada siswa SD dan SMP untuk menuju ke sekolahnya. Warga yang hendak menjual hasil bumi juga selalu menggunakan jembatan tersebut untuk memotong perjalanan memutar yang jelas lebih jauh.

Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, kondisi jembatan itu makin mengenaskan. Meski tak layak, siswa SD, SMP dan warga terpaksa tetap menggunakannya. Tak pelak, anak-anak dan warga pun dipaksa berhadapan dengan risiko terjatuh dari jembatan yang memang sudah cukup rusak itu.

Atas alasan itu pula, warga setempat bersepakat untuk memperbaiki sendiri jembatan tersebut. Pasalnya, bantuan dari pemerintah, baik daerah maupun pusat juga tak kunjung tiba.

Udis (40), salah satu warga setempat menyebutkan, untuk meminimalisir hal-hal yang tak diinginkan, warga bersepakat untuk menggelar shift jaga secara bergantian. Utamanya saat anak-anak berangkat dan pulang sekolah.

“Takut akan ada korban yang melewati jembatan atau jatuh, kami berinisiatif bersama warga lainnya secara bergantian berjaga di jembatan. Hanya untuk membantu siswa sekolah yang berangkat dan pulang sekolah dengan cara digendong. Ada juga yang dituntun,” beber Udis.

Warga, lanjut Udis, bukan tinggal diam saja melihat rusaknya jembatan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mencari donatur dan mengumpulkan dana secara swadaya untuk biaya perbaikan jembatan.

“Itu juga pakai alat-alat seadanya dan semampunya, karena memang tidak punya biaya yang besar. Namanya juga diperbaiki secara swadaya,” ungkapnya.

Masalah yang dihadapi bukan saja dana dan peralatan seadanya. Bahan untuk memperbiki jembatan juga terbilang seadanya. Semisal memanfaatkan kayu dan bambu yang didapat dari sekitar lokasi.

“Itupun hanya mengganti bambu dan tali jembatan saja menggunakan alat seadanya dan semampunya. Sebab kalau untuk membangun jembatan permanen kan butuh banyak biaya yang sangat besar,” katanya.

Hal yang sama dikatakan Acuy (35). Jembatan Pasir Cariu memang merupakan akses jalan yang digunakan oleh ratusan jiwa di satu kedusunan yang setiap harinya menjual hasil bumi kepada para tengkulak, sehinga perlu segera ada kucuran bantuan anggran dari pihak pemerintah baik daerah dan pusat.

“Jembatan menyambungkan Kampung Puncak Cariu dengan Kampung Cijeruk. Ada kisaran kurang lebih 167 jiwa yang bergantung pada jembatan itu,” tuturnya.

Warga berharap, setidaknya ada perhatian dari pemerintah terkait kondisi jembatan yang sudah rusak dan tidak layak itu.

“Harapannya semoga segera dibangun jembatan permanen oleh pemerintah, sebab dengan jembatan bagus dan layak akan menambah perekonomian di kampung kami,” katanya.

(**)