Megawati Kembali Jabat Ketum PDIP

KONGRES: Presiden Jokowi bersama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Wapres Jusup Kalla, KH Ma’ruf Amin dan Prabowo saat menghadiri Kongres V PDIP di Sanur Bali, Kamis (8/8).

RADARCIANJUR.com – Kongres V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Bali kembali mengukuhkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum. Megawati langsung diambil sumpah jabatan di hadapan para kader.

“Janji jabatan. Satu, bahwa saya untuk diangkat sebagai Ketua Umum DPP PDIP masa bakti 2019-2024 akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan UUD 1945, AD/ART PDIP, piagam dan program perjuangan PDIP dan segala ketentuan partai yang berlaku,” kata Megawati, Kamis (8/8).

Sebelum PDIP menggelar kongres di Bali pekan ini, salah satu keputusan terpenting disebut sebenarnya tinggal menunggu ketok palu: Megawati Soekarnoputri kembali didapuk menjadi ketua umum partai berlambang kepala banteng. Hingga kini belum ada orang yang dianggap mampu menyamai kharisma Mega, yang menjabat orang nomor satu PDIP sejak 1999.

Megawati bersumpah akan menjunjung tinggi kehormatan dan disiplin partai. Dia juga berjanji untuk mengutamakan keutuhan partai. “Dua, bahwa saya akan menjunjung tinggi kehormatan, martabat dan disiplin partai, serta akan senantiasa mengutamakan keutuhan partai, keberhasilan program perjuangan partai daripada kepentingan pribadi. Tiga, bahwa saya akan memegang rahasia partai yang menurut sifatnya, harus saya rahasiakan,” tutur Megawati di hadapan para kader.

Megawati juga berjanji untuk menyelesaikan permasalahan partai dengan asas kekeluargaan. Dia juga berjanji bekerja dengan jujur dan adil. “Empat, bahwa saya akan berusaha menyelesaikan segala permasalahan partai dengan asas kekeluargaan. Lima, bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, adil, rajin dan bersemangat dan mengutamakan untuk kepentingan partai, negara dan bangsa,” tuturnya.

Sumpah jabatan itu diucapkan Megawati di hadapan Ketua DPD Kepulaun Riau Soerya Respationo, Ketua DPD Bali Wayan Koster, Ketua DPC Solo FX Hadi Rudyatmo, hingga Ketua DPD Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul. Pembacaan sumpah jabatan itu juga dibaca di hadapan para kader partai berlambang banteng bermoncong putih itu.

Sebelumnya, kabar kembali terpilihnya Megawati sebagai ketua umum PDI Perjuangan sudah dibenarkan oleh putri kandungnya yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan nonaktif Puan Maharani. “Ya sudah terpilih lagi secara aklamasi bahwa ibu ketua umum (Megawati) sebagai ketua umum kembali di masa mendatang,” ujar Puan di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Bali, Kamis (8/8).

Puan menyatakan sang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri terpilih kembali untuk memimpin partai berlambang moncong putih itu. Namun, tak seperti rencana awal, pengukuhan Megawati sebagai ketua umum akan dilakukan besok (hari ini,red). “Pengukuhannya bukan malam ini. Nanti malam masih pandangan-pandangan dari DPD dan DPC, kemungkinannya besok (hari ini,red),” kata Puan lagi.

Menurut Puan, struktur PDIP di daerah solid meminta Megawati untuk kembali menjadi ketua umum. Puan menyebut Megawati terpilih kembali secara aklamasi. “Ya sudah terpilih lagi secara aklamasi, disetujui bahwa Ibu Ketua Umum sebagai Ketua Umum kembali di masa mendatang,” jelasnya.

Kongres V PDIP yang digelar selama 4 hari di Bali disebut memiliki makna khusus. Pengamat politik Rico Marbun mengatakan, lewat Kongres V ini, PDIP sedang mempersiapkan regenerasi dan koalisi baru menatap tahun 2024. “Saya pikir ada dua pesan penting dalam Kongres PDIP kali ini. Regenerasi dan koalisi baru songsong 2024,” kata Rico.

Mengenai regenerasi, dia menilai Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akhirnya membuka diri untuk mempersiapkan penerusnya. Namun, di lain sisi, Rico menyebut Mega terkesan ragu-ragu.

“PDIP dan Mega terlihat lebih terbuka dengan ide regenerasi kepemimpinan politik, tapi di saat yang sama juga ragu untuk bertindak lebih progresif,” ucapnya.

Hal ini, disebut Rico, terlihat dari menguatnya nama Prananda Prabowo dan Puan Maharani di bursa Ketua Harian PDIP. Keduanya merupakan anak Mega. “Trah Sukarno melalui putra-putri Ibu Mega sepertinya dipercaya untuk menjadi pucuk-pucuk pimpinan partai. Terbukti dengan Prananda dan Puan terlihat intens mendampingi Ibu Mega. Jika bicara track record di hadapan publik, tentu Puan lebih dikenal dan diketahui kiprahnya. Tapi selama ini peran Prananda di internal PDIP juga tidak bisa dipandang kecil,” sebut Rico. “Tapi, di saat yang sama, PDIP belum terlalu percaya bahwa salah satu di antara keduanya bisa langsung menjadi solidarity maker bagi seluruh kader PDIP,” lanjutnya.

Ia pun menyarankan agar Mega menempatkan Puan di kursi ketua harian, sementara Prananda mengemban tugas sebagai sekretaris jenderal (sekjen). Menurut Rico, PDIP menantang bahaya di Pilpres 2024 jika tidak menempatkan Puan dan Prananda di posisi-posisi vital dalam kepengurusan partai.

“Walaupun rasanya hampir pasti Ibu Mega akan menjadi ketum lagi, sebenarnya agak ideal jika Puan diposisikan sebagai ketua harian dan prananda sebagai sekjen (atau posisi lain yang lebih berorientasikan manajemen internal). Ini penting karena 2024 adalah pertarungan orang-orang baru. Jika PDIP tidak segera memulai dari sekarang, bisa kurang baik bagi PDIP sendiri,” terangnya.

Selanjutnya, mengenai koalisi untuk 2024, Rico menyebut Mega berupaya membangun poros bersama Gerindra dan Partai Demokrat. Ia menyinggung soal pertemuan Mega dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Tak lama kemudian, Mega menggelar pertemuan dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

“Mega dan PDIP terlihat sangat gigih membangun poros koalisi baru, terutama dengan Demokrat dan PDIP,” kata Rico.

“Setelah anak-anak SBY diterima dan bertemu langsung dengan Puan, Bu Mega tidak membuang waktu untuk bertemu dengan Prabowo,” imbuh dia.

Poros tersebut, lanjut Rico, ada kemungkinan akan tetap diperkuat dengan partai koalisi Jokowi lainnya, seperti Golkar, PPP, dan PKB. Menurutnya, lewat poros ini, NasDem akan terisolasi.

Dia menyinggung soal kritik PDIP kepada NasDem pasca-Ketum NasDem Surya Paloh menyatakan akan mendukung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan maju Pilpres 2024.

“Agak kuat sepertinya koalisi baru PDIP, Gerindra, Golkar, Demokrat, PPP, PKB ini seperti ingin mengisolasi NasDem. Apalagi pasca-kritik PDIP terhadap dukungan Surya Paloh terhadap Anies Baswedan sebgai capres 2024,” ucap Rico.

“Dan ini mungkin wajar saja menimbang Partai NasDem satu-satunya partai nasionalis yang mengalami peningkatan suara pesat luar biasa ketimbang PDIP dan Golkar,” pungkasnya.(net)