Tak Ada Perkembangan, Retribusi PIC Malah Naik 20 Persen

MELOMPONG: Kondisi salah satu blok di Pasar Induk Cianjur (PIC) yang penuh dengan barang dagangan tapi sepi pengunjung dan pembeli.

RADARCIANJUR.com – Keputusan penerapan kenaikan tarif retribusi Pasar Induk Cianjur (PIC) ditunda. Keputusan itu diambil, salah satunya, lantaran mendapat tentangan dari para pedagang.

Salah satu bentuk protes yang dilakukan para pedagang PIC adalah, dengan tidak membayar retribusi baru yang ditetapkan naik sampai dengan 20 persen.

Seperti yang dituturkan H Zaenal Muttaqin (54), yang mengaku sangat keberatan dengan kenaikan retribusi PIC. Alasannya, selama ini pemerintah acuh dengan nasib para pedagang. Terbukti, kondisi PIC yang semakin lama semakin sepi.

“Soalnya kondisi pasar (PIC) sampai saat ini kan belum ada perkembangan. Pasar juga masih sepi gini, padahal pemerintah janjinya mau meramaikan pasar, tapi nyatanya enggak ada usaha,” kesalnya kepada Radar Cianjur, Kamis (8/8).

Pedagang pakaian di Blok B itu menambahkan, hal lain yang memberatkan para pedagang adalah, janji Pemkab Cianjur yang sejak dari dulu menyatakan akan memindahkan pasar-pasar bayangan dan lainnya ke PIC.

Nyatanya, sejak dari pemindahan pada 2015 lalu hingga saat ini, janji itu sama sekali tak pernah direalisasikan Pemkab Cianjur. Yang ada, pasar-pasar bayangan malah makin merajalela dan terkesan dibiarkan begitu saja.

“Dulu janjinya kan gitu. Nyatanya beda. Kesannya para pedagang PIC ini dibiarkan saja nasibnya seperti ini,” tuturnya.

Senada, juga disampaikan Haris (53). Pedagang peralatan rumah tangga itu mengaku pendapatannya mengalami penurunan terus menerus sejak dipindah pada 2015 lalu. Sayangnya, berbagai upaya dan aspirasi yang disampaikan, hanya berujung pada janji-janji saja.

“Kita ini istilahnya sudah bosan menyampaikan aspirasi. Sudah capek. Yang kita dapat juga gitu-gitu aja (janji-janji, red),” ungkapnya.

Pria yang juga Bendahara Dewan Perwakilan Pedagang (DPP) PIC itu berharap, retribusi PIC sebaiknya tidak dinaikkan. Alasannya, Pemkab Cianjur juga selama ini masih belum merealisasikan janji-janjinya dulu.

Selain itu, mengingat kondisi para pedagang yang omsetnya terus mengalami penurunan. Jika dipaksakan, bukan tidak mungkin para pedagang akan semakin tak mau mematuhi aturan yang dibuat Pemkab Cianjur.

“Ini sudah ribuan pedagang yang bangkrut dan tidak berjualan lagi. Masa iya kondisi pasar sepi, pendapatn turun, tapi retribusi malah dinaikkan. Ini kan logika yang sangat tidak masuk akal,” tegasnya.

Terpisah, Kasudag TU Pasar Induk Cianjur, Sampurna menyatakan, kenaikan retribusi pasar itu saat ini sedang ditunda pelaksanannya. Pihaknya juga memastikan bahwa kenaikan retribusi itu tidak bisa ditiadakan.

Alasannya, karena sudah tercantum dalam peraturan daerah yang ditandatangani Bupati Cianjur dan sudah melalui proses di DPRD Kabupaten Cianjur.

“Benar ditunda (pelasanaannya, red). Itu juga karena belum ada karcis (retribusi) baru. Jadi sampai saat ini retribusi masih diterapkan nilai yang lama,” jelasnya.

Akan tetapi, pihaknya juga memastikan bahwa kenaikan retribusi itu tetap akan diterapkan. “Sambil menuggu keputusan dari pimpinan,” sebut Sampurna.

Untuk diketahui, kenaikan retribusi pasar itu tertuang dalam Perda Nomor 18 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Perda Nomor 10 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Pasar.

Dalam perda itu menyebutkan bahwa retribusi yang harus dibayarkan untuk kios dari Rp5.000 menjadi Rp6.000. Sedangkan retribusi untuk los dari Rp2.000 naik menjadi Rp3.000.

(cr1)