Gawat! Debit Air di Dua Penampungan Makin Menyusut

TERANCAM: Sejumlah wilayah di Cianjur selatan dan utara terancam makin kering setelah debit air di fasilitas penyediaan air minum sanitasi (Pamsimas) mengalami penyusutan. Di sisi lain, musim kemarau diprediksi masuk akan terus berlangsung.

RADARCIANJUR.com – Debit air di dua penyediaan air minum dan sanitasi (Pamsimas) kian hari makin menyusut sejak datangnya musim kemarau. Bak yang biasa menampung air sekitar 500 kubik di Kecamatan Naringgul dan Kecamatan Cipanas, tak lagi maksimal menyalurkan air kepada warga.

Masing-masing bak penampung air itu mengambil persediaan dari sumber mata air dan sumber penyerapan setempat. Satu bak penampung biasa digunakan oleh 25 sampai dengan 50 warga.

“Debit air di beberapa desa sudah kekurangan air seperti di Kecamatan Cipanas dan Naringgul,” ujar Ketua Asosiasi Tirta Maju Karya Abadi (TMKA) Asep Sobandi, di Cianjur, Jumat (9/8).

Beberapa wilayah lainnya yang terdapat Pamsimas adalah Kecamatan Cidaun di Desa Karangwangi, Kecamatan Naringgul di Desa Malati dan Desa Naringgul, Kecamatan Leles di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukaluyu di Desa Panyusuhan dan Desa Sukamulya, Kecamatan Karangtengah di Desa Babakan Caringin, Kecamatan Cipanas di Desa Cibulakan.

“Di daerah lain sama, karena kemarau jadi tak maksimal. Tapi yang terlihat menyusut di Naringgul dan Cipanas,” katanya.

Pamsimas tersebut sudah dibangun dari 2017 sampai 2018. Konsep tersebut harus berlanjut dan harus ada perhatian dari pemdes dan masuk program dana desa jika ada kerusakan.

Ia mengatakan, Asosiasi Tirta Maju Karya Abadi (TMKA) sudah membentuk 34 unit kelompok Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (Pasimas), berbasis perdesaan di Kabupaten Cianjur dengan menyasar warga yang sering mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Pada 2019 ini, pihaknya berencana memperluas pembentukan Pamsimas di setiap pelosok desa yang ada di Kabupaten Cianjur, untuk menghadapi musim kemarau yang selalu berujung pada kekeringan.

Asep mengatakan, di Cianjur Selatan saat kemarau tiba warga masih harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan minum dan MCK-nya. Maka dari itu, pihaknya berencana untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Masyarakat yang sudah mempunyai dan membentuk Pamsimas di desanya, saat ini tidak kerepotan kalau kemarau datang. Sebab mereka sudah punya fasilitas seperti pipa jaringan, menara air, hingga keran bersama untuk digunakan jikalau terjadi kemarau,” katanya.

Asep menjelaskan, terbentuknya asosiasi tersebut berawal dari kekhawatiran dirinya bersama rekannya melihat kondisi masyarakat yang kesulitan mengkses air bersih, terlebih jika terjadi kemarau panjang.

“Di Cianjur potensi pengelolaan pengairan sangat besar. Hampir seluruh wilayah di Cianjur mempunyai sumber air seperti air permukaan, air tanah, hingga mata air. Namun kenapa tidak bisa diakses oleh warga, itu karena masyarakat terkendala oleh alat serta fasilitasnya,” ujarnya.

Pamsimas juga mendorong peningkatan derajat kesehatan warga Cianjur lewat sanitasinya, karena menjangkau aspek pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat. Pembentukan kelompok swakelola akan menghasilkan pundi rupiah bagi masyarakat.

(dil)