Bikin Beban Pedagang Bertambah, Retribusi PIC Naik Untuk Biaya Pembangunan

MELOMPONG: Kondisi salah satu blok di Pasar Induk Cianjur (PIC) yang penuh dengan barang dagangan tapi sepi pengunjung dan pembeli.

RADARCIANJUR.com – Protes para pedagang Pasar Induk Cianjur (PIC) terkait kenaikan retribusi pasar sepertinya tak akan berpengaruh sama sekali. Pasalnya, kenaikan retribusi itu tetap akan dilaksanakan.

Kendati demikian, waktu penerapan sampai kini masih belum ditentukan. Hanya saja, ke depannya, beban para pedagang dipastikan akan bertambah kendati kondisi pasar yang kian hari makin sepi.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Cianjur, Yana Kamaludin menyatakan, selama sejak tujuh tahun lalu, retribusi pasar sama sekali tidak mengalami kenaikan.

“Sejak 2012 itu tidak ada penaikan retribusi. Baru tahun ini ada kenaikan,” tuturnya kepada Radar Cianjur via sambungan telepon, Jumat (9/8).

Yana menjelaskan, salah satu pertimbangan kenaikan retribusi pasar itu lantaran Pemkab Cianjur saat ini tengah membutuhkan pemasukan yang cukup besar untuk Penghasilan Asli Daerah (PAD). Karena itu, seluruh potensi pemasukan pun ditarget cukup besar.

Selain itu, Kabupaten Cianjur saat ini juga tengah membutuhkan banyak anggaran untuk pembangunan infrastruktur. “Sehingga perlu adanya peningkatan PAD dari sektor perdagangan atau pasar,” jelasnya.

Yana mengakui, pihaknya memang sebelumnya berencana akan menerapkan kenaikan retribusi pasar dimaksud pada bulan Agustus ini. Akan tetapi, lantaran sejumlah pertimbangan, kenaikan retribusi itu akhirnya ditunda.

Salah satunya adalah belum keluarnya karcis retribusi dengan besaran yang baru. “Memang karcis yang baru belum keluar. Makanya (kenaikan retribusi, red) ditunda dulu,” katanya.

Sampai saat ini, sambungnya, besaran retribusi pasar masih memakai harga lama. “Artinya kenaikan retribusi bukan dibatalkan, tapi menunggu sampai karcis baru keluar,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, penerapan kenaikan tarif retribusi itu mendapat tentangan dari para pedagang PIC. Salah satu bentuk protes yang dilakukan para pedagang PIC adalah, dengan tidak membayar retribusi baru yang ditetapkan naik sampai dengan 20 persen.

Seperti yang dituturkan H Zaenal Muttaqin (54), yang mengaku sangat keberatan dengan kenaikan retribusi PIC. Alasannya, selama ini pemerintah acuh dengan nasib para pedagang. Terbukti, kondisi PIC yang semakin lama semakin sepi.

“Soalnya kondisi pasar (PIC) sampai saat ini kan belum ada perkembangan. Pasar juga masih sepi gini, padahal pemerintah janjinya mau meramaikan pasar, tapi nyatanya enggak ada usaha,” kesalnya kepada Radar Cianjur, Kamis (8/8).

Pedagang pakaian di Blok B itu menambahkan, hal lain yang memberatkan para pedagang adalah, janji Pemkab Cianjur yang sejak dari dulu menyatakan akan memindahkan pasar-pasar bayangan dan lainnya ke PIC.

Nyatanya, sejak dari pemindahan pada 2015 lalu hingga saat ini, janji itu sama sekali tak pernah direalisasikan Pemkab Cianjur. Yang ada, pasar-pasar bayangan malah makin merajalela dan terkesan dibiarkan begitu saja.

“Dulu janjinya kan gitu. Nyatanya beda. Kesannya para pedagang PIC ini dibiarkan saja nasibnya seperti ini,” tuturnya.

Senada, juga disampaikan Haris (53). Pedagang peralatan rumah tangga itu mengaku pendapatannya mengalami penurunan terus menerus sejak dipindah pada 2015 lalu. Sayangnya, berbagai upaya dan aspirasi yang disampaikan, hanya berujung pada janji-janji saja.

“Kita ini istilahnya sudah bosan menyampaikan aspirasi. Sudah capek. Yang kita dapat juga gitu-gitu aja (janji-janji, red),” ungkapnya.

Pria yang juga Bendahara Dewan Perwakilan Pedagang (DPP) PIC itu berharap, retribusi PIC sebaiknya tidak dinaikkan. Alasannya, Pemkab Cianjur juga selama ini masih belum merealisasikan janji-janjinya dulu.

Selain itu, mengingat kondisi para pedagang yang omsetnya terus mengalami penurunan. Jika dipaksakan, bukan tidak mungkin para pedagang akan semakin tak mau mematuhi aturan yang dibuat Pemkab Cianjur.

“Ini sudah ribuan pedagang yang bangkrut dan tidak berjualan lagi. Masa iya kondisi pasar sepi, pendapatn turun, tapi retribusi malah dinaikkan. Ini kan logika yang sangat tidak masuk akal,” tegasnya.

(cr1)