Gawat, Pendeteksi Tsunami di Cianjur Rusak

Tsunami Early Warning System

RADARCIANJUR.com – Ini bisa jadi peringatan bagi warga Cianjur, utamanya di sepanjang pesisir pantai selatan. Pasalnya, alat pendeteksi tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS) yang dipasang di laut Selatan Cianjur, ternyata tidak berfungsi alias rusak.

Berdasarkan informasi yang didapat Radar Cianjur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menerima delpan TEWS pada 2010 lalu. Alat yang bisa mengantisipasi gelombang tsunami itu dipasang di lepas pantai di Kecamatan Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta. Sedangkan lainnya buah lainnya dipasang di sejumlah titik lainnya.

Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Dodi Permadi mengakui, bahwa alat tersebut memang sudah lama rusak. Pasalnya, sejak dipasang, pihaknya sampai kini sama sekali tidak bisa mengoperasikannya.

Dodi menjelaskan, ketidaktahuan petugas itu lantaran pihaknya sama sekali tak menerima petunjuk dan manual pengoperasian alat yang dibuat serta dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

“Terus terang saja, sampai saat ini kami tidak tahu bagaimana mengoprasikannya. Sejak diberikan sampai sekarang, tidak tahu harus digunakannya seperti apa, karena tidak ada arahan dan panduan,” kata Dodi, belum lama ini.

Akibatnya, alat yang memiliki peran penting dalam meminimalisir dampak bencana gempa dan tsunami itu dibiarkan begitu saja sehingga tidak terawat. Akibatnya, alat tersebut kemudian rusak.

Saat ini, lanjutnya, pihaknya sudah melaporkan kondisi tersebut ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB). Harapannya, agar alat tersebut bisa secepatnya diperbaiki dan digunakan lagi.

“Rusaknya sekitar 2017 lalu. Sudah kami laporkan, biar ada perbaikan dan bisa dioperasikan,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga berharap agar lebih dulu ada pelatihan serta arahan sehingga pihaknya bisa mengoperasikan serta melakukan perawatan. Selama ini, pihaknya juga tak berani mengutak-atiknya. Dikhawatirkan, malah akan membuat alat tersebut tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

“Semoga bisa secepatnya karena alat ini juga sangat penting. Apalagi akhir-akhir ini cukup sering terjadi gempa. Terakhir kemarin gempa di Banten yang getarannya juga sangat terasa sampai Cianjur,” tuturnya.

Kendati alat tersebut rusak dan tak bisa dioperasikan, sambung Dodi, pihaknya tetap mengerahkan petugas di lapangan untuk tak henti-hentinya melakukukan sosialisai kepada masyarakat, utamanya di sepanjang pesisir pantai.

Dodi menjelaskan, yang perlu diketahui masyarakat, selain meningkatkan kewaspadaan, adalah mengamati gempa. Jika guncangan gempa terjadi sampai dengan 20 detik atau lebih, sangat dimungkinan berpotensi tsunami, jika pusat gempa berada di bawah laut.

“Dan jarak antara gempa dengan gelombang tsunami rata-rata sekitar 20 menit. Dengan jarak waktu tersebut, diharapkan agar masyarakat segera mencari tempat yang lebih aman atau tinggi untuk menghindari gelombang tsunami,” papar dia.

Selain itu, Dodi juga mengimbau agar masyarakat tidak langsung panik saat gempa terjadi. Jika memang ada potensi tsunami, ada baiknya masyarakat mengabarkan kepada yang lainnya.

“Bisa pakai kentongan sebagai tanda peringatan untuk warga. Yang jelas jangan panik, tpai memang harus cepat,” tutupnya.

(kim)