Ironis! SDN Jaya Mekar Sindangbarang Nyaris Ambruk, Siswa Belajar di Lantai Teras

BUTUH PERBAIKAN: Siswa siswi SDN Jayamekar terpaksa belajar di teras beralas lantai karena kondisi ruang kelas semakin parah pasca gempa. FOTO: JAJANG SUGIARTO/RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Sudah rusak, makin rusak. Kondisi atap bangunan di SDN Jaya Mekar Sindangbarang hampir ambruk. Atap bangunan yang sudah rusak parah terpaksa diganjal dengan bambu seadanya agar tidak ambruk menimpa siswa-siswi yang tengah mengadakan kegiatan belajar mengajar.

Di Kecamatan Sindangbarang ternyata masih ada SD yang kondisinya sudah tidak layak pakai nyaris ambruk. Padahal, sekolah tersebut sangat dibutuhkan oleh anak-anak didik khususnya warga Kampung Bantaka RT04/RW03, Desa Muaracikadu, Kecamatan Sindangbarang.

Atap bangunan sekolah sudah pada rapuh. Untuk menjaga supaya tidak ambruk, pihak sekolah terpaksa menggganjal atap dengan bambu karena dikhawatirkan timbul korban terhadap peserta didik. SDN Jayamekar memiliki 74 siswa siswi. Hingga kemarin lusa, Sabtu (10/8), sejumlah siswa harus belajar di luar sekolah tepatnya di teras sekolah duduk tanpa alas apa pun.

Komite SDN Jayamekar, Hasan (62) mengatakan, sudah sejak dulu dua ruang kelas di SDN Jayamekar kondisinya sudah mau ambruk tapi belum mendapatkan bantuan baik ruang kelas baru (RKB) ataupun rehab bangunan.

“Sekolah SDN Jayamekar berdiri sejak tahun 1981 dan waktu itu masih bernama inpres. Bangunan yang ada ini dulunya dibangun dengan swadaya warga masyarakat kini umurnya udah tua serta sudah rapuh dan mau ambruk,” ujarnya.

Hasan menjelaskan, beberapa hari sebelumnya, masih bisa dipaksakan dipakai belajar anak anak. Namun, saat ada gempa bumi yang cukup besar membuat atapnya ambruk, sehingga tak bisa dipakai lagi.

“Harapan kami memohon kepada pihak dinas pendidikan kabupaten dan provinsi untuk segera membantu pembangunan ruang kelas baru, sebab kasihan anak-anak sekolah,” pintanya.

Hal sama dikatakan salah seorang guru, Dudi Riyana. Menurutnya, bangunan ruang kelas sekolah SDN Jayamekar semuanya ada tiga ruang kelas di antaranya kelas 1, 2 dan 3. Namun karena sekolah tidak memiliki ruang kantor sehingga ruang kelas 1 digunakan sebagai kantor.

“Sebenarnya kondisi bagunan sekolah ruang kelas 1 dan 2 yang rusak ini sudah lama sudah hampir empat tahun. Sebelum gempa yang kemarin masih bisa dipakai. Kalau sekarang tidak bisa dipakai sebab semakin parah dan sebagian atapnya sudah ambruk ambruk, sehingga kami mengevakuasi anak-anak untuk supaya bisa terus belajar di teras sekolah yang penting aman,” tuturnya.

Dudi mengungkapkan, pihak sekolah sudah mengajukan pembangunan RKB dan rehab dengan cara membuat proposal yang ditujukan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten dan provinsi tapi sampai saat ini belum ada tanggapannya.

“Tahun ajaran kemarin banyak orang tua murid yang tidak mau menyekolahkan anaknya di SDN Jayamekar karena melihat kondisi bangunannya tidak layak pakai dan mau ambruk. Mereka ketakutan anak-anaknya tertimpa atap sekolah sehingga mereka terpaksa menyekolahkan anaknya ke SD yang agak jauh,” paparnya.

Masih menurut Dudi, jumlah guru pengajar semuanya ada tujuh. Dari jumlah tujuh itu, empat di antaranya sudah PNS. Sedangkan tiga guru lainnya masih berstatus honorer. Selain itu, masih ada tenaga satu orang penjaga sekolah dan seorang kepala sekolah.

Ia berharap, pihak dinas terkait datang memeriksa lokasi sekolah karena kini kondisinya sudah tidak bisa dipakai belajar. “Kami kasihan terhadap anak-anak sudah hampir 12 hari ini belajar di luar sekolah. Beruntung sekarang musim kemarau coba kalau musim hujan terpaksa kami akan pasang tenda,” pungkasnya.

(jay)