Menguak Untung dan Buntung Kemacetan di Cianjur

TAK BERGERAK: Kemacetan di Gekbrong pada pagi hari membuat kendaraan nyaris tak bergerak. Kondisi ini terjadi di jamjam tertentu setiap harinya.

RADARCIANJUR.com – Macet. Satu kata ini menjadi hal yang sangat dihindari tak tak ingin ditemui para pengendara dan pengguna jalan. Akan tetapi, sayangnya, kondisi tersebut mau tak mau tetap harus dirasakan dan dialami manakala melintasi sejumlah titik kepadatan atau kemacetan. Yang dirasakan, sudah pasti jengkel dan dongkol. Belum lagi membuat perjalanan menjadi lebih lama dan melelahkan. Tapi, macet bukan saja merugikan. Bagi sebagaian orang, ada rezeki yang bisa dikais dari kemacetan.

LAPORAN: Abdul Aziz N Hakim dan Fadil Munajat, CIANJUR

CIANJUR-Lazimnya, kemacetan memang jelas merugikan. Utamanya bagi para pengendara dan pengguna jalan. Pasalnya, macet jelas menghambat perjalanan dan semakin membuat perjalanan bertambah lama. Belum lagi faktor psikolgis yang ikut mempengaruhi para pengendara ketika terjebak di dalam sebuah kemacetan.

Tapi ternyata, ada juga yang ‘diuntungkan’ dengan adanya kemacetan ini. Seperti yang diungkap Ujang (26), salah seorang juru parkir di Pasar Kamisan. Ia mengaku, sekali dalam seminggu, penghasilannya meningkat dari hari biasa. Dalam satu hari itu saja, ia mendapat keuntungan tak kurang dari Rp100 ribu.

“Lumayan jaga parkir. Biasanya tiap hari saya memulung,” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Ujang mengaku, pendapatan itu adalah hasil bersih yang didapat dari tarif parkir yang didapatnya dari para pengunjung pasar yang memarkirkan kendaraannya setelah disetor ke sejumlah pihak terkait lainnya yang berwenang.

BACA JUGA : 4 Titik di Cianjur yang Semakin Macet

“Lumayan buat nambah rezeki. Kalau hasil memulung setiap harinya jauh, gak sampai Rp100 ribu,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Deni (32) tukang ojeg di salah satu persimpangan di kawasan Sukaluyu. Ia menyatakan, dirinya bersama rekan sesama tukang ojeg, mendapat penghasilan tambahan dari menyeberangkan kendaraan yang keluar masuk di persimpangan.

“Kalau semakin macet dan ramai kendaraan kan semakin banyak yang ngasih uang receh,” katanya.

Dari setiap kendaraan yang keluar masuk persimpangan, memberikan uang bervariasi mulai dari Rp500 sampai Rp2 ribu per kendaraan. Jika dihitung ada 200 kendaraan, maka pendapatan tambahan yang bisa didapat bisa mencapai Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari.

“Tapi itu juga dibagi sama teman-teman ojeg lainnya. Kan semua ikut nungguin. Istilahnya ya buat beli minum atau gorengan waktu nunggu penumpang saja,” jelasnya.

‘Keuntungan’ adanya kemacetan juga didapat Asep (38) yang mengandalkan ramainya kendaraan saat ia menjajakan cemilan dan minuman dingin di jalan. “Kalau tambah macet kan kita ini bisa jualan. Kalau lancar kita malah gak bisa jualan. Kalau macet pasti makin banyak yang beli,” ungkapnya.

Kendati tak terang-terangan mengharapkan macet setiap waktu, tapi Asep mengakui kondisi jalan yang makin macet, malah makin mendatangkan keuntungan baginya.

“Lumayan hasilnya kalau macet. Jelas bertambah dibanding kalau jalannya enggak macet,” akunya.

Akan tetapi, macet juga jelas membuat rugi para pengendara dan pengguna jalan. Seperti yang dikatakan Umar (32), salah seorang karyawan swasta yang bekerja di sebuah perusahaan di perbatasan Cianjur-Sukabumi.

Lantaran macet, ia harus mengantisipasinya dengan berangkat lebih awal dari rumahnya agar tak telat sampai kantornya. “Rumah saya di Cikancana. Untuk menghindari macet di pertigaan Gekbrong saya berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 Wib,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan Arie (16), salah seorang pelajar SMA yang mengaku harus berangkat lebih pagi setiap harinya untuk sampai ke sekolah. Jika telat sedikit saja karena terjebak kemacetan, dirinya harus berhadapan dengan pihak sekolah.

“Merugikan kalau macet. Apalagi kita kan kalau sekolah tidak boleh telat. Jadi mau gak mau ya harus berangkat lebih awal,” tuturnya.

Obuy (35) seorang pengemudi angkutan umum jurusan Cianjur-Gekbrong mengatakakan, kemacetan selalu terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga pukul 07.00 WIB.

“Jam-jam tersebut adalah saat pergantian shift pabrik, saat anak-anak berangkat sekolah, pegawai berangkat kerja. Jadi semuanya bareng-bareng,” kata Obuy.

Sementara, Pian Sopian (26), penjual kopi di pinggir jalan depan Pasar Ciranjang mengatakan, macet baginya tidak terlalu memberikan dampak peningkatan pendapatan.

“Enggak ada pengaruh pendapatan tambah. Malah biasa aja. Yang beli yang orang itu-itu aja yang biasa membeli. Bukan pengendara,” katanya.

Sedangkan Rahmat (43), sopir truk ekspedisi kepada Radar Cianjur mengatakan, kemcetan jelas memberikan kerugian. Pasalnya, konsumsi bahan bakar akan semakin besar yang berdampak pada membengkaknya biaya perjalanan.

“Kirim barang juga jadinya lama di jalan. Padahal kita sudah ditarget harus bisa ngantar barang sampai ke lokasi tepat waktu. Kalau telat, kita yang selalu kena marah. Padahal ya karena macet,” ujar dia.

(kim/dil)