Cianjur Macet Jalan Semakin Menyempit, Dishub tak Berdaya

TAK BERGERAK: Kemacetan di Gekbrong pada pagi hari membuat kendaraan nyaris tak bergerak. Kondisi ini terjadi di jamjam tertentu setiap harinya.

RADARCIANJUR.com – Kemacetan nampaknya bukan hanya karena meningkatnya kendaraan yang ada di Kabupaten Cianjur saja, ternyata penataan ruang serta keberadaan terminal bayangan yang juga turut menyumbat kemacetan lalu lintas.

Selain itu, ada juga perilaku para pengendara dan pengguna jalan yang seenaknya sendiri dengan memarkirkan kendaraannya di sisi jalan. Utamanya perilaku angkutan umum yang seenaknya berhenti menunggu penumpang di tempat-tempat tertentu.

Di sisi lain, sejumlah jalan, utamanya di perkotaan, mengalami penyempitan akibat pembangunan trotoar dan taman. Tak pelak, jumlah kendaraan yang bertambah tiap tahunnya, tak lagi bisa ditampung. Ujung-ujungnya, macet.

Seperti sepanjang Jalan Ir H Juanda (Selakopi) sampai Jalan Suroso (Alun-alun) yang kini semakin sempit. Di sisi lain, sepanjang jalan itu pula, kendaraan bisa parkir di sisi jalan. Praktis, kemacetan pun dengan mudah terjadi.

Hal yang sama juga terjadi di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto. Selain menyempit, parkir kendaraan yang memakan separuh jalan membuat macet tak bisa dihindari lagi. Belum lagi ditambah para pengguna jalan yang berhenti seenaknya di sisi jalan tanpa mempedulikan kemacetan panjang yang ditimbulkan.

Staf Subbag Perencanaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur, Tati mengungkapkan, pelebaran trotoar tersebut sebelumnya memang diprioritaskan untuk para pejalan kaki. Sekaligus bertujuan untuk membersihkan kawasan trotoar dari para pedagang kaki lima (PKL).

Akan tetapi, pihaknya membantah bahwa sejumlah ruas jalan tersebut semakin sempit. “Bukan penyempitan, itu kan dibuat karena dulu banyak PKL yang berjualan di pinggir jalan dan pejalan kaki tidak mendapatkan haknya. Serta untuk saluran air juga,” jelasnya kepadar Radar Cianjur, kemarin (13/8).

Selain jalan yang makin sempit, kondisi lainnya penyebab macet adalah adanya termal bayangan di sejumlah lokasi. Dari pengamatan Radar Cianjur di lapangan, jumlahnya pun tak sedikit.

Di wilayah perkotaan saja, setidaknya ada enam terminal bayangan. Di antaranya Jalan Raya Bandung (Depan Terminal Rawabango), Jalan Raya Bandung (Dishub Cianjur), Pasar Muka, Panembong, pertigaan Jalan Raya Sukabumi dan Jalan Raya Cibeber.

Dinas Perhubungan yang menaungi keberadaan angkutan umum itu sendiri mengaku sudah melakukan upaya penertiban. Bukan hanya sekali, tapi sudah dilakukan berkali-kali. Akan tetapi, angkutan umum itu tetap kembali lagi ke terminal bayangan dimaksud.

“Sudah kita tangani. Tapi ya gitu, masih membandel,” ujar Kabid Lalulintas Dishub Kabupaten Cianjur, Joni.

Joni juga menyebut bahwa pihaknya tak hanya melakukan penertiban. Tapi juga sudah memberikan peringatan dan teguran. Sayangnya, sanksi tersebut hanya berlaku untuk beberapa waktu saja.

Ujung-ujungnya, angkutan umum itu kembali mangkal ke tempat-tempat yang sejatinya sudah tegas dilarang untuk mangkal. “Kita arahkan juga ke terminal. Tapi ya bagaimana, malah balik lagi ke tempat semula,” paparnya.

Sementara untuk lampu lalulintas seperti lampu merah beberapa waktu yang lalu sudah diperbaiki. Namun tidak semua lampu lalulintas menjadi tanggungjawab Dishub Kabupaten Cianjur. Ada beberapa menjadi kewenangan Dishub Provinsi Jawa Barat.

“Penanganan lampu merah ada dua, yang berada di jalur provinsi dan jalur kabupaten. Jadi tidak semua ditangani oleh Dishub Kabupaten Cianjur,” ungkap Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalulintas Dihub Kabupaten Cianjur, Muhamad Iqbal Safaruddin.

Dari hasil pantauan di lapangan, memang lampu merah seperti di Jalan Mangunsarkoro sudah menyala. Namun, beberapa pengendara terkesan acuh dan menerobos. Sehingga terkadang kendaraan dari arah lain harus berhadap-hadapan dan terjadi kepadatan arus lalulintas.

“Ya kan kita bisa lihat, walaupun lampu merahnya sudah nyala dan diperbaiki, tapi kesadaran masyarakat masih kurang,” tutupnya.

(kim)