Parkir Pinggir Jalan Bikin Tambah Macet

MASIH BELUM TERTIB: Kondisi tempat parkir di Jalan Hos Cokro Aminoto nampaknya masih harus dikaji ulang, pasalnya salah satu titik macet. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Deretan parkir kendaraan di sisi jalan sampai memakan badan jalan bisa di Kabupaten Cianjur menjadi pemandangan yang cukup membuat tak sedap. Tak hanya itu, parkir di sisi jalan ini menjadi salah satu penyebab kemacetan di sejumlah titik.

Bisa jadi, tak banyak daerah yang bisa menjadikan jalan umum sebagai tempat parkir seperti yang dilakukan di Kabupaten Cianjur.

Seperti yang terjadi di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto sampai dengan Jalan Mangunsarkoro yang setengah jalan ‘dimakan’ lahan parkir. Akibatnya, setiap hari, dipastikan kawasan tersebut mengalami kemacetan.

Kondisi tersebut masih ditambah dengan kegiatan bongkar muat di sisi jalan yang makin memakan habis jalan tersisa. Ditambah, perilaku pengguna jalan, utamanya roda empat dan angkutan umum yang kerap kali berhenti di sisi jalan tanpa mempedulikan kemacetan yang ditimbulkannya.

Kabid Teknik Sarana dan Keselamatan Dishub Kabupaten Cianjur, Prihadi Wahyu Santosa mengatakan, parkir di Jalan Hos Cokro Aminoto atau lebih dikenal Jalan Raya itu adalah kegiatan yang legal alias didasari hukum.

Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Cianjur Nomor 551.11/Kep.175-Dishub/2012 tentang Penunjukan Lokasi Parkir di Tepi Jalan Umum dan Tempat Khusus Parkir.

“Tempat parkir di Jalan Raya itu sudah tertuang dalam keputusan bupati,” bebernya.

Dasar hukum lain yang mendukung hal juga tertuang dalam perubahan ketiga atas Surat Keputusan Bupati Cianjur nomor 551.11/Kep.175-Dishub/2016 tentang Perubahan Ketiga.

Di sisi lain, Dishub Kabupaten Cianjur tak bisa berbuat banyak. Tidak seperti kabupaten atau kota lainnya. Ketika ada yang sembarangan memarkirkan kendaraan maupun menjadi penyebab penyempitan jalan, langsung bisa melakukan tindakan seperti menderek maupun digembok pada bagian ban.

“Ya karena ada dasar hukum itu tadi. Kan jadinya legal. Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Sementara itu, sejumlah ruas jalan, utamanya di perkotaan, kini semakin menyempit dan menjadi salah satu pemicu kemacetan.

Ditanya terkait penyempitan jalan itu, Subbidang Perencanaan Permukiman, Perhubungan dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Cianjur, Aris Munandar mengungkapkan, pihaknya pun tidak mengetahui tata ruang pembangunan trotiar yang sampai mempersempit jalan.

Bahkan rencananya, dirinya akan menanyakan perihal tersebut secara langsung ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur.

“Justru saya juga kurang tahu itu (pembangunan trotoar dan taman yang membuat jalan makin menyempit, red) jadi kecil. Saya akan tanyakan ke Dinas PUPR nanti supaya jelas dan gak ngasal juga,” ungkapnya.

Sementara, Muhammad Reza (25) mengaku, penghasilannya sebagai salah satu tukang parkir di kawasan Jalan Mangunsarkoro bisa dibilang cukup lumayan. Bahkan, penghasilan sebagai tukang parkir itu menjadi satu-satunya sumber penghidupannya.

“Tergantung kalau penghasilan. Kalau ramai ya dapatnya makin banyak. Kalau sedikit yang agak kurang,” tuturnya kepada Radar Cianjur, kemarin.

Di kawasan itu, tarif parkir untuk roda dua dan roda empat dibedakan. Yakni Rp2.000 untuk roda dua dan Rp3.000 untuk kendaraan roda empat. Setiap hari pula ia harus menyetor ke Dishub.

dalam sebulan, dirinya bisa mendapatkan penghasilan bersih sampai dengan Rp4 juta. “Per setengah hari kalau lagi ramai bisa dapat Rp250 ribu. Kalau agak sepi cuma dapat Rp200 ribu. Yang Rp100 ribu disetor ke Dishub,” ungkapnya.

Namun pernyataan berbeda diungkap Husen (47), salah satu tukang parkir yang juga berada di kawasan yang sama. Dengan tarif parkir yang sama, ia diwajibkan menyetor ke Dishub sebesar Rp450 ribu per harinya.

Dengan setoran wajib yang cukup besar itu, terkadang dirinya terpasa nombok alias merugi lantaran hasil parkir yang didapatnya per setengah hari tak sampai besaran setoran.

“Untungnya masih ada toleransi. Jadi bisa nyicil kekurangannya. Atau bisa ditutup dengan penghasilan di hari-hari selanjutnya,” terangnya.

Setiap harinya, lanjut Husen, dirinya bisa mendapatkan penghasilan bersih berkisar antara Rp60 ribu sampai Rp80 ribu per setengah hari. “Ya kalau ramai bisa sampai segitu. Per bulan ada kurang lebih Rp2 jutaan,” tuturnya.

(kim/cr1)