Remaja di Cianjur Bawa Ratusan Excimer

RADARCIANJUR.com – Mengendarai sepeda motor di persimpangan Pasar Ciranjang menjadi penyebab remaja 16 tahun berinisial AP harus berurusan dengan polisi. Awalnya AP diberhentikan petugas karena tidak mengenakan helm. Namun, saat digeledah ternyata AP tengah membawa 180 butir eximer atau pil x.

AP tengah mengendarai sepeda motor dari arah Bandung menuju Cianjur pada siang hari kemarin. Dengan asyik, remaja ini menarik gas motornya di depan Pasar Ciranjang tanpa mengenakan pelindung kepala. Anggota Lantas Polsek Ciranjang, Brigadir Cecep Ismatullah yang tengah bertugas langsung memberhentikan laju motor AP.

Saat diberhentikan, AP tidak menunjukkan sikap kooperatif dan terkesan melawan dengan nada tinggi. Brigadir Cecep yang ditemani Bripka Yosep segera memeriksa surat kelengkapan berkendara. Namun, AP semakin naik pitam.

Akibat sikap yang enggan bekerjasama itulah membuat Brigadir Cecep dan Brigadir Yosep melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan cara menggeledah unit motor dan tubuh AP. “Waktu itu ia bawa motor gak pake helm, ya jelas kita berhentikan. Tapi saat diajak bicara, malah melawan petugas dengan nada tinggi dan akhirnya kita periksa,” ujar Brigadir Cecep kepada Radar Cianjur.

Nada tinggi itu pun sempat membuat warga sekitar ikut menyalahkan sikap AP yang melawan petugas. Benar saja, saat diperiksa, ternyata AP menyimpan 180 butir pil x di saku kanan celananya. Ratusan pil itu tersimpan di dalam kantong plastik bening.

Tak butuh waktu lama, petugas pun segera membawa AP ke Polsek Ciranjang. Pada saat diperiksa, AP berkilah barang tersebut bukan miliknya. AP beralasan, ratusan pil kuning itu ia temukan di sekitar Andir, Ciranjang.

Tak mudah percaya begitu saja, akhirnya petugas kepolisian memanggil keluarga bersangkutan yang didampingi Babinsa dan Bhabinkantibmas. “Ngakunya nemu dan dikira satu bungkus rokok yang jatuh. Namun alasan tersebut tidak masuk akal dan tidak kami terima begitu saja,” paparnya.

Informasi yang dihimpun, saat ini masih dalam pengembangan anggota Reskrim Polsek Ciranjang . Jika masih tidak mengakui, temuan tersebut akan dilimpahkan ke Polres Cianjur.
“Yang kita khawatirkan, barang tersebut (eximer, red) akan diedarkan. Namun masih dalam pengembangan,” ungkapnya.

Dikutip dari alodokter.com: excimer (Chlorpromazine) adalah obat golongan antipsikotik fenitiazina yang digunakan untuk mengobati gangguan mental seperti perilaku agresif yang membahayakan, kecemasan dan kegelisahan, skizofrenia, psikosis, serta autisme, dan juga mengatasi mual, muntah dan cegukan yang lama.

Efek obat tersebut pada umumnya akan hilang dengan sendirinya jika baru mengkonsumsi sekali dan tidak dilanjutkan. Obat ini tidak terdaftar dalam MIMS (kitab daftar obat-obatan yang beredar secara resmi), bisa membuat orang kecanduan.

Kasat Narkoba Polres Cianjur, AKP Ade Hermawan mengungkapkan, belum menerima laporan dari Polsek Ciranjang. “Belum ada (laporan) dari Ciranjang,” singkatnya.

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, di tahun 2019 ini, Jawa Barat menjadi provinsi dengan peredaran narkoba dengan jumlah terbesar. Atas alasan itu pula, BNN menjadikan Jawa Barat sebagai daerah yang mendapat perhatian ketat.

Berdasarkan penelitian selama satu tahun terakhir, BNN mencatat, dari 100 anak muda di Jawa Barat, lima di antaranya sudah terpapar narkoba.

Jumlah tersebut menandakan bahwa peredaran dan pengguna narkoba di Jawa Barat sudah mencapai angka lima persen. Angka tersebut jauh di melewati ambang batas dunia yang menempatkan angka dua persen sebagai ambang batas teratas.

Kepala BNN Komjen Heru Winarko mengatakan, untuk menekan angka peredaran dan pemakai narkoba di Jawa Barat, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menekan peredaran dengan satu di antaranya yakni program Desa Bersih Narkoba (Bersinar).

Program tersebut dideklarasikan bersama Kapolsek, Danramil, Camat, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Kepala Desa, Kepala Puskesmas, se-Kabupaten Cianjur di Gedung Assakinah, Selasa (13/8) lalu. “Tahun ini saya fokus di Jawa Barat, karena paling tinggi peredaran dan pengguna di Jabar, terutama remaja. Hasil penelitian tahun lalu mendekati angka lima persen, dari 100 anak muda lima di antaranya terpapar sebagai pengguna,” ujar Heru.

(kim/cr1)