Saksi Bisu Perjuangan Pasukan Cianjur, Begini Kondisi Jembatan Cisokan

PENUH RUMPUT KERING: Jembatan Cisokan Lama dinilai berbahaya untuk dilintasi khususnya bagi pengendara sepeda motor.

RADARCIANJUR.com – Keropos tak terurus. Bergetar apabila kendaraan melintas di atasnya. Ada empat lubang dengan rata-rata diameter 10 sentimeter memperparah kondisinya. Tak ada penjagaan di kanan dan kiri. Padahal, di bawahnya mengalir air dari Waduk Cirata setinggi 15 meter.

Ya, jembatan Cisokan Lama jauh dari kata layak untuk digunakan. Hal tersebut menandakan berbahaya untuk dilintasi. Selain itu, pada sisi kiri dan kanan tak ada batas penjagaan jembatan yang dulu pernah menjadi jalur transportasi Cianjur-Bandung. Hanya sesekali digunakan oleh masyarakat sekitar maupun pengendara roda dua yang menghindari macet di jalan utama.

Tak sulit bagi yang ingin melihat jembatan yang pernah menjadi akses utama ini. Jembatan seakan terlihat kokoh saat terlihat di jalan utama atau dari Jembatan Cisokan yang baru. Akan tetapi yang terlihat tidak seperti kenyataannya.

Hembusan angin dingin seakan menegaskan tempat ini sudah lama tak digunakan. Udaranya yang masih segar dan posisi di antara dua bukit, membuat udara jembatan dengan tinggi kurang lebih 15 meter ini sejuk pada sore hari.

Tak hening memang. Lalu lalang kendaraan di Jembatan Cisokan yang baru masih terdengar. Namun, ramainya jalan seakan tak seramai cerita Jembatan Cisokan Lama.

73 tahun lalu. Pertumpahan darah pernah terjadi di jembatan yang sudah mulai rapuh ini. Selain itu, kondisinya kini tak seramai dulu sebagai jalur transportasi menuju bandung, menjadi jembatan tersebut semakin tidak diperhatikan dan tidak terurus oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur.

Hanya beberapa warga di Kampung Bedengsaring, Desa Hegarmanah, Kecamatan Sukaluyu yang masih membersihkan jembatan. Perhatian yang diberikan oleh masyarakat setempat.

Tidak banyak cerita mengenai Jembatan Cisokan ini yang dulu pernah terjadi Pertempuran Ciranjang. Beberapa saksi serta pelaku sejarah pun telah terbaring di peristirahatan terakhir. Beberapa masyarakat sekitar pun tak mengetahui mengenai Pertempuran Ciranjang.

Bahkan tak ada cerita turun temurun mengenai penghadangan pasukan Inggris oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) beserta pasukan gabungan yang terdiri dari unsur-unsur BBRI, Hizbullah dan Sabilillah yang akan menuju ke Bandung.

BACA JUGA: Sejarah Pertempuran Kali Cisokan, Ketika Pasukan Gurkha jadi Bulan-bulanan Pasukan Cianjur

Warga hanya mengetahui sejarah jembatan tersebut melalui adanya bangunan berupa tugu dengan tinggi sekitar satu setengah meter dengan bentuk kubus panjang disertai ukiran tulisan yang menandakan perjuangan.

Dedeh (50), sudah 19 tahun tinggal di dekat jembatan Cisokan. Dirinya tak mengetahui banyak mengenai tempat bersejarah tersebut. Bahkan orang tuanya tak menceritakan apa yang telah terjadi 73 tahun yang lalu. “Gak ada cerita turun temurun maupun dari orang tua, hanya pernah dikasih tau ini dulunya tempat perjuangan,” ujar ibu dua orang anak ini.

Orang yang dituakan di kampungnya pun rata-rata sudah berpulang ke pembaringan terakhir. Sehingga tak meninggalkan dokumen maupun catatan sejarah.

Sore hari berganti malam. Keadaan semakin menjadi hening. Seakan hiruk pikuk jalan tak menjadikan tempat tersebut hidup. Beberapa warga lebih memilih beraktivitas di dalam rumah kala mentari mulai tenggelam. “Mejelang malam memang sepi begini kang, kalau pun ada yang lewat biasanya karena mencari jalur alternatif supaya cepet lewatnya,” paparnya.

Meski kondisinya sudah tua dan mulai bergetar setiap pengendara yang melintas, namun masyarakat masih tetap menjadikan Jembatan Cisokan Lama sebagai akses untuk menyebrangi sungai Cisokan yang mengalir dari Waduk Cirata tersebut. Jembatan Cisokan Lama. Kini hanya berteman sepi. Besi penahan yang sudah berkarat menjadi penghias kondisinya kini.

Sementara itu, Syar’i (83) yang bertempat tinggal di Jalan Raya Ciranjang Desa Hegarmanah Kecamatan Sukaluyu mengungkapkan, dirinya mengetahui sedikit mengenai Jembatan Cisokan Lama. Sekitar tahun 1960, saat dirinya pertama kali ke Cianjur mulai mengikuti pembangunan jembatan Cisokan yang kini menjadi jalan utama.

Bahkan dirinya menyaksikan saat truk bermuatan gula pasir terjatuh ke jurang jembatan setinggi kurang lebih 15 meter tersebut. “Dulu pertama ke Cianjur sekitar tahun 1960 dan bekerja untuk pembangunan jembatan yang sekarang, sempat melihat beberapa kecelakaan disana (Cisokan Lama, red) kayak truk yang membawa gula pasir dan sampai air sungai rasanya manis,” ungkapnya.

Selain kecelakaan truk bermuatan gula pasir, kecelakaan lainnya pernah terjadi yakni bus bermuatan penumpang dari Tangerang terjun bebas ke sungai. Pria asal Subang ini bercerita, saat itu hanya satu yang selamat yakni seorang bayi laki-laki yang tersangkut di pohon bambu.

Dari berbagai kejadian kecelakaan itulah akhirnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat membangun jembatan baru yang lebih lebar. “Setelah kejadian tersebut, bapak diajak kerja untuk membangun jembatan yang sekarang, karena jembatan lama sering terjadi kecelakaan,” jelasnya sembari terbata-bata.

(kim)