Sejarah Pertempuran Kali Cisokan, Ketika Pasukan Gurkha jadi Bulan-bulanan Pasukan Cianjur

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Sedikit yang tahu. Sedikit juga yang pernah mendengar. Jembatan Cisokan Lama yang menjadi penyambung Desa Hegarmanah, Kecamatan Sukaluyu dengan Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang menjadi saksi bisu sejarah pertempuran Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pasukan sekutu pasca Perang Dunia kedua. Di jembatan yang menjadi jalur vital itu, Pasukan Gurkha asal Nepal menjadi bulan-bulanan pasukan Cianjur.

Memutar waktu jauh ke belakang, tepatnya pada Desember 1945, Jawa Barat (Jabar) benar-benar menjadi medan perang yang panas. Semangat kemerdekaan semakin berkobar di setiap pos-pos perjuangan pasukan Indonesia tak terkecuali pasukan di Jabar yaitu Cianjur dan Sukabumi.

Dengan strategi perang hit and run, Jembatan Cisokan menjadi neraka pasukan sekutu. Hit and run merupakan strategi yang dilancarkan resimen TKR untuk memukul pasukan sekutu baik di Cianjur maupun di Sukabumi.

Secara teknis, strategi ini merupakan strategi penyergapan yang dilakukan TKR di sepanjang urat nadi perlintasan Sukabumi-Cianjur-Bandung. Musuh yang sudah berada di titik ‘pembantaian’ tidak akan dihabisi sepenuhnya. Sisa pasukan dibiarkan tetap melintas namun dengan kondisi babak belur. Tanpa kendaraan yang cukup, tanpa jumlah pasukan yang memadai hingga kondisi pasukan yang penuh luka.

Pertempuran Ciranjang di Jembatan Cisokan bermula saat sekutu memberikan perintah melalui radiogram untuk memberangkatkan Batalyon 3/3 Gurkha Rifles. Pasukan Gurkha merupakan konvoi tentara penolong yang bergerak dari markas sekutu di Cimahi, Bandung pada 11 Desember 1945.

Tujuannya untuk membantu iring-iringan pasukan yang terjepit di tengah Kota Sukabumi menjemput perlengkapan perang yang akan menuju Bandung. Konvoi tersebut dikawal oleh beberapa tank Sherman, Panser Wagon dan Bren Carrier. Dalam pemberangkatan itu, pihak sekutu berusaha bergerak tanpa diketahui oleh pihak militer Indonesia. “Mereka terdiri dari pasukan 3/3 Gurkha Riffles yang dikawal sejumlah tank Sherman, panser Wagon dan brencarrier,” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi dalam Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946.

Namun, usaha untuk bergerak secara senyap nampaknya akan sia-sia saja. TKR beserta pasukan Hisbullah, Sabilillah, Barisan Banteng dan Yotam sudah bersiaga di sepanjang Jalan Ciranjang dan di atas tebing utara perbukitan yang dipimpin oleh Komandan Batalyon III, Kapten Anwar.

Sudah sejak dini hari, pasukan pejuang bersiap pada pos masing-masing meski kondisi gelap gulita dengan posisi pasukan yang menyebar secara serempak. “Beberapa pasukan ada yang berlindung di rumpun-rumpun pohon pisang. Mereka menunggu pasukan dengan moncong senjata diarahkan ke jalan raya dan siap melepaskan peluru terhadap rombongan sekutu,” ujar Anggota Kelompok Pecinta Sejarah The Brings, Aris M Rizal.

Pasukan Gurkha ditugaskan sekutu untuk menjemput pasukan Jats yang pontang-panting di Sukabumi. Pasukan Jats dinilai sangat penting oleh sekutu karena membawa beragam perlengkapan perang yang nantinya akan digunakan untuk peperangan besar di Bandung.

Seolah beriringan, Pasukan Gurkha berangkat menjemput Pasukan Jats. Sedangkan Pasukan Jats sudah menempuh perjalanan dari Sukabumi dengan berdarah-darah. Pasukan TKR yang berada di Jembatan Cisokan menunggu dengan sabar. Mereka bersiap menyambut kedatangan pasukan baik dari arah Sukabumi maupun Bandung.

Ternyata, pasukan Gurkha yang diberangkatkan dari Bandung tiba terlebih dahulu. Kapten Anwar mengatakan kepada Letnan II Abubakar yang berada di sampingnya bahwa menurut perhitungan, konvoi sekutu dari Sukabumi tidak akan melintas saat itu juga dan terkesan terlambat.

Mendengar hal tesebut, Letnan II Abubakar nampak kebingungan. “Memang dari informasi kurir saat itu, pasukan dari Sukabumi yang terlebih dahulu tiba di Jembatan Cisokan. Namun, nyatanya yang sampai Jembatan Cisokan duluan yaitu Pasukan Gurkha kiriman dari Bandung,” cerita pria yang kerap disapa Kang Aris itu.

Tidak berselang lama, Kapten Anwar memiringkan wajahnya sembari memberitahu kepada Letnan II Abubakar bahwa sebuah pesawat melitas di atas dari arah Bandung.

Sementara di tebing perbukitan Jembatan Cisokan Lama, Kapten Dasuni Zahid yang didampingi Letnan II Idris Priatna sudah bersiap untuk tempur. Tidak lama setelahnya, pada pukul 09.00 WIB kala itu, konvoi tentara Gurkha Rifles mulai merayap perlahan memasuki Jembatan Cisokan Lama sembari memantau sekitar.

Tank Sherman berada di paling depan untuk memimpin barisan menyebrangi jembatan dengan gemuruh mesin serta rodanya. Tak berselang lama, suara letupan pistol dari Kapten Dasuni Zahid menandakan penyerangan terhadap konvoi tentara Gurkha Rifles yang akan melintas.

Dengan posisi yang strategis berada di atas perbukitan, pasukan pejuang mulai memuntahkan peluru dari berbagai penjuru. Hujan peluru yang sudah diarahkan terhadap pasukan sekutu seakan sebagai tanda penyambutan dari pasukan TKR dan unsur lainnya.

Bukan hanya peluru yang dihujamkan, granat serta molotov menggetarkan jalan dan mengurai beberapa truk yang tidak sempat untuk menghindar. Pasukan Gurkha Rifles ragu-ragu untuk memutuskan sikap. Mempertahankan diri di atas truk menjadikannya menjadi bidikan yang empuk dan sasaran granat.

Tak sedikit yang nekad turun ke jalan. Langkah tersebut nampaknya bukan cara yang aman. Peluru-peluru dari senapan pemburu babi Beaumont sudah menanti. Beberapa pasukan Gurkha Rifles harus terkapar dengan kondisi terberai, hingga akhirnya pasukan yang tersisa kembali melompat ke atas truk.

Setelah dirasa serangan sudah cukup, Kapten Dasuni Zahid akhirnya memerintahkan pasukan untuk segera mundur. Lawan yang terpukul disertai rasa bingung, mulai menyusun kembali posisi dan mulai melanjutkan perjalanan secara perlahan hingga memasuki daerah Cikijing. “Memang strateginya seperti itu (Hit and Run). Musuh tidak dihabisi semua,” ungkapnya kepada Radar Cianjur.

Sepanjang badan jalan, ranjau tertanam dimana-mana. Salah satu truk jadi korban. Ledakan ranjau tersebut menjadi penanda untuk kembalinya pasukan pejuang menyerang dengan hujan peluru. Pasukan Gurkha mencari perlindungan. Semua kendaraan bergerak di tepian jalan guna menghidar ranjau yang diduga kembali meminta tumbal. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Salah satu supir truk mejadi korban peluru penembak jitu dan mengakibatkan truk tersebut oleng sehingga mengantarkan maut ke perangkap ranjau.

Letak geografis Kabupaten Cianjur diapit oleh beberapa kabupaten seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bandung Barat. Cianjur menjadi perlintasan dari sejak zaman dulu hingga sekarang, tak sedikit sejarah yang tersimpan di Kota Taucho ini.

Pertempuran di Ciranjang itu dikenal dengan Perang Konvoi. Merupakan salah satu catatan sejarah peperangan besar yang pernah terjadi di Kabupaten Cianjur. Tepatnya di Jembatan Cisokan Lama, Ciranjang.

Pertempuran Ciranjang itu terjadi dua kali. Pertama pada Desember 1945, yang kedua yaitu pada 29-30 Maret 1946. Perang kedua itu terjadi selama dua hari dua malam.

Saat itu, Kabupaten Cianjur belum diduduki oleh Inggris. Pasukan Inggris hanya menempatkan beberapa pos di titik tertentu. Memang sewaktu-waktu konvoi pasukan sering melintas setiap harinya dengan menggunakan jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur yang akan menuju Bandung.

Yang menjadi awal mula terjadinya Pertempuran Ciranjang dikarenakan sebelumnya terjadi Bandung Lautan Api. Konvoi kendaraan perang terus menerus mencoba untuk menuju Bandung dalam misi membawa perbekalan serta bantuan. Pasukan yang berangkat dari Jakarta menggunakan rute Bogor-Sukabumi. Rangkaian konvoi itu berjumlah 150 truk pengangkut perbekalan.

Di barisan paling depan, terdapat tiga unit kendaraan pengaman yakni tank Sherman, Panser Wagon dan Bren Carrier. Sementara pasukan pengawal utama iring-iringan ini berasal dari tentara Batalyon 5/9 Jats dari Divisi ke 23 India. Tentara tersebut merupakan tentara elit bayaran yang bertugas di bawah Angkatan Perang Inggris dan disegani di dunia.

Penghadangan pun sudah dilakukan dari awal mula pemberangkatan di sepanjang jalan 12 kilometer dan menyusuri celah-celah perbukitan. TKR beserta pasukan lainnya tak henti-hentinya melakukan serangan demi serangan

Namun nama besar tidak semerta-merta membuat para pasukan tersebut memiliki keberanian yang besar terhadap perjuangan rakyat Indonesia. Bahkan, beberapa Pasukan Jats melihat Indonesia terlebih pulau Jawa seperti gudang peluru yang meledak dan peluru tersebut bertebaran yang sewaktu-waktu dapat membahayakan. Akan tetapi, tak ada pilihan lain untuk diambil, segala tugas harus dijalankan apapun resikonya.

“Disebut Perang Konvoi karena jalur yang diambil Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Yang paling ramai dan sampai ada di sejarah Nasional itu di Bojongkokosan, karena pertempuran pertama sebelum Pertempuran Ciranjang,” ulas Aris.

Hilir mudik kendaraan konvoi tersebut memang sering melintas. Namun pasca meletusnya Bandung Lautan Api, kobaran semangat para pejuang seakan mengalahkan rasa takut.

Di atas tebing perbukitan Jembatan Cisokan menjadi posisi strategis para pejuang untuk menghadang pasukan sekutu yang akan melintas. Tak sedikit pula dari pasukan pejuang yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

(kim)