Nenek Sebatang Kara jadi Musafir untuk Menyambung Hidup, Setiap Hari Jalan 12,5 Kilometer

BERHARAP BELAS KASIH: Cicih (78) setiap harinya berjalan sejauh 12,5 kilometer. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Hidup seorang diri di usia senja memang tak pernah diharapkan oleh siapapun di muka bumi ini. Tapi kondisi itulah yang harus diterima Mak Cicih. Nenek sebatang kara itupun harus menjalani hidup yang semakin tak mudah. Tak ada siapapun kerabat yang bisa menemaninya. Terlebih, tak banyak pilihan dan hal yang bisa dilakukannya untuk menyambung hidup.

Laporan: Abdul Aziz N Hakim, CIANJUR

Kulitnya sudah keriput. Wajahnya pun lusuh, selusuh kain yang membalut tubuhnya sehari-hari. Tak ada lagi semangat hidup di matanya yang sayu dan kosong. Hidup yang makin berat ini pun harus dijalaninya seorang diri.

Kerap kali, Mak Cicih teringat suami dan anaknya yang lebih dulu meninggalkannya. Tapi rindu itu hanya bisa ia sematkan dalam doa-doa yang ia panjatkan setiap malam.

Dalam kesendirian di umurnya yang sudah 78 tahun, Mak Cicih harus berjuang sendiri untuk menyambung hidup dan mencari nafkah sendiri. Dengan tenaga tersisa, pilihan yang dimilikinya hanya mengharap belas kasih orang lain.

“Anak sama suami sudah tidak ada (meninggal dunia, red),” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Mak Cicih mengaku, menjadi musafir bukan pilihan yang ingin dijalaninya untuk menyambung hidup. Tapi dengan usianya yang sudah senja, dirinya mengaku tak lagi bisa melakoni pekerjaan yang dulu pernah dijalaninya.

“Dulu buruh tani, serabutan, bantu-bantu tetangga masih bisa. Sekarang sudah tidak kuat tenaganya,” kata dia.

Seandainya, kata dia, suami dan anaknya masih ada, dirinya tak akan mungkin mau menjadi musafir yang hanya bisa mengharapkan belas kasih orang di jalan. Satu-satunya harapannya kepada anak laki-laki semata wayangnya pun telah sirna.

“Mungkin kalau masih ada, anak saya seperti ujang ini (wartawan Radar Cianjur, red),” lanjutnya.

Kini, setiap hari, Mak Cicih harus berjalan kaki sejauh 12,5 kilometer dari tempat tinggal seadanya di Desa Loji, Kecamatam Gekbrong untuk mendapatan sedekah.

Rumah demi rumah ia datangi. Tak sedikit memang yang iba terhadapnya, namun dirinya tidak memakasakan orang yang ditemuinya untuk memberikan uang banyak. Keikhlasanlah yang ingin diterima dari para dermawan.

Tak sedikit pula orang yang tidak memberi, namun itu tidak dipermasalahkan olehnya. Setiap orang yang memberi, untaian doa selalu terpanjat dari mulutnya.

Mak Cicih, satu dari sekian banyak orang yang menata kehidupannya sendiri tanpa sanak keluarganya. Bukan pilihannya menjalani kehidupan yang seperti ini, namun dirinya tidak juga menyesali apa yang sudah terjadi.

“Emak mah ikhlas aja, jalani aja dengan ikhlas dan tulus. Emak emang gak bisa ngasih sama orang, tapi emak doain buat yang udah ngasih,” paparnya.

(*)