Suka-duka IEA Komunitas Motor Pengawal Ambulans

FOTO: DOKUMENTASI IEA FOR RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Saat ini, komunitas penggemar otomotif memang sudah sangat beragam. Latarbelakang pendirian sebuah komunitas pun bermacam-macam. Tapi ternyata, ada juga komunitas motor yang mendeklarasikan diri sebagai komunitas pengawal mobil ambulance. Mereka pun secara sukarela membantu atau mengawal mobil-mobil ambulance yang membawa pasien darurat agar secepatnya bisa tiba di rumah sakit.

Laporan: Dadan Suherman, CIPANAS

Beragam komunitas motor di seluruh tanah air mungkin tak terhitung. Masing-masing club atau komunitas roda dua ini lama-kelamaan hampir bertambah dan merambahke seluruh Indonesia. Tak terkecuali dengan komunitas yang telah memiliki legalitas untuk membantu mengawal dan memandu mobil ambulance.

Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Koordinator wilayah Cianjur merupakan organisasi yang membantu mengawal jalannya ambulans. Organisasi tersebut bermula dari grup WhatsApp antara personel komunitas motor. Mereka miris dengan masyarakat yang acuh dengan keberadaan ambulans di jalanan.

Berdirinya organisasi itu didasari keinginan untuk memenuhi hak ambulans. Misalnya, memberikan jalan agar lebih cepat sampai di rumah sakit.

Kehadirannya dikarenakan masih kurang pedulinya masyarakat pengguna kendaraan lain terhadap kendaran ambulance pada saat membawa pasien termasuk pasien gawat darurat.

“Masih banyak orang Indonesia yang kurang tanggap dengan ambulans. Apalagi, ketika jalanan macet, mereka nggak segera menepi dan memberikan jalan,” tutur Ketua IEA Korwil Cianjur, Asep Ridwan saat diwawancarai Radar Cianjur.

Tak jarang, anggota IEA menjadi sasaran emosi pengendara yang diminta untuk menepi. Akan tetapi, caci-maki itu dianggap sebagai hal yang biasa dan tak sekalipun dianggap.

“Biasa kalau caci-maki gitu. Biar saja, yang penting pasien bisa cepat sampai ke rumah sakit agar bisa mendapatkan penanangan medis,” tuturnya.

Asep menceritakan, pernah ada kejadian pasien meninggal di dalam ambulans karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberikan ruang jalan.

“Ini yang seharusnya disadari masyarakat. Bahwa saat sirine ambulans menyala, itu adalah keadaan yang sangat mendesak,” katanya.

Namun jika kita berkaca pada aturan yang ada, masyarakat sipil jika mengawal atau memandu (Escort) ambulance merupakan kegaiatan yang menyimpang dari aturan. Karena mengawal hanya dapat dilakukan oleh pihak kepolisian.

Melihat hal tersebut, maka organisai IEA ini mencoba untuk melegalkan diri sebagai organisasi sosial kemanusiaan atau organisasi relawan yang mana nantinya kegiatan-kegiatannya yaitu tidak hanya memandu ambulance saja.

Melainkan segala bentuk kegiatan rescue seperti kegiatan kebencanaan dan lain sebagainya akan dijalankan oleh setiap anggota yang tergabung dalam organisasi Indonesian Escorting Ambulance ini.

“Pernah ada seorang pasien, terlambat ditangani dan keburu meninggal di jalan. Karena itu, kami tidak ingin hal tersebut terulang lagi,” ungkapnya.

IEA ini ruang lingkupnya Nasional dan berinduk satu yaitu di Jakarta. Sudah hampir setiap kota di Indonesia memiliki Koordinator wilayah masing masing. Hanya bagi IEA Korwil Cianjur sendiri terbentuk pada tahun 2018.

Awal pembentukannya hingga saat ini, IEA Korwil Cianjur sudah melaksanakan serangkaian kegiatan kemanusiaan. Dari mulai kegiatan kebencanaan sampai dengan membantu pasien-pasien tidak mampu dan juga kegiatan memanusiakan manusia atau ODGJ.

Anggotanya pun berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, juga karyawan swasta. Untuk di Cianjur sendiri anggota IEA sudah mencapai 40 orang.

“Rata-rata anggota kami didominasi anak muda usia 20–25 tahun,” ujarnya.

Tak ada syarat yang diperlukan untuk bergabung menjadi anggota IEA, kecuali memiliki SIM dan STNK aktif. Sebab, sehari-hari mereka bekerja mengawal ambulans dengan kendaraan pribadi.

“Semoga dengan berjalannya kegiatan yang kami lakukan dapat menjadi cerminan bagi masyrakat luas bahwa pentingnya berbuat sosail kepada sesama,” ujarnya.

Melalui aksi-aksi nyata itu, lanjutnya, pihaknya ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat luas, utamanya para pengendara dan pengguna jalan agar bisa memberikan jalan saat ambulans melintas.

“Karena kita tidak tahu yang berada di dalam ambulance itu siapa, bisa jadi orang-orang terdekat kita atau bahkan keluarga kita,” tandasnya.

(**)