Waspada! Penyakit Mematikan Kanker Serviks

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Pemerintah Desa Cisalak terus menggenjot program kesehatan bagi masyarakat di seluruh lapisan terbawah dengan menggelar sosialisasi. Salah satunya adalah sosialisasi pecegahan Inveksi Visual Asam Asetat (IVA) dan kanker Serviks, di Aula Desa Cisalak, Rabu (21/8).

Sosilisasi tersebut dihadiri 25 kader PKK dan Posyandu dari setiap RW untuk dibina menjadi agen kesehatan pencegahan dini gejala yang membahayakan kaum perempuan tersebut.

Kegiatan sosialisasi itu diprakarsai Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM), Bidan Desa, dan seluruh tenaga Kesehatan Kecamatan Cibeber yang sekaligus menjadi narasumber.

Hal ini dilakukan untuk mensosialisasikan pencegahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dini dan gejala awal penyakit yang banyak merenggut masa hidup kaum ibu tersebut.

Kepala Desa Cisalak Nanang Suparman mengatakan, dengan sosialisasi program dari Kementrian Kesehatan ini, diharapkan nantinya akan kembali disosialisasikan kepada masyarakat lainnya.

Sejumlah hal yang menjadi titik berat adalah pencegahan kanker rahim, kanker seviks dan IVA, serta berbagai kelengkapan alat penunjang kesehatan masyarakat di antaranya perangkat alat kesehatan, kasur, selimut dan bantal.

“Sosialisasi ini menjadi langkah Pemerintah Desa bekerjasama dengan PKM sebagai alasan prepentive pencegahan dini dan membina kesadaran masyarakat dan menjadi pelopor kesehatan rahim di Kecamatan Cibeber untuk membangun bidang kesehatan masyarakat desa,” terangnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Neneng Efa Fatimah mengatakan, kasus kanker serviks di Kabupaten Cianjur tercatat mencapai puluhan setiap tahun.

Akan tetapi, pihaknya meyakini bahwa kasus kanker serviks layaknya fenomena gunung es, dimana temuan kasus masih jauh lebih sedikit dibandingkan yang belum terdeteksi.

Minimnya kesadaran untuk deteksi dini kanker tersebut, membuat penyebarannya tinggi dan masih sulit untuk ditekan.

“Yang terdata itu ada puluhan, tapi kemungkinan masih banyak. Sebab seperti fenomena gunung es,” kata dia, Selasa (19/12/2017).

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus kanker serviks masih tinggi di Cianjur. Salah satunya ketidaktahuan dan kekurangsadaran masyarakat tentang kanker serviks.

Apalagi, pada stadium awal, tidak ada gejala secara kasat jika seseorang terkena kanker tersebut.

“Biasanya ketika sudah stadium lanjut baru mereka sadar sudah terkena kanker serviks, seperti mulai merasakan sakit pinggang, anemia, dan pendarahan pada kelamin,” jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya secara rutin menyosialisasikan dan mengimbau semua perempuan untuk melakukan pemeriksaan dini melalui IVA tes, dimana layanannya sudah bisa dilakukan di setiap puskesmas.

“Untuk momentum hari Ibu, sebagai rangkaiannya bakal juga dilakukan pemeriksaan, terutama IVA test. Apalagi imbauan dair pusat itu pemeriksaan baiknya dilakukan per enam bulan,” kata dia.

Menurutnya, pemeriksaan tersebut perlu, sebab dikhawatirkan pasangan melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan. Hal itu dapat mempercepat penularan, sebab yang akan lebih rentan terdampak ialah perempuan.

“Makanya di setiap kesempatan, kami galakkan sosialisasi tersebut, terutama bagi remaja perempuan. Jangan sampai di Cianjur terus meningkat jumlahnya. Minimalnya dengan pemeriksaan dini, bisa menekan kanker tersebut,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kanker serviks merupakan penyakit reproduksi yang menyerang kaum perempuan akibat pertumbuhan abnormal sel-sel di leher Rahim yang mengakibatkan pertumbuhan tumor.

Hampir seluruh kasus kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma Virus). Ada ratusan jenis virus HPV, namun hanya 14 jenis yang mendapatkan kanker. 70 persen dari kejadian kanker serviks disebabkan oleh virus HPV tipe 16 dan 18.

Di Indonesia, sudah terdapat vaksin untuk kedua jenis virus tersebut. Vaksin ini diberikan pada wanita usia 9-55 tahun sebagai pencegahan kanker serviks.

Jumlah kasus kanker serviks di Indonesia yang dilaporkan pada tahun 2016 mencapai 348.809 kasus.

Sementara menurut laporan Global Cancer Observatory di tahun 2018, diperkirakan terdapat 32.469 kasus per tahun kanker serviks di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 18.279 orang.

Angka ini yang membuat Indonesia menduduki urutan kedua kasus kanker serviks terbanyak di dunia.

Kanker serviks juga merupakan kanker kedua terbanyak di Indonesia yang menyerang perempuan setelah kanker payudara. Ironisnya, 80 persn penderita kanker serviks datang dalam stadium lanjut, dan 94 persen pasien dari kasus tersebut meninggal dalam dua tahun.

Hal ini disebabkan karena infeksi HPV sering tidak memiliki gejala apapun pada stadium awal.

Namun ketika gejala-gejala telah muncul, seperti pendarahan tidak wajar pada vagina, nyeri pada panggul, siklus menstruasi tidak teratur, nyeri saat berhubungan seksual, badan lemas dan berat badan turun, cairan vagina berbau tidak normal dan salah satu kaki membengkak, bisa jadi kanker serviks telah memasuki stadium lanjut.

(cr1/tim)