Tengkorak dan Otak Bersatu, Fadli-Fadlan Sangat Sulit Dioperasi

MEMPRIHATINKAN: Sang bibi, Samsi menggendong Fadli (kiri) dan Fadlan (kanan) saat menjalani perawatan medis di RSUD Cianjur, kemarin. FOTO: HAKIM/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Bayi kembar siam dempet kepala, Fadli dan Fadlan sudah mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Setelah tiba di RSHS kemarin, kini mereka mengalami panas badan yang disebabkan bronchopneumonia atau infensi dari saluran pernapasan. Pihak RSHS pun melakukan penanganan melalui terapi tuntas sekaligus dicheck up kembali untuk terapi lanjutan.

Namun, apabila segala pemeriksaan dan perawatan hingga kembali normal, maka Fadli dan Fadlan akan dikembalikan ke rumah hingga usia tertentu. Setelah itu, pihak RSHS akan melakukan evaluasi mengenai perdempetan kepala Fadli dan Fadlan.

“Nantinya bisa kembali dirawat di rumah atau homecare hingga usia yang ditentukan karena kita masih harus melakukan evaluasi mengenai dempet di kepalanya,” ujar Direktur Medik & Keperawatan RSHS, dr Nucki Nursjamsi Hidajat melalui Humas RSHS, Ekie Adrian.

Dari hasil akhir ct scan atau MRI, dempet kepala dari Fadli dan Fadlan yaitu dempet kepala yang sangat sulit untuk dilakukan operasi. Lanjut dr Nucki, bahkan dari hasil diskusi dengan tim dokter, kecil kemungkinan untuk bisa dipisahkan.

BACA JUGA: Bayi Kembar Siam Fadli-Fadlan Harus Tunggu 3 Tahun Lagi untuk Operasi

Sementara ini, tim dokter akan melihat perkembangan dari bayi kembar siam pasangan dari Sahudin (35) dan Ani (30) ini dalam beberapa waktu ke depan. “Jadi, kalau kembar siam itu pertama kali masuk (rumah sakit), kita tentukan bayi tersebut bisa dipisahkan atau tidak. Ada kondisi-kondisi yang tidak bisa dipisahkan, seperti Fadli dan Fadlan ini selain tulang kepala yang bersatu, ada juga bagian otak yang bersatu,” paparnya.

Ia menjelaskan, pada saat kondisi Fadli dan Fadlan sudah mulai tumbuh besar, tim dokter bisa melakukan evaluasi untuk pelaksanaan operasi. Sehingga saat ini pihak RSHS belum bisa melakukan pemisahan, selain usia bayi masih kecil namun secara teknik medis tidak memungkinkan.

Untuk penanganan bronchopneumonia Fadli dan Fadlan memakan waktu kurang lebih enam hari. Tapi hal tersebut tergantung dari respon kedua bayi tersebut. Saat ini RSHS memberikan antibiotik, memantau panas Fadli serta Fadlan dan diberikan oksigen.

Dari hasil penanganan tim dokter, kondisi panas Fadli dan Fadlan pun sudah turun semenjak ditangani oleh RSHS Bandung. “Semoga kumannya tidak berat (ditangani, red) sehingga paru-parunya bisa normal lagi, makanan bisa masuk dan daya tahan tubuh meningkat lagi,” tuturnya. (kim)