Mahasiswa Universitas Djuanda Menilik Pengrajin Anyaman di Desa Tajurhalang

Pengrajin Anyaman di Desa Tajurhalang

RADARCIANJUR.com – Mahasiswa Universitas Djuanda Bogor membuktikan pengabdiannya di masyarakat dengan menilik dan belajar anyaman di Desa Tajurhalang, yang dikemas dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Budaya anyaman sendiri kini perlahan mulai terlupakan. Anyaman adalah serat yang dirangkaikan hingga membentuk benda yang kaku, biasanya untuk membuat keranjang atau perabot.

Para Mahasiswa Universitas Djuanda Bogor belajar membuat bakul, tampah, dan sejenisnya.
Menganyam bambu juga merupakan salah satu mata pencaharian di Desa Tajurhalang ini.

Pengrajin anyaman di Desa Tajurhalang, Bapak Ujang yang akrab disapa Dae, mengaku sudah menekuni profesi ini selama 49 tahun.

“Satu barang biasanya dijual dengan harga Rp. 5.000 – Rp. 30.000”. Ujar Bapak Dae yang lahir di tahun 19.

Biasanya bapak Dae menjual dengan cara berkeliling desa.

Beliau biasa mencari bahan dasar pembuatan anyaman tersebut di lereng gunung kemudian dipotong sesuai ukuran dan kebutuhan barang yang akan di buat. Lalu di serut dan rapihkan.
Setelah bahan-bahan sudah siap maka di lanjut dengan menganyam.

Menurut Mahasiswa Universitas Djuanda Bogor yang merupakan ketua kelompok 4 Rully Julianto, belajar menganyam merupakan salah satu hal yang perlu diketahui dan dikembangkan.

Sedangkan menurut beberapa mahasiswa lainnya dengan belajar membuat anyaman menjadikan kita menghargai setiap profesi seorang anyaman.

“Untuk itu mahasiswa KKN Kelompok 4 menilik dan belajar membuat anyaman dari seorang penganyam hebat yang tak pernah lelah untuk selalu meneruskan warisan budaya,” ujarnya.

(sal/dep/*)