Cara Agar Alun-Alun Cianjur Tidak Kebanjiran Lagi

Alun-alun Cianjur banjir. Foto : Ardi/Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Pemandangan ‘luar biasa’ terjadi di Alun-alun Cianjur, Selasa (28/8) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Tak ada hujan, tak ada petir, salah satu ikon Kabupaten Cianjur itu dipenuhi air got dan penuh sampah.

Hal itu terjadi setelah saluran pembuangan tak lagi bisa menampung air ‘kiriman’ setelah hujan deras mengguyur kawasan Puncak Cianjur. Akibatnya, keasrian Alun-alun Cianjur pun hilang seketika digantikan tumpukan sampah yang ikut terbawa air.

Berdasarkan pengamatan Radar Cianjur di lokasi, air yang membanjiri Alun-alun Cianjur sampai hampir selutut orang dewasa. Bahkan, kawasan depan Masjid Agung Cianjur pun seluruhnya berubah menjadi sungai. Tak hanya kawasan depan Masjid Agung, halaman Mts Gedong Asem pun berubah bak sungai.

Harry M Sastrakusumah (54), warga setempat menyatakan, pemandangan banjir di kawasan tersebut adalah kali pertama terjadi dan dilihatnya. Bahkan, seumur hidupnya di Cianjur, baru kali itu dirinya mendapati ada banjir di depan Masjid Agung.

“Saya lahir dan besar di Gedong Asem. Ini pertama kali ada banjir di depan Masjid Agung, sampai masuk ke Gedong Asem,” tuturnya.

Ia menduga, banjir tersebut diakibatkan besar air yang diakibatkan hujan deras di kawasan Puncak. Hanya saja, sejak dulu, hujan deras di kawasan puncak sama sekali belum pernah mengakibatkan banjir di kawasan tersebut.

“Makanya bingung juga. Dari dulu kalau puncak hujan deras gak pernah itu sampai banjir seperti ini. Berarti kan ada yang salah dengan saluran pembuangan airnya,” terangnya.

Pria yang juga pegiat dan pelestari batik Cianjuran itu memperkirakan, saluran pembungan air sudah tak bisa lagi menampung air yang berasal dari Kali Ciraden. Ditambah banyaknya sampah yang menumpuk di saluran air membuat laju air terhambat dan meluber.

“Tapi itu juga gak bisa jadi alasan. Kan dari dulu juga tidak pernah sampai banjirt seperti ini,” tegasnya.

Karena itu, ia menyarankan agar Pemkab Cianjur mulai berfikir ulang untuk memperbaiki saluran air. Jika tidak, maka kejadian serupa bakal akan terus terjadi tiap kali kawasan puncak didera hujan deras.

“Pemkab jangan diam saja. Saluran air ini harusnya diperlebar dan disesuaikan. Utamanya di kawasan alun-alun yang menjadi ‘jantung’ perkotaan Cianjur,” saran dia.

Di sisi lain, Harry juga mendesak Pemkab Cianjur bisa merespon kejadian ini dengan bijak. Setidaknya bisa memberikan imbauan bahkan sanksi tegas kepada masyarakat yang membuang sampah di kali.

Terpisah, Kabag Humas Pemkab Cianjur Gagan Rusganda menyatakan, banjir di Alun-alun Cianjur dan sekitaran Gedong Asem itu diakibatkan adanya penyumbatan di saluran sisi kanan gerbang alun-alun. Akibatnya, banyaknya sampah di drainase yang terbawa aliran air.

“Setelah sampah dibersihkan akhirnya air langsung berangsur surut,” jelasnya.

Gagan memastikan, usai kejadian tersebut, pembersihan kawasan Alun-alun Cianjur langsung dilakukan. “Rabu pagi (kemarin, red) langsung dibersihkan. Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi,” tutup Gagan.

(cr1)