TKW Asal Cianjur di Brunei Darussalam Meninggal Saat Melahirkan di Tempat Kos

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Cianjur Iceu Rohilah (36) yang meninggal dunia diduga karena aborsi di Brunei Darussalam, tiba di rumah duka di Kampung Cicariang, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kamis (28/8).

Ratusan warga setempat maupun desa tetangga dan keluarga serta kerabat menyambut kepulangan jenazah tersebut dengan rasa haru dan deraian air mata.

Dari pengamatan Radar Cianjur di lokasi, jenazah tiba sekitar pukul 19.00 WIB dengan menggunakan ambulance saat hujan deras. Baru pada keesokan harinya (kemarin, red), jenazah dikebumikan sekitar pukul 08.00 Wib di tempat pemakaman umum yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah duka.

Kakak almarhumah, Usup Yusuf (38) terlihat matanya sembab dan segera mendekat pada peti jenazah untuk melihat adiknya. Ia tidak bisa berbicara banyak, butiran air mata terus mengalir melihat jenazah adiknya.

Saat jenazah diserahterimakan di ruang tamu rumah duka kebetulan listrik padam sehingga beberapa warga menggunakan senter sebagai alat penerangan. Usup mengatakan Iceu tewas meninggalkan dua orang anak, Riza Ardian (15) dan Muhamad Dafa yang masih berusia enam tahun.

Menurut Usup, selama enam tahun bekerja di Brunei Darussalam, jarang sekali Iceu berkomunikasi dan hanya dua kali mengirimkan biaya untuk anak sebesar Rp3 juta.

“Berangkat ke Brunei tahun 2013. Pertama kerja menjadi pembantu rumah tangga, tiga bulan kerja sempat ada kontak. Setelah itu langsung tak ada kontak lagi,” ujar Usep ditemui di rumah duka.

Usep mengatakan, terakhir korban kontak adiknya, Tuti (30) yang juga menjadi TKW hari Jumat akhir Juli atau sekitar sebulan yang lalu.

“Adik saya Tuti yang menjadi TKW di Saudi sempat berkomunikasi dengan Iceu. Dari pembicaraan terakhir tak terlihat sakit dan tak ada yang mencemaskan,” ujar Usep.

Usep mendapat kabar dari KBRI Brunei adiknya tersebut meninggal pada Sabtu 3 Agustus. Dirinya baru mendapat dapat kabar tiga hari kemudian.

“Saya dapat tawaran almarhumah mau dikebumikan di Brunei Darussalam atau di kampung halaman. Saya memilih almarhumah dikebumikan di kampung halaman,” katanya.

Sekretaris Forum Pekerja Migran Indonesia (FPMI) Herlan mengatakan, berdasarkan keterangan dari KBRI, Iceu Rohilah meninggal dunia karena kehabisan darah saat melahirkan di tempat kosnya di Brunei.

“Iceu Rohilah melahirkan secara prematur dengan usia kandungan tujuh bulan di tempat kos, seorang diri. Kemudian Iceu Rohilah beserta bayinya meninggal. Kemungkinan ia keguguran atau sengaja digugurkan,” katanya.

Helan mengatakan, janin yang di kandung Iceu Rohilah adalah hasil dari hubungan di luar nikah dengan salah seorang lelaki asal Makassar. Saat ini, lelaki dimaksud menjadi buronan polisi Kesultanan Brunei Darussalam terkait kasus kematian Iceu Rohilah.

“Besar kemungkinan meninggalnya Iceu Rohilah disebabkan aborsi sehingga polisi Kesultanan Brunei menetapkan pacar Iceu Rohilah sebagai DPO,” katanya.

Lanjut Herlan, saat berangkat ke Brunei. Iceu Rohilah berangkat melalui jalur non formal. Saat ini pihak sponsor yang memberangkatkan Iceu Rohilah sudah dilaporkan ke Polres Cianjur.

“Dulu almarhumah berangkat secara ilegal. Jangakankan visa dan lain-lainya, paspor juga ia tidak punya,” pungkasnya.

(dil)