Misteri Kematian TKW Asal Naringgul Meninggal di Jordania

BERPULANG: Sembilan tahun tak ada kabar, Ani (37) meninggal dunia diduga karena over dosis obat.

RADARCIANJUR.com – Kematian tenaga kerja Indonesia (TKI), Ani bin Iin (37), warga Kampung Cidalung RT 07/03, Desa Wangunsari, Kecamatan Naringgul masih menyisakan buntut panjang. Salah satunya adalah penyebab pasti kematian Ani.

Dari pantauan Radar Cianjur, jenasah Ani tiba di rumah duka pada Sabtu (31/8) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB dengan diantar sejumlah pihak.

Tampak hadir Camat Naringgul, Kapolsek, Danramil, Ketua Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya (Astakira) serta sejumlah muspika lainnya. Jenasah kemudian dikebumikan pada pagi harinya sekitar pukul 08.00 WIB.

Ketua Astakira Cianjur, Ali Hildan menyatakan, sampai saat ini pihaknya masih belum mendapakat keterangan resmi terkait penyebab pasti kematian Ani. Yang ada hanya keterangan dari Disnakertrans Kabupaten Cianjur melalui pesan Whatsapp. Itupun sudah dihapus oleh pihak keluarga.

Bahkan, lanjutnya, surat keterangan kematian dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman, Yordania, mengenai penyebab pasti kematian korban juga belum diterima.

“Minggu lalu kami ke BP3TKI Jabar, mengajak keluarga Ani, barangkali ada informasi resmi. Ternyata BP3TKI Jabar juga belum mengetahui hal itu,” kata Ali Hildan.

Selanjutnya, pada 13 Agustus lalu, pihaknya bersama keluarga Ani mendatangi Disnakertrasn Cianjur untuk menanyakan perihal tersebut. Ternyata memang belum ada berita acara-nya.

“Keluarga hanya menerima kabar melalui pesan WhatsApp dari Disnakertrans yang isinya dihapus kembali,” kata Ali.

Seingat keluarga, setidaknya ada 13 poin tentang kronologis kematian Ani. Tapi, poin yang paling diingat adalah Ani ditemeukan meninggal di depan sebuah gedung dan ditemukan polisi yang lalu membawanya ke rumah sakit.

“Tidak punya majikan. Ada kejanggalan punya kenalan dengan orang Mesir dan ditemukan meninggal setelah tiga hari keluar dari rumah orang Mesir tersebut,” katanya.

Sampai saat ini, sambungnya, pihak keluarga belum menerima surat resmi yang menerangkan penyebab pasti kematian Ani yang diinformasikan karena overdosis obat.Pasalnya, pihak keluarga menuntut kejelasan hal tersebut.

“Ini tak jelas (kabarnya). Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk mengusut tuntas termasuk haknya, saya meminta KBRI mengusut tuntas,” tuntutnya.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Penempatan Tenaga Kerja, Disnakertrans Kabupaten Cianjur Ricky Ardhi menyatakan, berdasarkan laporan forensik dari KBRI oleh tim forensik Yordania, tidak diditemukan adanya bekas pengganiyayan dan kekerasan. Hanya saja disebutkan bahwa korban overdosis obat.

“Tidak ada tanda-tanda bekas penganiayaan dan kekerasan. Yang bersangkutan sakit dan minum obat. Diduga overdosis. Infonya sperti itu,” terang Ricky.

Ricky mengakui, awalnya proses pemulangan jenazah korban memang cukup lama lantaran selama bekerja di Yordania, Ani tak memiliki majikan. Selain itu, perusahaan yang memberangkatkan juga tidak jelas sehingga tidak bisa melakukan klaim untuk biaya pemulangan ke tanah air.

Akhirnya, KBRI setempat berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri sera BNP2TKI. “Alhamdulilah akhirnya bisa dipulangkan,” jelasnya.

Dari informasi yang diterima, sejak 2010, Ani pernah memiliki majikan hanya dua bulan. Tapi setelah itu ia bekerja serabutan tanpa memiliki majikan.

“Saat meninggal, korban ditemukan di depan kontrakan temannya yang warga Mesir, yang kemudian melaporkannya kepada pihak berwenang setempat,” terangnya.

Terkait hak-hak Ani, informasi dari KBRI setempat, ada beberapa barang milik korban yang masih tertinggal dan kini masih disimpan pihak Yordania.

“Terkait hak-hak lainya, KBRI masih menelusurinya dan melancaknya. Apabila ada perkembangan, kami informasikan kembali,” pungkasnya.

(Jay)