Aksi Dalang Cilik asal Sindangbarang yang Piawai Mainkan Wayang Golek

Dalang Cilik Roy Pananjung Alfarizi sedang memainkan wayang golek. FOTO:Ardi Mardiansyah/Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Gatot Kaca, Semar dan Cepot satu per satu hadir, malam itu. Di panggung Wayang Golek yang menjadi puncak peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 RI di Desa Limbangansari, Cianjur. Tapi, jangan dibayangkan bahwa sosok dalang yang membawakan ketiga tokoh wayang itu adalah orang yang rambutnya sudah memutih dan keriput di wajah. Sebaliknya, adalah dalang yang masih cilik berusia 10 tahun.

LAPORAN: Ardi Mardiardiyansyah, CIANJUR

Sosok Semar menjadi pembuka pagelaran seni Wayang Golek yang dimainkan Roy Pananjung Alfarizi. Dalam pembuka itu, Semar mensarikan kisah perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan untuk tanah air.

Suara Semar yang digambarkan cukup berumur dan penuh kebijaksaan, mampu dilantunkan dari bibir Roy. Usianya masih cukup belia. Baru 10 tahun. Tapi kepiawaian dalang cilik itu berhasil menyihir warga untuk tak beranjak dari kursinya masing-masing.

Begitupun saat sosok Gatot Kaca dan Cepot muncul kemudian. Transisi suara masing-masing tokoh itu mampu dihadirkan Roy, dalang cilik asal Sindangbarang itu. Tak ada sedikitpun kesalahan Roy dalam menghadirkan masing-masing karakter tersebut.

Tangannya pun piawai memainkan gerak masing-masing tokoh wayang tersebut. Semar yang penuh kebijaksanaan. Gatot Kaca yang menjadi simbol kekuatan seorang ksatria dan aksi kocak Cepot yang terkenal dengan bobodarannya.

Semua bisa dilakukan bocah kelas V SD tersebut. Semua bisa diwujudkan Roy dengan cukup mudahnya.

Radar Cianjur pun menyempatkan untuk berbincang deng Roy usai ia membawakan cerita wayang yang sangat menghibur kepada warga RW 08, Desa Limbangansari, Kecamatan Cianjur.

Roy mengaku, dirinya kali pertama jatuh cinta dengan Wayang Golek sejak dirinya berusia lima tahun. Sejak saat itu pula, ia mulai belajar menjadi seorang dalang.

“Soalnya tiap hari lihat Bapak main wayang. Jadi seneng juga,” tuturnya dengan nada polos.

Kebetulan, ayahnya, Yosep adalah juga seorang dalang Wayang Golek. Kepada ayahnya pula, ia lalu menimba ilmu perdalangan.

“Kalau latihan dua kali seminggu. Latihan sama Bapak di rumah,” terangnya.

Roy bertutur, ada dua sosok dalang yang selama ini menjadi panutannya, selain ayahnya sendiri. Yakni Asep Sunandar dan Dede Amung Sutarya. Menurutnya, kedua dalang ternama itu dinilainya sangat piawai.

“Saya suka karena kalau main (dalang) seru. Apalagi kalau pas bobodoran gitu. Maka kalau tiap kali lihat jadi seneng sekali,” ungkap bocah berkacamata itu.

Roy mengungkap, kali pertama panggung besar yang didapatnya yakni saat mendapat undangan bermain di Labschool UPI Bandung. Sejak saat itu, dirinya kerap mendapat undangan untuk mendalang di berbagai daerah di Jawa Barat.

“Sebelumnya cuma main di kampung-kampung, keliling, undangan-undangan hajatan dan lain-lain,” katanya.

Sementara, Yosep menceritakan, awalnya memang cukup sulit untuk mengajari anaknya itu. Akan tetapi, lambat laun, Roy bisa memainkan Wayang Golek sekaligus memainkan karakter suara masing-masing tokoh.

“Di awal-awal saja yang agak susah. Tapi kesini-kesininya makin mudah. Soalnya kalau memainkan Wayang Golek itu kan tangan juga ikut main, suara juga,” terangnya.

Yosep menambahkan, undangan untuk mendalang sejatinya bukan hanya datang dari dalam negeri saja, tapi ada juga undangan dari luar negeri.

“Ada undangan dari mulai Brunei Darussalam sampai Belanda, tapi saya belum izinkan,” ucap Yosep.

Yosep menyatakan, ada alasan tersendiri dirinya tak mengizinkan Roy mangung di luar negeri. Salah satunya adalah karena faktor usianya yang masih cukup belia.

“Ya saya masih takut saja kalau sampai ke luar negeri meskipun sebenarnya saya bangga. Mungkin nunggu usianya agak gede sedikit,” jelasnya.

Ketua pelaksana kegiatan, Moch Ramdan mengatakan, sengaja menghadirkan dalang cilik Roy Pananjung Alfarizi lantaran cukup unik. Meski usia masih bocah, Roy sudah sangat piawai memainkan wayang.

“Sekaligus ini kan budaya tradisional yang harus tetap dilestarikan,” ucapnya.

Ketua RW 8, Nurdin menambahkan, penutupan acara dengan pagelaran Wayang Golek sengaja mengambil tema kebangsaan serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Selain bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI, juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi antarwarga agar tetap guyub, kompak dan tak mudah terpecah.

“Banyak kesenian yang kami hadirkan. Mulai dari kesenian calung sampai musik dangdut. Semoga kekompakam warga bisa terus terjaga,” tutupnya.(**)