Bogor Raya Bisa Untung Bisa Buntung

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Ramainya perbincangan mengenai akan dibentuknya Provinsi Bogor Raya membuat sejumlah orang bertanya-tanya mengenai kemajuan provinsi baru tersebut jika sudah terbentuk.

Dari segi ekonomi, masyarakat sangat mengkhawatirkan dari hadirnya provinsi baru tersebut. Seperti halnya masyarakat Kabupaten Cianjur.

Selain ekonomi, dari segi birokrasi pun harus lah lebih mudah dari sebelumnya dan tidak sulit.

“Ya kalau mau ada provinsi baru dan Kabupaten Cianjur salah satu kotanya juga, harus dipikir dan dikaji lebih matang terlebih dahulu,” ujar Ahmad Latif (26) warga Desa Rancagoong.

Dirinya pun sebagai pemuda mengharapkan adanya perubahan jika memang bakal terjadi pecahan wilayah dari Jawa Barat, terlebih kemudahan lapangan pekerjaan.

Di sisi lain, Dede Ruswandi (30) warga Bojong, Karangtengah mempertanyakan mengenai kesiapan Kabupaten Cianjur jika memang akan menjadi bagian dari Provinsi Bogor Raya.

“Kalau jadi provinsi baru, dampak dari percepatan ekonominya bagaimana? Jangan sampai malah menyusahkan masyarakat nantinya,” paparnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Unsur Cianjur, Herlan Firmansyah mengatakan, tentunya dengan hadirnya Provinsi Bogor Raya akan berdampak kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta percepatan ekonimi.

“Tentu, dengan PAD pada APBD Bogor Raya tentu akan berdampak terhadap percepatan ekonomi kawasan tersebut, ditambah DAU DAK dari pemerintah pusat yang secara khusus bagi Provinsi Bogor Raya,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, semua tergantung manager pemerintahannya, dalam hal ini gubernurnya nanti. Potensi bisa menjadi kekuatan percepatan atau bahkan jadi kemunduran tergantung kepemipinan dari gubernurnya sebagai leader dan manager.

“Semua tergantung dari pemilik kebijakan dalam hal ini pemerintahan provinsi baru, potensi yang dimiliki bisa menjadi percepatan pembangunan ekonomi atau malah kemunduran,” ungkap Wakil Dekan I, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Suryakancana ini.

(kim)