Gerindra Punya ‘Tiket Khusus’ di Pilkada Cianjur 2020

Menuju Pendopo

RADARCIANJUR.com – Partai politik (parpol) besar wajib timbang kanan, timbang kiri. Prestasi mendulang kantong suara yang relatif banyak dalam perhelatan pemilihan legislatif (pileg) 2019 lalu, belum menjamin parpol mampu menjadi pemenang di pemilihan kepala daerah (pilkada) Cianjur 2020.

Parpol pun tak bisa melenggang seorang diri, butuh komposisi koalisi yang solid nan mumpuni untuk bertarung di 2020 mendatang.

Partai Gerindra sudah menunjukkan kejutan dalam pileg 2019 kemarin. Partai berlambang Kepala Garuda ini bertengger di puncak parlemen DPRD Cianjur dengan raihan 11 kursi.

Meningkat tajam dari pemilihan umum (pemilu) sebelumnya pada 2014 yang hanya lima kursi.

Partai di bawah pimpinan Ketua Umum Prabowo Subianto ini berhak mendapat trofi piala, tiket khusus. Ya, Gerindra di Kabupaten Cianjur berhak mengusung calon kepala daerah sendiri tanpa harus berkoalisi.

Merujuk UU 10/16 tentang Pilkada, terdapat syarat ambang batas bagi parpol yang hendak mengusung pasangan calon kepala daerah. Di dalamnya terdapat dua sisi: satu sisi dihitung berdasarkan perolehan kursi di DPRD yaitu minimal 20 persen atau 25 persen suara sah di level kabupaten. Gerindra Cianjur berpeluang untuk mengusung calon sendiri.

Namun, langkah Gerindra akan terasa berat apabila tidak menggandeng parpol lain. Gerindra diprediksi akan menggandeng parpol lainnya untuk mengusung calon.

Belum lagi, hingga hari ini, Gerindra belum menyebutkan nama calon kepala daerah besutannya. Figur tak bisa disepelehkan dalam pertarungan pilkada. Salah memilih figur bisa-bisa jadi bumerang.

Tak hanya menimang, Gerindra pun akan menimbang dengan cermat strategi dan figur serta parpol yang berpeluang untuk bersama-sama berjalan menuju kontes pilkada 2020 mendatang.

Pengamat Politik Universitas Suryakancana (Unsur), Kuswandi mengatakan, koalisi parpol Gerindra bisa dilakukan dengan menggandeng parpol yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Seperti diketahui, Gerindra merupakan partai nasionalis yang beridieologi Pancasila. Menyongsong pilkada 2020, Gerindra akan menjadi partai yang kuat apabila menggandeng partai agamis atau religius seperti PKS, PKB, PPP dan lainnya.

“Karakterisitik dan latar belakang masyarakat Cianjur itu heterogen. Jadi saya rasa, butuh penggabungan karakteristik agar bisa masuk ke semua lini,” ujar Wakil Dekan II Fakultas Hukum (FH) UNsur ini.

Lalu bagaimana apabila Gerindra berkoalisi dengan Partai Golkar? Mengingat, Golkar menempati urutan kedua perolehan kursi DPRD dengan delapan kursi.

Kuswandi menjawab, gabungan kekuatan dua partai besar di Cianjur dalam pilkada 2020 belum menjamin figur yang diusung mampu menjadi pemenang alias bupati terpilih. Baginya, konstituen legislatif akan sangat berbeda dengan konstituen kepala daerah.

Figur yang diusung justru dinilai lebih memiliki pengaruh yang besar. “Kalau pilkada itu lebih ke figur ya. Hanya saja, yang menguasai legislatif tentu mempunyai jaringan dan konstituen,” tuturnya kepada Radar Cianjur.

Kendati demikian, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah figur dari nonpartai, dalam hal ini birokrat. Pasalnya, figur nonpartai yang memiliki popularitas, modal finansial serta modal sosial yang kuat akan masuk dalam rencana pertimbangan masing-masing parpol.

Maka tak menutup kemungkinan, parpol yang tak mendapat jatah kursi di DPRD Kabupaten Cianjur mampu menjadi kambing hitam yang patut diperhitungkan.

“Bagi parpol-parpol yang mendapat suara kecil akan berpikir ulang untuk mengusung maupun berkoalisi. Karena nanti ukurannya itu ya elektabilitas,” papar Kuswandi, kemarin.

(yaz)