Miris, Bangunan SD Negeri di Mande kok Reyot

DIHANTUI ROBOH: Kondisi bangunan SDN Mande 2 sebagian besar sudah cukup reyot dan cukup mengkhawatirkan. Tiap hari, siswa-siswi dan guru dibayangi ketakutan robohnya bangunan. Ironisnya, tiga kali pengajuan bantuan rehabilitasibangunan yang diajukan sejak 2003, tak mendapat tanggapan dari Pemkab Cianjur.

RADARCIANJUR.com – Statusnya memang sekolah negeri, tapi kondisi bangunan SDN Mande 2 bak panggang jauh dari api. Nyaris tembok seluruh ruangan retak-retak dan rusak. Sedangkan plafon dan kayu penyangga genting pun sebagian banyak yang sudah ambruk lantaran lapuk.

Kendati demikian, ruangan-ruangan tersebut masih terus dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Terlebih, sekolah tersebut tak memiliki ruangan lain yang bisa dipakai.

Kondisi tersebut tentu saja cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan informasi yang didapat Radar Cianjur, bangunan sekolah tersebut dibangun pada 1985. Sejak saat itu, hingga hari ini, belum pernah direnovasi.

Pihak sekolah sejatinya tak tinggal diam. Usaha mengajukan proposal permohonan bantuan renovasi sekolah pun sudah diajukan kepada Pemkab Cianjur. Ironisnya, sejak kali pertama pengajuan proposal pada 2003 dan empat kali pergantian kepala sekolah, tak ada kejelasan yang didapat.

Kepala SDN Mande 2, Lili Somarli mengungkap, sudah tiga kali pihaknya melakukan pengajuan ke Pemkab melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur untuk memohon bantuan rehabilitasi bangunan.

“Malahan setiap pergantian kepala sekolah selalu mengajukan kepada pemerintah Cianjur didampingi Kordik kecamatan Mande Dading Z. Ibrahim. Namun hingga kini belum ada realisasi,” ucap Lili Somarli kepada Radar Cianjur, Kamis (5/9).

Kondisi bangunan yang sudah sedemikian rupa itu, ungkap Lili, membuat para guru dan siswa-siswi belajar dengan selalu dibayangi rasa takut. Sebab, atap ruang kelas hampir seluruhnya bolong dan kayu penyangga sudah keropos.

“Sebenarnya takut kalau sampai roboh, apalagi terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Nanti malah siswa-siswi dan guru kami yang jadi korban. Tapi kami tidak memiliki ruangan lainnya yang bisa dipakai,” tuturnya.

Tak hanya kondisi bangunan, lanjut Lili, sarana dan prasarana sekolah pun jauh dari memadai. Karena itu, pihaknya berhadap Pemkab Cianjur dapat memperhatikan dan memberikan bantuan rehabilitasi SDN Mande 2.

Tercatat, sekolah tersebut dihuni total 230 siswa dengan 13 tenaga pendidik. “Takut kami kalau sampai ada korban. Soalnya ini kan bangunan lama dan belum pernah direnovasi,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketua RT 03/RW 04, Desa Kademangan, Dikdik Sodikin. Sudah 16 tahun bangunan SDN Mande 2 itu belum tersentuh bantuan rehab hingga saat ini. Bahkan pihaknya bersama warga sempat berembuk untuk merubuhkan bangunan sekolah karena ditakutkan siswa dan guru menjadi korban tertimpa bangunan sekolah.

“Saya tahu betul, benar memang tidak pernah dapat bantuan rehab. Apakah harus menunggu korban dulu baru mendapatkan bantuan. Sebelum siswa dan guru menjadi korban lebih baik diambrukan saja bangunannya,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Koordinator Pendidikan Wilayah Kecamatan Mande, Dading Z Ibrahim menambahkan, SDN Mande 2 sudah terakreditasi A.

Bahkan siswanya kerap menorehkan prestasi di tingkat kecamatan dan kabupaten serta keberadaan sekolah yang terletak di lokasi strategis untuk membina dan memberikan pendidikan kepada siswa sesuai standar mutu kualitas pendidikan.

“Prestasi sekolah dan siswanya memang bagus di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Hanya saja terkendala fasilitas dan sarana. Setiap harinya siswa dirundung kekawathiran, takut sewaktu-waktu bangunannya roboh,” paparnya.

Karena itu, pihaknya berharap agar pemkab dan Disdik Kabupaten Cianjur bisa memprioritaskan sekolah-sekolah yang memang membutuhkan kepedulian seperti SDN Mande 2 ini.

“Setidaknya Pemkab melalui Disdikbud Kabupaten Cianjur dapat memprioritaskan dan memperhatikan SDN Mande 2,” harapnya.

(hry)