Nasib Mengenaskan Perpustakaan Daerah yang Makin Ditinggalkan, Sehari cuma 30 Pengunjung

SEPI: Minat baca masyarakat Cianjur sangat berkurang, terlihat dari kunjungan di Perpustakaan Daerah.FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Era digital yang masif perlahan menepikan keberadaan buku-buku cetak yang digantikan dengan kemudahan akses melalui gadget di tangan. Hal itu berdampak pada keberadaan buku-buku di rak Perpustakaan Daerah yang mulai jarang dijamah tangan-tangan para pembacanya. Pepatah ‘buku jendela dunia’ pun kini perlahan menghilang.

LAPORAN: Abdul Aziz N Hakim, CIANJUR

Membaca buku bukan hanya menambah ilmu, namun buku bisa menjadi sumber pengetahuan umum. Bukan hanya sebuah tulisan maupun cerita yang tertulis. Pada setiap helai lembarnya, banyak kata yang bisa dipelajari. Sedikit demi sedikit masyarakat mulai berkurang dalam minat baca.

Hanya segelintir orang yang masih mau menyempatkan waktu untuk membaca di Perpustakaan Daerah Kabupaten Cianjur. Itu pun beberapa pelajar dari sekolah menengah pertama (SMP) hingga mahasiswa. Tak banyak memang, namun ramai hanya pada saat beberapa pelajar harus mengerjakan tugas akhir maupun mencari bahan tugas sekolah.

Menjadi suatu hal yang miris. Semua buku-buku yang tertata tersebut kini berlapis debu diantara sampul buku. Dalam setahun, tingkat kunjungan pembaca di Perpustakaan daerah hanya 10 ribu pengunjung. Padahal Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cianjur menargetkan pada tahun ini sebanyak 30 ribu pengunjung.

Bayangkan saja. Dalam satu hari, pengunjung hanya berkisar 30 hingga 40 orang yang lebih didominasi pelajar. Sementara masyarakat pada umumnya sangat jarang.

“Saat ini minat baca masyarakat masih rendah. Hal itu dilihat dari tingkat kunjungan ke Perpustaan milik Pemkab Cianjur yang masih jarang dikunjungi masyrakat,” ujar Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cianjur, Mochammad Rochman.

Peningkatan pembaca sendiri tidak banyak setiap tahunnya. Hanya beberapa persen saja. Melihat itu, pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan tidak tinggal diam. Upaya demi upaya terus dilakukan agar budaya membaca bisa menjadi suatu kebiasaan.

Perlu kerja keras dan konsistensi untuk menghidupkan budaya membaca. Seperti menggunakan mobil perpustakaan keliling yang mendatangi setiap tempat yang ramai pengunjung. Meski tak banyak yang tertaring, namun hal tersebut dipupuk sebagai cikal bakal terbiasa membaca.

Lembaran halaman yang berisikan tulisan yang disebut jendela dunia itu kini mulai sedikit demi sedikit kehilangan peminatnya. Mungkin nanti, buku bisa menjadi barang langka di masa depan.(**)