Pekerja Migran Cianjur 21 Tahun Diduga Disekap Majikan di Arab Saudi

BISA PULANG: Alis Juariah (46) PMI asal Cianjur yang tak ada kabar selama 21 tahun akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga. FOTO: Astakira Pembaharuan Cianjur For Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Alis Juariah binti E Rukmana alias Aje (46), pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kampung Muhara RT2/RW10, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi dikabarkan tidak lama lagi akan bisa pulang ke Indonesia setelah 21 tahun bekerja di Arab Saudi.

Selama bekerja di Arab Saudi, Alis diduga dianiaya dan disekap majikannya sehingga tidak bisa keluar rumah maupun menghubungi keluarganya di Cianjur.

Kepastian itu didapat keluarga melalui surat dari Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) tertanggal 29 Agustus 2019.

Surat itu diterima anak Aje, Selpi Lusianawati (27) pada Kamis (5/9) pekan lalu. Surat bernomor 02969/WNI/08/2019/66 tersebut ditandatangani Plh Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Neni Kurniati dengan cap stempel Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

“Ya, benar saya menerima surat dari Kemenlu yang mengabarkan ibu saya akan dipulangkan tidak lama lagi. Tentu saja saya dan keluarga gembira sekali mendapat kabar tersebut,” ujar Selpi kepada Radar Cianjur melalui sambungan telepon, Selasa (10/9).

Ia bersyukur sudah ada titik temu setelah usaha yang telah dilakukan selama ini. Dalam surat dari Kemenlu itu disebutkan bahwa Alis Juariah akan dipulangkan ke Indonesia dalam kurun waktu 25 hari oleh majikannya, Saed Aljahrani.

Namun, Selpi mengaku ada yang tak sesuai fakta dalam surat dimaksud dan disebutnya tak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. “Ada poin yang tidak sama dengan keadaan sebenarnya,” ungkapnya.

Pada poin empat misalnya, disebutkan bahwa pada tanggal 9 Agustus 2019, KBRI Riyadh telah berhasil menghubunginya melalui sambungan telepon. Disitu dituliskan bahwa dirinya menyampaikan ibunya enggan pulang ke Indonesia karena faktor sakit hati.

“Tapi tidak disebutkan penyebabnya apa,” katanya.

Poin itu, lanjutnya, juga menyebutkan bahwa Aje selalu menolak jika dirinya ingin berbicara langsung. “Itu tidak benar,” tegasnya.

Sebaliknya, selama 21 tahun ini, dirinya sama sekali tak pernah berkomunikasi dengan ibunya di Arab Saudi.

“Sekali mencoba berkomunikasi ya pada 3 Agustus 2019 dengan menelepon majikan ibu saya,” lanjutnya.

Dalam komunikasi via telepon itu diangkap seorang pria yang mengkonfirmasi bahwa benar itu nomor kontak Saed Aljahrani, majikan ibunya.

“Tetapi, begitu ditanyakan tentang ibu saya, dia langsung memaki-maki dan bilang Alis Juariah tidak ada di sini. Kemudian, telepon langsung ditutup,” tuturnya.

Selpi mengungkap, penah kedatangan seorang pria asal Garut yang merupakan suami teman kerja ibunya, Tini, pada majikan yang sama, Saed Aljahrani. Namun kini Tini berpindah majikan, yakni anak Saed Aljahrani.

Dalam pertemuan tersebut, suami Tini mengungkap bahwa Saed Aljahrani memang cukup galak dan pelit. Berbeda 180 derajat dengan anaknya yang kini menjadi majikan baru Tini.

“Majikan baru ini baik, malah mengizinkan Teh Tini menelpon keluarganya di Garut tiap dua pekan sekali,” ujarnya.

Dalam kontak telepon, sambung Selpi, Tini meminta suaminya agar mendatangi kediamaan keluarga Aje untuk menyampaikan pesan agar anak Aje mengusahakan kepulangannya ke Indonesia.

“Dia (suami Tini) datang ke rumah pada 3 Agustus 2019 dan menyampaikan pesan ibu saya via Teh Tini, bahwa dia ingin anaknya segera mengurus agar bisa secepatnya dipulangkan,” terangnya.

Kejanggalan lainnya, menurut Selpi, dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa KBRI Riyadh telah menerima kiriman vidio pada 13 Agustus 2019 dari Aje yang berisi pernyataan bahwa dirinya tidak mempunyai masalah dengan majikan dan merasa senang bekerja selama 21 tahun dengan majikannya itu.

Sebaliknya, tulis surat itu, Aje mengatakan bahwa dirinya memunyai masalah dengan saudara dan keluarganya di Indonesia.

“Padahal ibu saya titip pesan ke temannya, yaitu Teh Tini, untuk disampaikan ke keluarga di Indonesia agar diuruskan kepulangannya,” ucapnya seraya menahan tangis.

Ia pun berharap, pemerintah dan intansi terkait mengupayakan agar ibunya bisa secepatnya dipulangkan ke Indonesia dengan membawa serta hak gaji yang selama ini belum dibayarkan. Bahkan, selama 21 tahun bekerja, gaji yang dikirimkan ke Indonesia baru untuk gaji dua tahun sebesar Rp30 juta.

Akhirnya Selpi menyambangi Kantor DPC Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya (Astakira) Pembaharuan Kabupaten Cianjur untuk menyampaikan perkembangan penanganan masalah yang membelit ibunya itu.

Ketua Tim Divisi Hukum DPC Astakra Pembaharuan Kabupaten Cianjur Topan Nugraha mengatakan, pihaknya akan terus mendampingi Selpi dan meminta instansi terkait membantu mempercepat kepulangan Alis Juariah.

“Kita akan dampingi keluarga korban hinga benar-benar bu Alis bisa kembali pulang ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarganya di rumah,” tuturnya.

(kim)