Khabib Nurmagomedov, Petarung Kaya Raya yang Tetap Menolak Kemewahan

Khabib Nurmagomedov

RADARCIANJUR.com – Jika dihitung secara kasar saja, dari dua pertarungan terakhir kontra Conor McGregor dan Dustin Poirier, Khabib Nurmagomedov sudah menambah saldo banknya USD 8 juta (Rp 113 miliar). Kehidupan serbamewah bisa diraihnya dengan mudah. Tetapi, bukan itu yang diinginkan Sang Rajawali (The Eagle –julukan Nurmagomedov).

Baru saja Khabib Nurmagomedov memarkir mobil bututnya di kawasan Sildi, kampung halamannya di Dagestan. Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun datang menghampiri.

’’Di sini wilayah kekuasaanku. Kalau kau parkir di sini, kau harus bayar (setara) USD 10 (Rp 140 ribu),’’ ancam pemuda itu. Fragmen itu diceritakan sendiri oleh Khabib sambil tersenyum dalam sebuah dokumenter berjudul The Dagestan Chronicles karya Will Harris.

Kampung halaman Khabib memang disebut-sebut sebagai daerah paling berbahaya di Eropa. Si tukang parkir liar tersebut bukannya tidak mengenal siapa Khabib. Tetapi, dia tetap harus bertahan hidup dengan caranya sendiri. ’’Aku bilang jangan USD 10, itu kemalahan. Bagaimana kalau USD 5? Dan kami sepakat. Aku tahu dia juga berlatih gulat dan kemampuannya sudah melampaui anak-anak seusianya,’’ kata Khabib.

Dia juga mengisahkan, setiap pulang kampung dan melewati sungai deras di dekat rumahnya, ingatan Khabib selalu kembali kepada masa kanak-kanak saat teman-temannya berlatih berenang. Jangan dibayangkan seperti berlatih seperti di klub profesioal. Mereka dipaksa orang tuanya dengan dilempar begitu saja ke dalam arus yang deras.

’’Dulu ada enam atau tujuh temanku yang meninggal karena berlatih renang di sini,’’ kenangnya.

Anak-anak di wilayah itu memang begitu akrab dengan kehidupan keras. Pada medio 2000 hingga 2016, pemberontakan sipil dari kelompok Chechnya masih kerap meletus. Ratusan korban dari pihak polisi, warga sipil, dan pemberontak jatuh nyaris setiap hari.

Kondisi tersebut juga yang membuat bangunan-bangunan paling bagus dan terawat di sana adalah pusat kebugaran alias gym. Di sana anak-anak mulai berusia 8 tahun berlatih gulat.

Salah satu gym itu milik Abdulmanap Nurmagomedov, ayah Khabib. Sang ayah yang mantan tentara sekaligus atlet judo dan sambo itu sampai harus menjual empat lembu ternaknya agar bisa mendirikan gym. Dan Abdulmanap adalah pelatih yang sangat keras untuk anaknya sendiri.

Dalam The Dagestan Chronicles, Khabib bercerita tentang kehidupan pribadinya. Dia lahir di desa pegunungan bernama Sildi. Saat itu, keluarganya tinggal di rumah sempit bersama 15 saudara kandung dan keponakannya yang lain.

Sejak mengalahkan Conor McGregor tahun lalu, tentu saja nama Khabib kini punya harta melimpah. Saat itu dia dibayar USD 2 juta (Rp 28 miliar). Sedangkan sebagai ganjaran mengalahkan Dustin Poirier Minggu lalu (8/9), bayarannya juga melonjak tiga kali lipat. Ayahnya menyebut angka Rp 85 miliar.

Kini Khabib memang menjadi pertarung UFC paling dinantikan penggemar sekaligus ditakuti lawan.

Tetapi, Khabib tetaplah Khabib. Dia sama sekali tak mengubah gaya hidupnya. Dengan bayaran miliaran rupiah, mobilnya pun masih Mercedes Benz lawas tipe W124 300E yang sudah tidak diproduksi lagi pada 1986. ’’Jujur, saat ini aku merasa terlalu terkenal. Semua orang datang meminta foto dan tanda tangan. Di saat-saat tertentu aku senang. Tapi, sesungguhnya aku sama sekali tidak menyukai ini semua,’’ ucapnya.

Dengan bayaran semelimpah itu sekali tanding, Khabib bisa saja hidup glamor di Amerika Serikat (AS) atau kota besar lainnya di Eropa. Tetapi, dia memilih pulang ke Makhachkala, Dagestan, tinggal bersama orang tuanya, istrinya yang sedang hamil, dan dua anaknya.

’’Aku berlatih keras untuk bertarung, tidak untuk menjadi terkenal,’’ ucap Khabib. ’’Ketenaran tidak berarti apa pun untukku. Ini malah bisa membuat fokusku hilang,’’ tambahnya.

Pada satu malam, Khabib boleh saja bertarung di venue supermegah macam T-Mobile Arena Las Vegas. Atau hadir di kota-kota mewah macam Abu Dhabi. Tapi, dia tetap akan pulang karena merindukan pedesaan Dagestan dan berlatih bersama beruang di kampung halamannya.

(jwp)